Belajar Bahasa Arab Untuk Orang Indonesia

17 Maret 2010

Belajar Bahasa Arab untuk Orang Indonesia
“Belajar Bahasa Arab untuk Orang Indonesia” (disingkat: Arabindo) adalah program belajar Bahasa Arab secara mandiri bagi pemula, yang mudah dipelajari oleh orang Indonesia yang paling awam dalam Bahasa Arab sekalipun. Syaratnya hanya satu, anda harus MAHIR dan GEMAR membaca al-Quran. Dengan modal tersebut, anda bisa mempelajari Bahasa Arab, yang merupakan Bahasa al-Quran al-Karim, Bahasa al-Hadits asy-Syarif dan Bahasa Persatuan Ummat Islam.

CD Computer Multimedia Interaktif Arabindo

Mulai Belajar Bahasa Arab Klik Disini

Download Ebook (PDF) Pelajaran Bahasa Arab

Ingin memuat materi “Belajar Bahasa Arab untuk Orang Indonesia” di website/blog anda? Klik di sini!
CD Multimedia Interaktif Belajar Bahasa Arab “Arabindo”

Adalah Program Multimedia Interaktif yang termuat dalam satu keping CD (Compact Disc). CD Arabindo memuat materi Pelajaran (Tata Bahasa), Percakapan, Bacaan, Ceramah dan Tayangan (Video) ditambah dengan sejumlah bonus software dan ebook seperti Quran Digital, Arabic-English Dictionary, ArabicPad, Kamus Mini Arabindo, Shaplus Google Translator, Arabic Keyboard, dll. CD Arabindo bisa langsung dijalankan dari CD (Autorun dan Portable) atau dicopy ke dalam hardisk.

sumber : Arabindo


tesis teman

15 Maret 2010

PERBANDINGAN PRESTASI BELAJAR SISWA
YANG MENGIKUTI DAN YANG TIDAK MENGIKUTI KEGIATAN KEPUTRIAN PADA BIDANG
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DI SMU NEGERI 1 MAJALENGKA

S K R I P S I
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam
Pada Program Studi Pendidikan Agama Islam Jurusan Tarbiyah
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Cirebon

MILA DIANA
No. Pokok. 97711007

C I R E B O N
2003 M./1423 H.

D A F T A R I S I

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
2. Pembatasan Masalah
3. Pertanyaan Penelitian
C. Tujuan Penelitian
D. Kerangka Pemikiran
E. Hipotesis
F. Langkah-langkah Penelitian
BAB II PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, PRESTASI BELAJAR,
DAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER
A. Pengertian, Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
B. Prestasi Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya
C. Kegiatan Keputrian di SMU Negeri 1 Majalengka
D. Keterkaitan antara Kegiatan Keputrian dengan Pengajaran
Pendidikan Agama Islam
BAB III KONDISI OBYEKTIF SMU NEGERI 1 MAJALENGKA
KABUPATEN MAJALENGKA
A. Sejarah Berdiri dan Perkembangannya
B. Keadaan Guru dan Siswa
C. Sarana dan Fasilitas
D. Kegiatan Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam
E. Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Kelas II
BAB IV KEGIATAN KEPUTRIAN DALAM MENUNJANG
PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI
SMU NEGERI 1 MAJALENGKA KABUPATEN MAJALENGKA
A. Keadaan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas II yang mengikuti kegiatan Keputrian di SMU Negeri 1 Majalengka Kabupaten Majalengka.
B. Keadaan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas II yang tidak mengikuti kegiatan Keputrian di SMU Negeri 1 Majalengka Kabupaten Majalengka.
C. Perbandingan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa yang mengikuti kegiatan Keputrian dengan yang tidak mengikuti.
BAB V KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

youtube.com/watch?v=ZiX5uPdNgXs

B A B I

P E N D A H U L U A N

A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah mahluk Allah SWT. yang dikaruniai akal untuk berpikir. Sehingga hal ini menjadikan manusia sebagai makhluk mulia dan diserahi tugas sebagai khalifah di muka bumi ini. Namun tugas sebagai khalifah ini tidak mudah seiring dengan potensi yang dimiliki manusia untuk berbuat baik dan buruk. Untuk dapat mewujudkan pribadi yang baik dan benar dalam rangka mendukung suksesnya tugas sebagai khalifah ini, seorang muslim harus dapat mempertahankan kemuliaannya salah satu caranya adalah dengan menuntut ilmu dalam waktu yang tidak terbatas selama hayat di kandung badan.
“ Faktor terbesar yang membuat mahluk manusia itu mulia adalah karena ia berilmu, ia dapat hidup tenang dan tenteram karena memiliki ilmu dan menggunakan ilmunya . Ia dapat mengusai alam ini dengan ilmunya iman dan taqwa dapat meningkat dengan ilmu juga, “ (Dzakiah Daradjat :1996 : 7) .

Sedangkan ilmu yang harus dimilki oleh setiap muslim dalam usahanya mencapai keberhasilan hidup di dunia dan akhirat diantaranya adalah melalui Pendidikan Agama Islam.Sehingga tidak heran jika kita banyak menemukan pembahasan tentang betapa pentingnya Pendidikan Agama Islam bagi seorang muslim bahkan penanamannyapun harus dilakukan sejak dini.
“Pendidikan agama sebagai suatu proses ikhtiariah manusia merupakan proses penanaman, pengembangan, dan pemantapan nilai-nilai keimanan yang menjadi fondamen mental spiritual manusia darimana sikap dan tingkah lakunya termanisfestasikan menurut kaidah-kaidah agamanya.” (H.M Arifin : 1995 : 214)

Sebagai disiplin ilmu , pelaksanaan pendidikan baik di jalur sekolah maupun di luar sekolah pada hakekatnya diarahkan untuk membentuk manusia agar memiliki kepribadian yang mencakup segi kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Di sekolah, Pendidikan Agama Islam merupakan tanggung jawab guru Pendidikan agama Islam. Seorang guru dikatakan berkualitas apabila ia dapat menampilkan kelakuan yang baik dalam usaha mengajarnya. Dalam hal ini diantaranya dengan mengusahakan suatu hubungan timbal balik antara guru dengan murid dalam suatu sistem pengajaran . Karena tercapainya tujuan proses belajar dan mengajar yang baik dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran, memerlukan terciptanya interaksi yang baik antara guru yang mengajar dengan murid yang belajar. Hal ini mengingat tidak mudahnya mewujudkan tujuan pendidikan yaitu :
“Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan,” (UUSPN : 1989 : 4).

Tersedianya sarana waktu merupakan salah satu komponen dasar dalam proses belajar mengajar. Semua mata pelajaran yang diberikan di setiap jenjang pendidikan sudah tentu telah disesuaikan dengan alokasi waktu yang memadai, termasuk Pendidikan Agama Islam.
Salah satu jenjang pendidikan yang juga memasukkan Pendidikan Agama Islam ke dalam kurikulumnya adalah jenjang pendidikan Sekolah Menengah Umum. Namun penyediaan waktunya yang hanya 2 (dua) jam pelajaran dalam seminggu ini, kurang bisa memberikan hasil yang memuaskan sehingga hal ini menjadikan alasan bagi SMU Negeri 1 Majalengka untuk menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler yang diharapkan bisa membantu siswa untuk lebih memahami materi pelajaran serta mendukung pencapaian prestasi siswa lebi baik lagi.
Berdasarkan studi pendahuluan, di SMU Negeri 1 Majalengka Kabupaten Majalengka, diselenggarakan suatu kegiatan ekstrakurikuler yang diberi nama Keputrian. Kegiatan ini diikuti oleh siswa putri saja itupun didominasi oleh kelas 2. Materi yang diberikan, selain mengacu pada kurikulum Pendidikan Agama Islam juga diberi tambahan lain. Dengan demikian yang menjadi masalah penelitian adalah apakah ada perbedaan atau tidak antara siswa yang mengikuti kegiatan keputrian dengan yang tidak mengikuti , dalam prestasi belajar Pendidikan Agama Islam di SMU Negeri 1 Majalengka kabupaten Majalengka.

B. Perumusan Masalah
Dalam perumusan masalah ini terbagi ke dalam 3 bagian yaitu :
1. Identifikasi masalah
a. Wilayah penelitian dalam penulisan ini adalah menyangkut evaluasi pendidikan.
b. Pendekatan penelitian yang dilaksanakan adalah dengan cara pendekatan empirik yakni berkenaan dengan perbandingan prestasi belajar siswa antara yang mengikuti kegiatan keputrian dengan yang tidak mengikuti dalam bidang studi Pendidikan agama Islam kelas 2 di SMU Negeri 1 Majalengka Kabupaten Majalengka.
c. Jenis masalah dalam skripsi ini adalah perbandingan prestasi antara siswa yang mengikuti kegiatan keputrian dengan yang tidak mengikuti dalam bidang studi Pendidikan agama Islam kelas 2 di SMU Negeri 1 Majalengka Kabupaten Majalengka.
2. Pembatasan Masalah
Dalam hal ini penulis memberikan batasan yaitu :
a. Kegiatan keputrian yang dimaksud adalah kegiatan tambahan dalam bidang Pendidikan Agama Islam yang diikuti oleh siswa putri.
b. Prestasi belajar yang dimaksud adalah penilaian akhir terhadap kemampuan siswa dalam menguasai bahan pengajaran yang telah diberikan.
c. Pendidikan Agama Islam yang dimaksud adalah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diberikan di sekolah.
3. Pertanyaan Penelitian
Dari permasalahan di atas, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian
sebagai berikut :
1. Bagaimanakah prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas II yang mengikuti kegiatan keputrian di SMU Negeri 1 Majalengka Kabupaten Majalengka ?
2. Bagaimanakah prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas II yang tidak mengikuti kegiatan keputrian di SMU Negeri 1 Majalengka Kabupaten Majalengka ?
3. Bagaimanakah perbandingan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa yang mengikuti kegiatan keputrian dengan yang tidak ?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas II yang mengikuti kegiatan keputrian di SMU Negeri 1 Majalengka Kabupaten Majalengka .
2. Untuk mengetahui prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas II yang tidak mengikuti kegiatan keputrian di SMU Negeri 1 Majalengka Kabupaten Majalengka.
3. Untuk mengetahui perbandingan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa yang mengikuti kegiatan keputrian dengan yang tidak .

D. Kerangka Pemikiran
“Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan tambahan di luar struktur program dilaksanakan di luar jam pelajaran biasa agar memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan siswa”. (B. Suryo Subroto :1997:27)

Kegiatan keputrian adalah salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan oleh Rohis di Sekolah Menengah Umum untuk mengarahkan siswa agar lebih memahami agama Islam dengan baik. Pelaksanaannya dilakukan dengan cara pemberian materi dan keterampilan yang pada hakikatnya bukanlah semata-mata transformasi pengetahuan bagi peserta didik, akan tetapi juga harus menyangkut aspek sikap dan kesadaran beragama maupun aspek keinginan untuk mengamalkannya ditengah-tengah lingkungan pergaulan, maupun di lingkungan masyarakatnya.
“Prestasi belajar sebagai kemampuaan-kemampuan yang dimiliki oleh setiap siswa ia menerima pengalaman belajar”. (Nana Sudjana : 1999 : 22).

Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar misalnya : lingkungan sekolah, lingkungan rumah, pribadi siswa itu sendiri, pergaulan siswa sehari-hari, dan pengalaman di Sekolah. Sedangkan apabila dilihat dari guru sebagai fokus, faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa ini adalah : kurikulum, metode, sarana dan konteks. Dan biasanya, kegiatan ekstrakurikuler disusun bersamaan dengan penyusunan kisi-kisi kurikulum dan materi pelajaran.
Kegiatan ekstrakurikuler bertujuan untuk menigkatkan kemampuan siswa dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Juga sebagai sarana untuk mengembangkan bakat dan minat siswa dalam upaya pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia seutuhnya yang positif. Disamping itu, bagi siwa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler berhak atas nilai yang dinyatakan dalam Raport. Bahkan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelajaran di Sekolah dan kelulusan siswapun dipengaruhi oleh aktivitasnya dalam kegiatan ekstrakurikuler tersebut.
Sistematika kerangka pemikiran ini, penulis gambarkan dalam skema berikut :

E. Hipotesis

Siswa yang mengikuti kegiatan keputrian akan mempunyai prestasi belajar Pendidikan Agama Islam lebih baik dibandingkan dengan siswa yang tidak mengikuti.
F. Langkah-langkah Penelitian

Dalam penelitian ini , penulis menentukan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Jenis dan Sumber Data
a. Jenis Data
Berdasarkan jenisnya data penelitian ini terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif .Data kualitatif dikumpulkan dengan cara observasi dan wawancara serta akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan logika. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dengan menggunakan studi dokumentasi serta akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan statistik sederhan
Berdasarkan sifatnya, data dalam penelitian ini bersumber dari :
1).Data teoritik, diambil dari buku yang ada relevansinya dengan judul skripsi ini.
2).Data empirik, diambil dari lapangan / lokasi penelitian, yaitu dari Kepala Sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, Staf karyawan TU dan para siswa kelas II SMU Negeri 1 Majalengka Kabupaten Majalengka.
c.Populasi dan Sampel
1) Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas II semester 1 pada tahun pelajaran 2002/2003 SMU Negeri 1 Majalengka yang berjumlah 228 orang dari 9 kelas yang ada.
2) Sampel yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 80 siswa yang diambil secara acak (random) jumlah ini setara dengan 40 % dari
jumlah siswi yang seluruhnya berjumlah 228 siswi. Sampel dibagi dua
satu kelas peserta keputrian dan satu kelas lagi bukan peserta
keputrian.Hal ini didasarkan pada pendapat Suharsimi Arikunto(1996 : 120) tentang sampling random.
2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik-teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis dalam penelitian ini adalah :
a. Studi kepustakaan, yaitu pengumpulan data yang bersifat teoritik dari
buku-buku yang berhubungan dengan masalah-masalah yang diteliti.
b. Observasi, yaitu pengumpulan data melalui pengamatan langsung ke lokasi yang diteliti.
c. Studi dokumentasi, yaitu menginventarisasi data-data dari dokumen-dokumen atau catatan yang berhubungan dengan masalah penelitian.
d. Wawancara, yaitu dialog sepihak dengan Kepala Sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, dan siswa kelas II SMU Negeri 1 Majalengka Kabupaten Majalengka.
3. Teknik Analisis Data
a. Menggunakan logika
Untuk jenis data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara akan dianalisis dengan menggunakan logika.
b. Mengumpulkan data nilai siswi yang mengikuti keputrian dengan yang tidak mengikuti, kemudian menghitung rata-rata nilai dari masing-masing kelompok tersebut dengan menggunakan rumus :

Mx = Fx Keterangan :
N Mx = Mean yang kita cari
Fx = Jumlah dari hasil perkalian
Antara masing-masing sekor
Dengan frekuensinya
N = Number of cases

c. Menggunakan Rumus tes “t”
Rumus : t = M1-M2
SE M1-M2
Keterangan :
t = Harga kritik
M1 = Mean Variabel X
M2 = Mean Variabel Y
SE M1-M2 = Standar error perbedaan mean variabel X dan mean variabel Y.
(Anas Sudijono, 1999 : 269).

BAB II
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, PRESTASI BELAJAR DAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

A. Pengertian, Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Secara etimologis, pendidikan adalah terjemah dari kata paedagogik. Paed berarti anak, agog berarti ilmu, jadi pengertian pendidikan secara bahasa ialah ilmu tentang anak. Dalam bahasa Inggris pendidikan diterjemahklan menjadi education berasal dari bahasa Yunani. Educare yang berarti membawa keluar yang tersimpan dalam jiwa, untuk dituntun agar tumbuh dan berkembang.
Ahmad Tafsir (1995 : 6) berpendapat bahwa pendidikan adalah usaha meningkatkan diri dalam segala aspeknya. Dalam arti yang melibatkan guru maupun tidak melibatkan guru, pendidikan formal maupun nonformal serta informal, dan segi yang dibina adalah seluruh aspek kepribadian.
Sedangkan menurut Marimba (1989: 19) pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Pengertian di atas adalah bahwa pendidikan merupakan proses pemberian bimbingan atau bantuan yang dilakukan secara sadar oleh orang dewasa terhadap anak agar berkembang jasmani dan rohaninya menuju kedewasaan.
Secara etimologis, kata Islam memiliki banyak pengertian antara lain :
1. Kata Islam yang berasal dari kata kerja aslama (أَسْلَمَ ) yuslimu (يُسْلِمُ) dengan pengertian menyerahkan diri, menyelamatkan diri, taat, patuh dan tunduk.
2. Kalau dilihat dari segi kata dasar salima (سَلِمَ ) mengandung pengertian antara lain ; Selamat, sejahtera, bersih, dan bebas dari cacat/cela.
3. Sedangkan kalau dilihat dari kata dasar salam (سَلَمْ) berarti damai, aman, dan tenteram, (Zuhairini : 1992 :35).
Dengan demikian, Islam diartikan sebagai agama yang mengajak umat manusia untuk menempuh jalan keselamatan, dengan jalan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan melaksanakan dengan penuh kepatuhan dan ketaatan akan segala ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh-Nya, untuk mencapai kesejahteraan dan kesentausaan hidup dengan penuh keamanan dan kedamaian.
Dari pengertian pendidikan dan pengertian Islam di atas, muncul beberapa pengertian pendidikan islam dalam rumusan-rumusan yang berbeda yaitu : Ahmad Tafsir (1992 : 32) mengemukakan bahwa pendidikan Islam ialah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran islam. Sedangkan menurut Zuhairini (1995:!52) pendidikan Islam adalah usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak yang sesuai dengan ajaran islam, atau suatu upaya dengan ajaran islam memikir, memutuskan dan berbuat berdasarkan nilai-nilai islam.
Dari pengertian-pengertian pendidikan islam di atas, pada hakekatnya memilki makna yang sama yaitu adanya proses pemberian bimbingan dari orang dewasa kepada anak agar menjadi pribadi yang utama berdasarkan nilai-nilai agama islam.

2. Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan adalah suatu kegiatan yang sadar akan tujuan. Dengan demikian tujuan merupakan salah satu hal yang penting dalam kegaiatan pendidikan . Menurut Hasan Langgulung ( 1986 : 67) tujuan pendidikan islam adalah pembentukan pribadi khalifah bagi anak didik yang memilki fitrah , roh disamping badan, kemauan yang bebas, dan akal. Sedangkan Ahmad Tafsir menyebutkan bahwa tujuan umum pendidikan islam ialah Muslim yang sempurna, atau manusia yang taqwa, atau manusia yang beribadah kepada Allah s.w.t.
Sebagaimana firman Allah dalam Qur’an Surat Al-Dzariyat ayat 56

Artinya : “ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku,” (Hasybi Asysyidiqi : 862 ).
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkanbahwa pendidikan islam adalah bertujuan membentuk muslim yang sempurna yang memiliki :
1. Jasmani yang sehat dan kuat
2. Akalnya cerdas serta pandai
3. Hatinya taqwa kepada Allah

3. Dasar Pendidikan Islam
Sebagai aktifitas yang bergerak dalam bidang pendidikan dan pembinaan kepribadian, tentunya pendidikan islam memerlukan landasan kerja untuk memberi arah bagi programnya . Dalam hal ini dasar pendidikan agama islam adalah Al-Qur’an dan Hadits. Dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syura ayat 52 Allah berfirman :

Artinya : “Dan demikian Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an)dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah alkitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang kami beri petunjuk dengan dia siapa yang kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kami benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang benar.”
Hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya :
“Sesungguhnya orang Mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta menasihati pula akan dirinya sendiri, menaruh perhatian serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia. “

Dari ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi di atas dapat diambil titik relevansinya dengan atau sebagai dasar pendidikan agama, yaitu :
1. Bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk ke arah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk ke arah jalan yang diridloi Allah swt.
2. Menurut Hadits Nabi, bahwa diantara sifat orang mu’min ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan islam.
3. Al-Qur’an dan Hadits tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan dan pendidikan islam. (Zuhairini : 1992 : 153).
Disamping Al-Qur’an dan Hadits, di Indonesia secara formal pendidikan mempunyai dasar dan landasan yang kuat yaitu pancasila yang merupakan dasar setiap tingkah laku dan kegiatan bangsa Indonesia dan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila yang pertama. Dasar pokok pendidikan itu menegaskan bahwa pendidikan itu adalah untuk mendidik akhlaq dan jiwa mereka. Juga harus ditanamkan rasa keutamaan, membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi.
( Jalaluddin : 1997 : 119).

B. Pengertian Prestasi Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya
Istilah prestasi belajar terdiri dari dua kata , yaitu prestasi dan belajar. Dalam kamus bahasa Indonesia kontemporer (1991 : 1190) disebutkan bahwa prestasi adalah hasil yang diperoleh dari sesuatu yang dilakukan . Menurut Witherington (dalam M. Ngalim Purwanto : 1998 :84) mengatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan , sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.
Dari definisi di atas mengisyaratkan bahwa belajar merupakan suatu proses aktivitas yang dapat membawa perubahan pada individu , baik dari segi kebiasaan, pengetahuan maupun sikap. Seseorang belajar kalau ada perubahan dari tidak tahu menjadi tahu , dalam menguasai ilmu pengetahuan. Lalu apakah prestasi belajar itu ?
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Dan untuk mengetahui sejauh mana prestasi belajar telah dicapai, maka harus dilakukan penilaian hasil belajar. Menurut Nana Sudjana (1989 : 3) bahwa penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hasil belajar siswa pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku yang mencakup tiga bidang yaitu bidang kognitif, apektif, dan psikomotorik, yang kesemuanya itu saling berhubungan satu sama lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prestasi belajar ialah hasil yang telah dicapai dari penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.
Prestasi belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor itu ada yang berasal dari dalam diri anak maupun dari luar dirinya. Roestiyah N.K (1982 : 159) mengklasifikasikan faktor yang mempengaruhi hasil belajar sebagai berikut :
a. Faktor Internal, ialah faktor yang timbul dari dalam anak itu sendiri. Seperti kesehatan, rasa aman, kemampuan, minat dan sebagainya. Faktor ini berujud juga sebagai kebutuhan dari anak itu.
b. Faktor External , ialah faktor yang datang dari luar diri si anak Seperti kebersihan rumah, udara yang panas, lingkungan dan sebagainya.
Lebih lanjut lagi , Slameto (1995 : 54) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan , yaitu faktor intern dan faktor ekstern .
1. Faktor Intern
a. Faktor jasmaniah , yang meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh.
b. Faktor psikologis, meliputi intelegensi, minat, bakat, motif dan kesiapan.
c. Faktor kelelahan.
2. Faktor Ekstern
a. Faktor keluarga, yang mencakup bagaimana orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan.
b. Faktor sekolah, meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah dan sebagainya.
c. Faktor masyarakat , meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, mas media dan teman bergaul.
Sedangkan menurut Ngalim Purwanto (1992 : 107) bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar pada setiap orang adalah :
1. Faktor Luar
a. Lingkungan : alam, sosial.
b. Instrumental : kurikulum/bahan pelajaran, guru/pengajar, sarana dan fasilitas, administrasi/manajemen.
2. Faktor Dalam
a. Fisiologi : kondisi fisik, kondisi panca indera.
b. Psikologi : bakat, minat, kecerdasan, motivasi, kemampuan kognitif.
Di dalam keseluruhan ini, maka instrumental input merupakan faktor yang sangat penting pula dan paling menentukan dalam pencapaian hasil / out put yang dikehendaki, karena instrumental input inilah yang menentukan bagaimana proses belajar mengajar itu akan terjadi dalam diri si pelajar.

C. Keterkaitan Antara Kegiatan Ekstrakurikuler dengan Pengajaran Pendidikan Agama Islam
Kegiatan ekstrakurikuler dimaksudkan untuk mengembangkan salah satu bidang pelajaran yang diminati oleh sekelompok siswa, misalnya olah raga, kesenian, berbagaimacam keterampilan,tak terkecuali Pendidikan Agama Islam, yang dilaksanakan di sekolah di luar jam pelajaran biasa.
Kegiatan ekstrakurikuler yang merupakan seperangkat pengalaman belajar memiliki nilai-nilai manfaat bagi pembentukan kepribadian siswa. Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler ini adalah :
(1). Kegiatan ekstrakurikuler harus dapat meningkatkan kemampuan siswa beraspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
(2). Mengembangkan bakat dan minat siswa dalam upaya pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia seutuhnya yang positif.
(3). Dapat mengetahui, mengenal serta membedakan antara hubungan satu pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.
Mengenai prinsip –prinsip program ekstrakurikuler, diantaranya adalah :
1. Semua murid, guru dan personel administrasi hendaknya ikut serta dalam usaha meningkatkan program.
2. Kerjasama dalam tim adalah fundamental
3. Pembatasan-pembatasan untuk partisipasi hendaknya dihindarkan.
4. Prosesnya adalah lebih penting daripada hasil.

5. Program hendaknya cukup komprehensif dan seimbang, dapat memenuhi kebutuhan dan minat semua siswa.
6. Program hendaknya memperhitungkan kebutuhan khusus sekolah.
7. Program harus dinilai berdasarkan sumbangannya kepada nilai-nilai pendidikan di sekolah dan efisiensi pelaksanaannya.
8. Kegiatan ini hendaknya menyediakan sumber-sumber motivasi yang kaya bagi pengajaran kelas, sebaliknya pengajaran kelas hendaknya juga menyediakan sumber motivasi yang kaya bagi kegiatan murid.
9. Kegiatan ekstrakurikuler ini hendaknya dipandang sebagai integral dari keseluruhan program pendidikan di sekolah, tidak sekedar tambahan atau sebagai kegiatan yang berdiri sendiri.
Partisipasi dari semua pihak di lingkungan sekolah sangat membantu terlaksananya program ekstrakurikuler ini, partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosi serta pisik anggota dalam memberikan inisiatif terhadap kegiatan-kegiatan yang dilancarkan oleh organisasi serta mendukung pencapaian tujuan dan bertanggung jawab atas keterlibatannya.
Partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler akan memberikan manfaat yang penting bagi keberhasilan tujuan program itu sendiri yaitu : lebih memungkinkan diperolehnya keputusan yang benar karena banyaknya sumbangan pikiran, pengembangan potensi diri dan kreativitas, adanya penerimaan yang besar terhadap perintah yang diberikan dan adanya perasaan diperlukan, dan melatih untuk bertanggung jawab serta mendorong untuk membangun kepentingan bersama. Jadi jelaslah bahwa faktor partisipasi dalam kehidupan organisasi kerja seperti sekolah dalam bentuk program ekstrakurikuler adalah penting karena berpengaruh positif bagi kepemimpinan guru dan kepala sekolah serta peningkatan program pendidikan.
Sedangkan yang dapat mempengaruhi partisipasi siswa dalam suatu program antara lain adalah adanya daya tarik dari objek yang bersangkutan, karena diperintahkan untuk berpartisipasi, dan adanya manfaat bagi dirinya. Dengan demikian kegiatan ekstrakurikuler sebagai organisasi siswa di sekolah, agar dapat melibatkan semua siswa di sekolah,harus menyelenggarakan jenis kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan memiliki kemanfaatan bagi dirinya sebagai sarana pendewasaan diri dan penyaluran bakat-bakat potensial mereka.
Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah akan memberikan banyak manfaat tidak hanya terhadap siswa, tetapi juga bagi efektivitas penyeleggaraan pendidikan di sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler mampu memberikan sumbangan yang berarti bagi siswa, bagi pengembangan kurikulum dan bagi masyarakat. Karena pada dasarnya penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler dalam dunia persekolahan ditujukan membangkitkan semangat , dinamika dan optimisme siswa sehingga mereka mencintai sekolahnya dan menyadari posisinya di tengah-tengah masyarakat.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa kegiatan ekstrakurikuler khususnya yang berhubungan dengan pelajaran, memiliki keterkaitan dengan pengajaran Pendidikan Agama Islam, sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah. Hal ini juga sejalan dengan tujuan penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam di sekolah lanjutan seperti yang di tulis (Zakiah Daradjat :1995 :96) bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam di sekolah lanjutan adalah memberikan bekal agama Islam lebih lanjut, dalam rangka pengamalan, dan penghayatannya dalam kehidupan, pendidikan Agama Islam diberikan secara mendalam . Di samping itu diberikan pula nilai-nilai agama islam dalam hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan hubungan manusia dengan alam. Serta mulai diberikan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits, perlu pula diperluas pengetahuan tentang hubungan agama dengan ilmu pengetahuan dan dengan kepentingan masyarakat.

BAB III
KONDISI OBYEKTIF SMU NEGERI I MAJALENGKA
KABUPATEN MAJALENGKA

A. Sejarah Berdiri dan Perkembangan SMU Negeri I Majalengka Kabupaten Majalengka
Sekolah adalah suatu lembaga yang bertujuan mempersiapkan anak untuk hidup sebagai anggota masyarakat yang sanggup berpikir sendiri dan berbuat efektif. Sekolah Menengah Umum merupakan salah satu Lembaga Pendidikan yang ditetapkan sebagai program pemerintah agar setiap warga memiliki bekal pendidikan “Secara Formal” minimal pada tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Umum. Apalagi mengingat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang semakin berkembang pesat dari hari ke hari. Dan untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas di perlakukan sarana pendidikan yang memadai.
Bertolak dari kepentingan tersebut, warga kota Majalengka merasakan kebutuhan akan keberadaan sebuah lembaga (sekolah) bagi putra-putri mereka untuk tingkat lanjutan Atas.
Disamping itu untuk menampung murid-murid yang telah lulus ujian akhir SMP Negeri tahun pengajaran 1960/1961, maka di pandang perlu dibuka SMA-. SMA Negeri baru untuk tahun pengajaran 1961/1962. akhirnya dimulailah kegiatan belajar mengajar di SMA dengan jumlah sebanyak empat kelas. Dan untuk sementara proses belajar mengajar berlangsung di SMA Kuningan, dengan pemberian nama SMA Negeri ABC. Tidak lama kemudian dibangunlah gedung baru untuk SMA tersebut dengan SK Pendirian Nomor : 135/S.K./III/ tanggal 29 Agustus sekaligus dengan mencantumkan status Negeri pada SMA itu.
Dalam perkembangannya SMU Negeri I Majalengka ini, dari sejak berdirinya sampai sekarang telah dipimpin oleh sepuluh orang yaitu:
1. Drs. Burdah Natadiwirja 1961 – 1966
2. A. Suwarmandirasastra, BA 1967 – 1975
3. Sirod, BA 1975 – 1977
4. Endi Suhenda, BA 1978 – 1980
5. Abdul Hamid Arief, BA 1981 – 1983
6. Shaali Wahju Ruswan, Ba 1984 – 1987
7. Drs. M. Djadja Kardja 1988 – 1990
8. H. Kuslan, BA 1991 – 1995
9. Drs. Atta Suharyat 1995 – 2000
10. Drs. Wahab Sudinata 2000 – Sekarang
Dalam perkembangan selanjutnya, SMU Negeri I Majalengka telah mengalami kemajuan dari tahun ketahun. Berkat kerjasama semua komponen di SMU ini, kini lembaga pendidikan ini telah menjadi SMU yang maju dan patut diperhitungkan di antara SMU – SMU yang ada di Kabupaten Majalengka bahkan di tingkat propinsi. Dan di usianya yang ke 41 tahun ini, SMU Negeri I Majalengka telah berdiri kokoh dengan sederetan prestasi yang patut dibanggakan. Bahkan prestasi sebagai “SMU yang bermutu tinggi” menjadi salah satu bukti tingginya penghargaan propinsi Jawa Barat terhadap lembaga pendidikan ini. Di tambah lagi dengan prestasi salah seorang kepala Sekolah yang kini sedang menjabat di SMU ini dengan penghargaan sebagai “Kepala Sekolah yang berprestasi tinggi” pada tahun 2002.

B. Letak Geografis
SMU Negeri I Majalengka memiliki gedung sendiri yang terletak cukup strategis. Bangunnya berdiri di atas tanah seluas ± 17.900 m2, dengan batas lingkungannya sebagai berikut:
– Sebelah Utara berbatasan dengan Kavling warga SMU .
– Sebelah Timur berbatasan dengan perumahan penduduk.
– Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan raya KH. Abdul Salim.
– Sebelah Barat berbatasan dengan Kantor Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Majalengka.

C. Keadaan Guru, Karyawan dan Siswa
1. Keadaan Guru
Sebagaimana guru-guru di sekolah lainnya, guru-guru di SMU Negeri I Majalengka memiliki tanggung jawab dan tugas yang sama. Oleh karena itu, mereka diharapkan mampu membina dan mengembalikan anak didik ke arah yang dicita-citakan oleh orang tua, masyarakat dan negara pada umumnya. Untuk itu, diperlukan guru-guru yang memiliki kemampuan dalam mendidik siswanya disamping syarat keilmuan mereka yang paling utama. Dalam hal ini SMU Negeri I Majalengka dapat dikategorikan telah memenuhi syarat tersebut. Guru-guru di Lembaga itu seluruhnya adalah lulusan dari Lembaga kependidikan tingkat Perguruan Tinggi, baik sarjana penuh maupun sarjana muda.
Untuk lebih jelasnya data tentang keadaan guru di SMU Negeri I Majalengka Kabupaten majalengka dapat dilihat pada table berikut ini :
Tabel 1
KEADAAN GURU SMUN I MAJALENGKA
TAHUN PELAJARAN 2002 / 2003
NO NAMA JABATAN/GOL. PEND. / TH. MATA PELAJARAN
1 2 3 4 5
1.
2.
3.
4.
5
6
7
8
9. Drs. Wahab Sudinata, MM
Drs. M. Muslim
Moh. Mahali, S.Pd
Dra. Tati Aries R.
Dra. Nani Suwarni
Drs. Asep Sutisna
Drs. Chaerul Huda AG
Drs. Ade Dodi Mardianto
Drs. Agus Sukmajaya Guru Pembina, IV/a
Guru Dewasa, IV/b
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a S.2 / 2000
S.1 / 1982
S.I /UT 1994
S.I/ IKIP 1978
S.I/IKIP 1983
S.I/IKIP 1985
S.I/IKIP 1983
S.I/IKIP 1986
S.I/IKIP 1985 Supervisi/PPKn
Agama Islam
Bahasa Indonesia
Bahasa Inggris
Bahasa Indonesia
Ekonomi/Akuntansi
Ekonomi
Penjaskes
Penjaskes
1 2 3 4 5
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28. Dra. Nur Fitriah
Dra. Dede Sumiati
Dra. Anarita
Dra. Switri T.
Drs. Emi R. Alma
Drs. Omon Dede
Drs. Dedi Suarjono
Drs. H. Uton hartono SG
Nani Nuraeni, BA.
Drs. Zaenal Mutaqin
Dra. Rukian
Neni Yumaeni M,S.Pd.
Drs. Teja Sukmana, M.Pd.
Eer Maerah, S.Pd.
Obaj Sobari, BA
Rosiah Zakaria
Drs. E. Suganda
Khaerani
Imam Yustiarto, S.Pd. Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d S.I/IKIP 1982
S.I/IKIP 1979
S.I/IKIP 1985
S.I/IKIP 1987
S.I/IKIP 1988
S.I/IKIP 1990
S.I/IKIP 1985
S.I/Unswagati 1985
Sarmud/IKIP 1973
S.I/UT 1981
S.I/IKIP 1981
S.I/IKIP 1980
S.2/IKIP 2000
S.I/UNMA 2001
Sarmud/IKIP 1966
D3/IKIP 1983
S.I/STAI 1983
D.3/IKIP 11983
S.1/IKIP 1984 Bahasa Indonesia
Bahasa Inggris
Sosiologi
Geografi
Ekonomi
Bahasa Inggris
Antropologi
BK / BP
Perpustakaan
Bahasa Indonesia
Ekonomi/Akuntansi
Ekonomi/Akuntansi
Geografi
BK / BP
Sejarah/ Nas. Budaya
SNU
Pendidikan Agama
Matematika
Matematika
1
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41. 2
Drs. Rostiyana
Widya Indriana
Edi Supriatna
Drs. Cucu Rukmadi
Endi Affandi, S.Pd.
Yani Mulyani, S.Pd.
Hamid Kamar, S.Pd.
Tedy Seriadi, S.Pd.
Drs. Didik Sedyadi
Yayan Maryanah, S.Pd.
Dian Riyanti Sutrisno
Wawan Ridwan, S.Pd
Dedeh Ratnadiana, S.Pd. 3
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/d
Guru Dewasa, III/c 4
S.I/UNPAS 1988
D.3/IKIP 1980
D.3/IKIP 1983
S.1/IKIP 1997
S.1/UT 2000
S/1UT 2001
S.I/UT 1994
S.I/UT 1997
S.I/IKIP 1989
S.I/UNMA 2001
D.3/IKIP 1986
S.I/IKIP 1987
S.1/IKIP 2001 5
Biologi
PMP
PMP
Bahasa Inggris
Fisika
Kimia
Kimia
Kimia
Matematika
Bahasa Indonesia
Penjaskes
Fisika
Bahasa Indonesia
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
1
49.
50.
51.
52.
53.
54. Yunus Mulyana, S.Pd.
Konok, S.Ag.
Dana Juanda
M. Eka Juniar A, S.Pd.
Ema Hermawati, S.Pd.
Dra. Ai Nurlina
Rojulin, S.Pd.
2
Drs. Benny Rubiandi
Drs. Henda Suhenda
Darmawan, S.Pd.
Drs. Nina Marliana
Tedi Gumilar, S.Pd.
Ela Nurlaela, S.Pd. Guru Dewasa, III/c
Guru Dewasa, III/c
Guru Dewasa, III/c
Guru Dewasa, III/c
Guru Dewasa, III/c
Guru Dewasa, III/c
Guru Dewasa, III/c
3
Guru Dewasa, III/c
Guru Dewasa, III/c
Guru Dewasa, III/c
Guru Dewasa, III/c
Guru Dewasa, III/c
Guru Madya, III/b S.I/UNMA 2001
S.I/STAI 1995
D.3/IKIP 1987
S.I/IKIP 1989
S.I/IKIP 1995
S.I/UNSIL 1991
S.I/IKIP 1993
4
S.I/IKIP 1991
S.I IKIP 1992
S.I/UT 1995
S.I/IKIP
S.I/IKIP 1994
S.I/IKIP 1991 Penjaskes
Pendidikan Agama
Kesenian
Matematika
Biologi
Matematika
Bahasa Indonesia
5
Kesenian
SNU
Matematika
Bahasan Indonesia
Fisika
Kimia
55. Rosa Darma Guru Madya, III/b D.3/IKIP 1990 Matematika
56.
57.
58.
59.
60.
62.
63.
64.
65. Dra. Farida Noorma
Momi Rosarita, L.S.Pd.
Euis Leli Dalilah, S.Pd.
Syarif Bastaman, BA
Teddi Kusnadi, S.Ag
Dede Putu S. Arga, S.Pd
Epi Sri Rahayu, S.Pd
M. Rachman, S.Pd
Despanora, S.Pd Guru Madya, III/b
Guru Madya, III/b
Guru Madya, III/b
Guru Dewasa, IV/a
Guru Dewasa, IV/a
S.I/IKIP 1993
S.I/IKIP 1994
S.I/UT 2000
Sarmud/IKIP 1970
S.I/STAI 1994
S.I/IKIP 2000
S.I/IKIP 2000
S.I/IKIP 1999
S.I/IKIP 2001 Bahasan Indonesia
Bahasa Jerman
Biologi
PPKn
Pendidikan Agama
Fisika
Biologi
Fisika
Bahasa Inggris
Sumber data TU SMUN I Majalengka Tahun Pelajaran 2002 / 2003
2. Keadaan Karyawan
SMUN I Majalengka memiliki beberapa orang karyawan yang bekerja membantu proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Mereka bekerja sama dengan guru-guru dan kepala sekolah terutama yang menyangkut administratif. Para keryawan tersebut lebih dikenal dengan Pegawai tata usaha sekolah.
Untuk lebih jelasnya data tentang keadaan karyawan ini dapat dilihat pada table berikut:

Tabel. 2
KEADAAN KARYAWAN SMUN I MAJALENGKA
TAHUN 2002 / 2003
NO NAMA JABATAN PEND./TH GOL. KET.
1 2 3 4 5 6
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
1
11.
12.
13. Rahmat Soleh
Imas Masnu’ah
Udin Sabarudin
Iman Sukiman P.
Djodjo Misdja
Hj. Popong Diah M.
Wawan Sukarwan
Karto
Komarudin
Mulyana
2
Ardja
Uus Kusmiati
Imas Masitoh Kepala TU
Staf TU
Staf TU
Staf TU
Staf TU
Staf TU
Staf TU
Staf TU
Staf TU
Staf TU
3
Penjaga
Staf TU
Perpustakaan SLTA, 1982
SLTA, 1979
SLTA, 1974
SLTA, 1984
SLTA, 1984
SLTA, 1996
SLTA 1993
ST. Mesin 1975
SLTA 2001
SD 1963
4
SD 1968
SPG 1988
YPPM 2000 III/a
III/b
III/a
III/a
II/d
II/c
II/b
II/b
II/b
II/a
5
I/b
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
6
-
Honorer
Honorer
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21. Alih Rusmaah
Neni Hendriyani
Sri Kania
Teti Erayati Ensa
Dian Budiyanti
Karwan
Maksum
Oman Somarhudi Bag. Kopgur
Perpus
Kop. Siswa
Kopgur
Kop. Siswa
Penjaga
Penjaga Penjaga SMEA 1996
Perpus 1998
SMEA 1998
SPG 1989
SLTA 1998
SD 1996
SD 1998
SD 1998
Honorer
Honorer
Honorer
Honorer
Honorer
Honorer
Honorer
Honorer

Untuk menciptakan proses belajar mengajar yang baik diperlukan kerjasama diantara seluruh personil yang terdapat di SMU N I Majalengka mulai dari Kepala Sekolah, Staf Guru, Guru BP, para Pembina dan karyawan TU masing-masing bekerja sesuai dengan tugas dan kewajibannya dan yang pasti sesuai dengan koridor yang semestinya serta aturan main yang berlaku dan disepakati bersama.
Berdasarkan hal tersebut, untuk memperjelas dan memastikan jalur koordinasi antara satu personil dengan personil lainnya serta untuk menghindari terjadinya tumpang tindih tugas dan kewajiban diantara mereka, maka diperlukan adanya susunan Organisasi di SMUN I Majalengka. Mengenai susunan organisasi di SMUN I Majalengka dapat dilihat pada tabel berikut ini:
STRUKTUR ORGANISASI
SMU NEGERI I MAJALENGKA

3. Keadaan Siswa
Siswa merupakan salah satu syarat yang dianggap penting dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar karena untuk merekalah lembaga pendidikan didirikan.
Siswa-siswa SMU Negeri I Majalengka berjumlah 1172 orang mereka terbagi kepada tiga kelas yaitu kelas I, II, dan III. Masing-masing kelas terbagi lagi kepada beberapa bagian berdasarkan jumlah siswa dan kapasitas jumlah siswa per kelas.
Untuk perincian kelas serta jumlah siswa masing-masing kelas dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3
PERINCIAN JUMLAH SISWA SMUN I MAJALENGKA
TAHUN PELAJARAN 2002 / 2003
Kelas L P Jumlah
1 2 3 4
I.1
I.2
I.3
I.4
I.5
I.6 16
17
16
16
15
17 24
26
24
26
27
25 40
43
40
42
42
42
1 2 3 4
I.7
I.8
I.9
I.10 19
16
18
16 21
26
24
24 40
42
42
40
Jml Kelas I 166 247 413
II.1
II.2
II.3
II.4
II.5
II.6
II.7
II.8
II.9 19
15
21
19
14
18
21
16
14 24
28
22
25
28
26
22
25
28 43
43
43
44
42
44
43
41
42
Jml. Kelas II 157 228 385
IPA.1
IPA.2
IPA.3
IPA.4
IPS.1 22
14
19
20
20 16
26
20
18
26 38
40
39
38
46
1 2 3 4
IPS 2
IPS 3
IPS 4
Bahasa 14
15
22
20 32
31
24
15 46
46
46
35
Jml. Kelas III 166 208 374

Siswa-siswa yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswa kelas II yang berjumlah 385. sedangkan yang dijadikan sampel adalah 40 % -nya saja.
Para siswa SMUN I Majalengka bukan saja anak-anak dari Kabupaten Majalengka, tetapi ada juga anak-anak dari luar Kabupaten Majalengka bahkan dari luar propinsi.
Disamping mengikuti kegiatan proses belajar mengajar, siswa-siswa juga mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang diselenggarakan pihak sekolah sesuai dengan bakat dan minat mereka masing-masing. Kegiatan ekstrakulikuler tersebut diantaranya :
a. Oleh Raga
b. Pramuka
c. PMR (Palang Merah Remaja)
d. PKS (Patroli Keamanan Sekolah)
e. Paskibra
f. Ganapala (Pecinta Alam)
g. KIR (Karya Ilmiah Remaja)
h. Electro
i. Seni
j. Penyiaran
k. Keagamaan

D. Keadaan Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasana adalah faktor penting untuk mendukung terciptanya pendidikan dan pengajaran yang efektif dan efisien. Dapat pula dikatakan sarana dan prasarana pendidikan merupakan modal dasar terselenggaranya pendidikan dan pengajaran di lembaga / sekolah yang bersangkutan.
Adapun sarana dan prasarana yang tersedia di SMU Negeri I Majalengka dapat diliihat pada table di bawah ini .
Tabel. 4
KEADAAN SARANA GEDUNG SMU NEGERI I MAJALENGKA
TAHUN PELAJARAN 2002/2003
NO RUANG JUMLAH LUAS (m2) STATUS
1 2 3 4 5
1. Kelas 28 2576 Milik
1 2 3 4 5
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21. Labolatorium
Perpustakaan
Lapangan Olah Raga
Kepala Sekolah
Wakil Kepala Sekolah
Guru
BP/BK
Masjid
OSIS
PMR
Ganapala
KIR
Koperasi Siswa
Band
Pramuka
Komputer Praktek
Komputer Bag. Kurikulum
Koperasi Guru
Gudang
Kantin 5
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1 521
541
11696
58
46
189
85
130
38
12
12
12
64,5
38
12
54
12
64,5
71,2
74 Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
1 2 3 4 5
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28. WC. Kep. Sekolah
WC. Guru
WC Siswa
Ruang Satpam
Ruang Piket Guru
Aula
Lapangan Tenis/Basket 1
1
1
1
1
1
1 4
32
60
9
9
504
1200 Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik

E. Kegiatan Belajar Mengajar PAI
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pendidikan agama Islam di kelas II SMU Negeri I Majalengka berlangsung selama 90 menit (2 jam pelajaran) pada tiap minggunya. Guru PAI menyampaikan materi berdasarkan kurikulum tahun 1994 Suplemen GBPP 1999.
Jadwal pelajaran PAI pada masing-masing kelas II di SMU Negeri I Majalengka secara berurutan adalah :
– Di kelas II1 pada hari Selasa jam ke 1 dan ke 2 (07.00 – 08.30)
– Di kelas II2 pada hari Sabtu jam ke 7 dan ke 8 (12.15 – 13.45)
– Di kelas II3 pada hari sabtu jam ke 1 dan ke 2 (07.00 – 08.30)
– Di kelas II4 pada hari Jum’at jam ke 4 dan k3 5 (09.40 -11.00)
– Di kelas II5 pada hari Sabtu jam ke 5 dan ke 6 (10.30 – 12.00)
– Di kelas II6 pada hari Selasa jam ke 7 dan ke 8 (12.15 – 13.45)
– Di kelas II7 pada hari Selasa jam ke 3 dan ke 4 (08.30 – 10.00)
– Di kelas II8 pada hari Selasa jam ke 3 dan ke 4 (08.30 – 10.00)
– Di kelas II9 pada hari Jum’at jam ke 3 dan ke 4 (08.45 – 09.25)
dan (09.40 – 10.20)
untuk kelas II ini, pelajaran PAI disampaikan oleh Bapak Drs. E Suganda dan Ibu Hj. Konok, S.Ag. sedangkan untuk kelas I dan III disampaikan oleh Bapak Teddy Kusnadi, S.Ag dan Bapak Drs. M. Muslim. Sedangkan metode yang digunakan dalam menyampaikan materi di kelas II SMU Negeri I Majalengka diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Metode Ceramah, bervariasi.
2. Metode Diskusi.
3. Metode Tanya Jawab.
4. Metode Demonstrasi
Untuk materi menuntut aspek psikomotor (seperti shalat, dan bacaan do’a-do’a atau ayat), Guru PAI mengunakan musholla dalam pelaksanaannya. Namun ketika ujian dilakukan di kelas saja. Kehadiran siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar PAI dapat dikatakan baik. Kehadiran mereka tiap bulannya mencapai 99 %.

F. Prestasi Belajar PAI Kelas II
Salah satu tujuan akhir dalam kegiatan belajar mengajar ini adalah mencapai prestasi yang baik. Dan itu bisa diukur dengan melaksanakan evaluasi dalam bidang Pendidikan Agama Islam terhadap anak didik. Penilaian terhadap kegiatan Belajar Mengajar ini ditujukkan dengan angka nilai di raport dan mengenai data nilai rata-rata siswa ini dapat dilihat pada table di bawah ini.

Tabel. 5
NILAI RATA-RATA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
KELAS II SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2002/2003
NO KELAS JUMLAH RATA-RATA
1 2 3 4
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9. II.1
II.2
II.3
II.4
II.5
II.6
II.7
II.8
II.9 334
356
327
345
363
349
329
303
345 7,8
8,5
7,6
6,8
8,6
7,9
7,8
7,4
7,4
Di samping prestasi akademik di atas, beberapa orang siswa kelas II juga telah berhasil meraih prestasi dengan menjadi juara cerdas cermat tingkat propinsi tahun 2000 , juara Nasyid ke I dan Ke II tingkat kabupaten, yang semuanya itu dimenangkan oleh kelas II yang aktif di DKM, serta siswi yang aktif di kegiatan keputrian.

G. kegiatan Keputrian di SMU Negeri 1 Majalengka
Kegiatan keputrian di SMU Negeri 1 Majalengka merupakan salah satu bentuk pelaksanaan dakwah sekolah. Sebagaimana kita ketahui bahwa pada saat ini para remaja sebagai generasi muda Indonesia sedang menghadapi tantangan globalisasi yang dahsyat di tengah warisan krisis multidimensi bangsa yang parah.Tantangan global tidak saja dalam masalah derasnya infiltrasi budaya asing melalui berbagai media cetak dan elektronik yang sarat membawa nilai-nilai deislamisasi, tetapi juga tantangan persaingan kerja global dan regional, perdagangan bebas melewati batas-batas negara tanpa ada lagi proteksi bagi industri-industri lokal dalam negeri dari serangan produk-produk luar. Hal ini diperparah dengan derasnya demoralisasi antara lain ; kasus narkoba di kalangan pelajar, seks bebas, tawuran dan lain-lain.
Mereka adalah remaja. Mereka adalah generasi muda kita yang mewarisi kondisi bangsa yang rusak ditengah badai demoralisasi yang parah. Adalah tugas kita semua untuk menyelamatkannya, tidak terkecuali. Pembekalan keimanan dan pengetahuan harus kuat. Sekolah sebagai bagian dari pendidikan dan tempat hidup remaja pelajar, memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk kepribadian remaja. Disamping itu, proses pendidikan tidak hanya proses pemberian materi. Namun pendidikan juga merupakan proses pembentukan sosok. Generasi yang diharapkan muncul untuk memegang masa depan bukan saja generasi yang cemerlang otaknya, tetapi mereka adalah generasi yang memiliki moral . Oleh karena itu, seorang pengajar juga berkewajiban menanamkan nilai moral dan etika kepada pelajar. Bagi seorang muslim, moral dan etika itulah yang akan membentuk pelajar memiliki kepribadian islam yang mantap. Sedangkan pada Sekolah Menengah, porsi moral dan etika yang terbingkai dalam pelajaran agama hanya mendapat bagian dua jam dalam seminggu. Tentu saja ini terasa kurang apalagi mengingat kondisi remaja saat ini.
Maka dengan kegiatan keputrian ini sebagai salah satu bentuk dakwah sekolah diharapkan remaja bisa membendung arus demoralisasi ini dan kembali kepada nilai-nilai Islam yang membawa kepada keselamatan. Dakwah sekolah, khususnya usia Sekolah Lanjutan (SLTP) dan Sekolah Menengah (SMU/SMK), cukup mewakili pendinian proses Tarbiyah Islamiyah. Fase ini merupakan fase yang sangat berguna bagi pembentukan kepribadian seseorang, yaitu fase dimulainya kematangan fisik, intelektual, dan kejiwaan, sehingga mampu menangkap pelajaran dan pengajaran dengan baik untuk kemaslahatan dirinya. Secara singkat, arti penting dakwah sekolah dapat disimpulkan dalam tiga kata kunci : lading emas dakwah yang efektif, massal dan strategis. Efektif, karena para pelajar lebih mudah direkrut dan didakwahi dengan baik dibandingkan dengan kalangan kampus/mahasiswa. Disebut massal, karena jumlah manusia pelajar jauh lebih banyak daripada mahasiswa. Disebut strategis, karena dakwah sekolah dalam jangka panjang akan mensuplai SDM saleh di berbagai lapisan masyarakat sekaligus, baik buruh dan pekerja, wiraswastawan dan kaum profesional, maupun calon pemimpin di masa depan. Jadi dalam hal ini, dakwah sekolah bertujuan untuk mewujudkan barisan remaja pelajar yang mendukung dan mempelopori tegaknya nilai-nilai kebenaran, mampu menghadapi tantangan masa depan, dan menjadi batu bata yang baik dalam bangunan masyarakat Islam. (Koesmarwanti Nugroho Widiyantoro :66 :2002).
Dalam melaksanakan aktivitas dakwah di Sekolah, siswa memerlukan wadah untuk berekspresi, baik wadah formal keagamaan (kerohanian islam/Rohis) Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), maupun dan kegiatan ekstrakurikuler.Wadah yang paling strategis untuk berdakwah adalah Kerohanian Islam. Kerohanian Islam menjadi organisasi yang langsung berkompeten terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan di sekolah, melalui program-program baik formal maupun informal yang dikoordinir oleh pengurusnya. Siswa memainkan peran dengan menduduki posisi sebagai penggerak atau pengurus baik sebagai pengurus inti, maupun staff didalamnya.
Di SMU Negeri 1 Majalengka, Dewan Keluarga Mesjid At-Taqwa berdiri pada tahun 1987. Organisasi ini memiliki tiga seksi, yang pada tahun 1999 istilah seksi ini diganti dengan istilah biro. Ketiga biro tersebut adalah biro imaroh, biro idaroh, dan biro riayah. Di bawah biro trsebut terdapat sub biro. Biro imaroh merupakan biro yang memiliki tugas dalam hal memakmurkan mesjid. Biro idaroh merupakan biro yang memiliki tugas dalam hal penertiban administrasi organisasi dan pengembangan kepustakaan islam.Sedangkan biro riayah merupakan biro yang memiliki tugas dalam hal pemeliharaan dan penyediaan sarana dan prasarana mesjid At-Taqwa. Pada tahun 2002 terjadi penambahan sub biro pada biro imaroh yaitu biro Keputrian.
Sebenarnya, kegiatan keputrian ini sudah dimulai sejak tahun 1997. Namun karena masih dalam masa perintisan, maka tidak heran jika masih banyak ditemukan kendala diantaranya ; kurangnya minat siswa untuk mengikuti kegiatan ini, serta kurangnya SDM pembimbing siswa yang biasanya dilakukan oleh alumni SMU ini.Baru pada tahun 2000 kegiatan keputrian ini berjalan dengan baik dan sudah mulai berkembang.

Mengenai kegiatan umum DKM At-Taqwa ini adalah :
1. Kajian Islam Mingguan (Kuliah Dhuha)
Merupakan kegiatan pengajian agama Islam secara menyeluruh . Pelaksanaannya pada hari Minggu waktu Dhuha. Sasaran kegiatan adalah ikhwan dan akhwat SMU Negeri 1 Majalengka. Pelaksana kegiatan sub biro kuliah di bawah koordinasi biro imaroh.
2. Fikhun Nisa (Kuliah Jum’at)
Merupakan kegiatan pengajian berbagai hal yang bersifat kewanitaan Islam . Dilaksanakan pada hari Jum’at setelah jam belajar sekolah. Sasaran kegiatan Akhwat SMU Negeri 1 Majalengka. Pelaksananya sub biro keputrian san sub biro kuliah di bawah koordinasi biro Imaroh.

3. Qiro’atul Kutub
Merupakan kegiatan pengajian kitab. Dilakanakan pada hari Minggu .Sasaran aktivis DKM At-Taqwa. Pelaksananya sub biro dakwah di bawah koordinasi biro Imaroh.
4. Study Islam Intensif (Menthoring)
Merupakan kegaiatan pengajian agama Islam secara menyeluruh. Dilaksanakan pada hari yang telah ditentukan dan disepakati oleh aktivis. Sasaran aktivis DKM At-Taqwa . Pelaksana sub biro dakwah di bawah koordinasi biro Imaroh.
5. Riyadloh
Merupakan kegiatan pelatihan (tenaga dalam). Dilaksanakan pada hari yang telah ditentukan dan disepakati oleh rapat aktivis. Sasaran aktivis DKM At-Taqwa. Pelaksana sub biro riyadloh I bawah koordinasi biro Imaroh.
6. Fokus
Merupakan kegiatan penyampaian dakwah Islamiyah melalui tulisan.Dilaksanakan setiap dua minggu sekali. Sasaran Ikhwan dan Akhwat SMU Negeri 1 Majalengka. Pelaksana sub biro KIRI, di bawah koordinsi biro Imaroh.
7. Infaq
Merupakan kegaiatan mengkoordinir infaq dari warga sekolah. Dilaksanakan pada hari Sabtu . Sasaran siswa dan siswi serta warga sekolah lainnya.Pelaksana sub biro Bazis di bawah koordinasi biro Imaroh.

8. Shalat Dzuhur dan Shalat Jum’at berjamaah
Merupakan kegiatan mengkoordinir shalat Dzuhur dan shalat Jum’at berjamaah. Dilaksanakan setiap hari (shalat Dzuhur) dan hari Jum’at (shalat Jum’at). Sasaran Ikhwan dan Akhwat untuk shlat Dzuhur , dan Ikhwan saja untuk shalat Jum’at. Pelaksana sub biro kuliah dan sub biro dakwah di bawah koordinasi biro Imaroh.
Sedangkan untuk Keputrian , kegiatannya antara lain :
1. Kuliah Jum’at
2. Kuliah Dhuha
3. Menthoring Akhwat
Sebenarnya, kegiatan keputrian ini dianjurkan untuk semua siswi dari kelas 1 sampai kelas 3. Namun kondisi kelas 1 yang masih dalam masa adaptasi dengan lingkungan sekolah baru mereka, serta kondisi kelas 3 yang menjelang Ujian Akhir Nasional (UAN) sehingga dibatasi, maka kelas 2 lah yang lebih aktif mengikuti kegiatan keputrian ini.
Adapun materi-materi yang disampaikan adalah :
1. Kuliah Jum’at
Dilaksanakan pada hari Jum’at , pukul 11.30 – 12.30.
Temanya antara lain :
* Muslimah cantik dan menarik
* Pendidikan seks dan batasan pergaulan
* Muslimah ramah lingkungan
* Jati diri Muslimah Sejati
* Perhiasan Muslimah
* Pesona hati
* Cinta
* Pejuang Muda Islam
* Senyum
* Pemuda Dahulu dan Sekarang
* Psikologi remaja
2. Kuliah Dhuha
Dilaksanakan pada hari Minggu, pukul 08.30 -10.00 .
Temanya antara lain :
* Indahnya Kesabaran
* Sumbangan Islam Untuk Ilmu Pengetahuan dan Teknologi / Iptek
* Biar Funky Asal Masuk Syurga
* Berbakti Pada Orang Tua
* Revolusi Jilbab
* Indahnya Hidup Bersama Rasul
* Hakikat Isra Mi’raj
* Remaja dan Media
* Gender dalam Pandangan Islam.
3. Menthoring Akhwat
Menthoring agama adalah forum pengkajian agama Islam secara lebih mendalam dalam jumlah anggota yang terbatas ; 8 – 12 orang tiap kelompok, dengan pokok bahasan focus pada masalah akidah, akhlak, dan ibadah. Waktu serta tempat pelaksanaan diserahkan kepada masing-masing kelompok. Namun biasanya dilaksanakan pada saat jam pelajaran di sekolah telah usai.
Adapun materi materinya antara lain :
* Tawazun
* Ikhlassunniyah
* Aqidah Islamiyah
* Makna Basmallah
* Al-Iman
* Rukun Islam
* Ma’rifatullah
* Ma’rifaturrasul
* Ukhuwah Islamiyah
* Pentingnya Akhlaq Islami
* Pentingnya Pendidikan Islam
* Ghazwul Fikri
* Dan lain-lain.
Adapun pemateri dalam kegiatan keputrian ini adalah mereka dari kalangan guru SMU Negeri 1 Majalengka dan para Alumni sekolah ini.
Maka demikianlah, dengan kegiatan keputrian ini, diharapkan selain bisa melengkapi kebutuhan akan Pendidikan Agama Islam yang hanya mendapat porsi dua jam dalam seminggu ini, juga diharapkan akan dapat menumbuhsuburkan kader-kader dai yang banyak dan berkualitas, juga simpatisan-simpatisan yang massal. Mereka akan mengisi dan mewarnai lembaga-lembaga profesi di masa depan ; perusahaan-perusahaan, instansi pemerintah, birokrasi, Perguruan Tinggi, LSM, wiraswasta, dan tentu saja di masyarakatnya sendiri, baik sebagai para pemimpin hingga level basis massa. Mereka akan menjadi agen-agen perubahan skala sistem, membersihkan seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara dari korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah akut. Mereka adalah generasi baru yang akan membawa bangsa dan umat Islam kepada zaman baru, era baru yang lebih cemerlang, profesional, maju, kuat, dan tentu saja berakhlak.

BAB IV
PERBANDINGAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ANTARA SISWA YANG MENGIKUTI DENGAN YANG TIDAK MENGIKUTI KEGIATAN KEPUTRIAN DI SMU NEGERI 1 MAJALENGKA KABUPATEN MAJALENGKA
A. Prestasi Belajar Siswa Yang Mengikuti Kegiatan Keputrian
Untuk memperoleh data tentang prestasi belajar siswa yang mengikuti kegiatan keputrian dalam bidang Pendidikan Agama Islam di SMU Negeri I Majalengka Kabupaten Majalengka, Penulis mendapatkan data dari daftar nilai semester I tahun pelajaran 2002/2003 untuk 40 orang siswa yang mengikuti kegiatan keputrian.
Daftar nilai semester tersebut dapat dilihat dalam bentuk table berikut.:
Tabel 6
Prestasi Belajar Siswa Yang Mengikuti Kegiatan Keputrian
NO NAMA NILAI
1 2 3
1.
2.
3.
4.
5.
1
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13. Asri Dena Veviana
Dede Rosdiyah
Ima Turyani
Irin Tarinih
Linda Hindiana
2
Marini
Nira Herliana
Raden Anis Khaerunnisa
Vina Sopianingsih
Deasy Rachmawati
Nining Winingrum
Piah Siti Marpuah
Romlah 8
9
9
9
9
3
9
9
9
9
9
9
9
9
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
1
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35. Ana maryani
Anggi Ekawati
Cicih Rahmana
Dea Pranita Adelina
Dian Ratna Suminar
Endah Permasih
Enjun Junaedi
Fely Nunung
Krisna Yuniasih
Nina Laelatu Jannah
Rismawati Ramdani
Sisi Fabrianti
2
Vigy Maydatika
Homisah
Liesda Nurdiani Adnan
Malia Ulpah
Soraya Dewi
Nuni Fitriyanti
Nur Annafi Farni
Ratih Siti Suhartati
Revita Kartikasari
Ayu Sri Rahayu 9
9
9
9
9
9
8
8
9
8
9
9
3
9
9
9
9
8
9
9
9
8
9
36.
37.
38.
39.
40. Dewi Nurmaliyah
Hanifah Purnamasari
Linda Wulandari
Nulaely
Nursaenah 8
8
7
8
8
Jumlah rata-rata 8,7

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa prestasi belajar siswa yang mengikuti kegiatan keputrian dalam bidang Pendidikan Agama Islam di SMU Negeri I Majalengka Kabupaten Majalengka, memperoleh nilai rata-rata 8,7.
B. Prestasi Belajar Siswa Yang Tidak Mengikuti Kegiatan Keputrian
Untuk memperoleh data tentang prestasi belajar siswa yang tidak mengikuti kegiatan keputrian dalam bidang PAI di SMU Negeri I Majalengka, Kabupaten Majalengka, penulis mendapatkan data dari daftar nilai semester I tahun pelajaran 2002/2003 untuk 40 orang siswa yang tidak mengikuti kegiatan keputrian
Daftar nilai semester tersebut, dapat dilihat dalam bentuk tabel berikut:

Tabel. 7
Prestasi Belajar Siswa yang Tidak Mengikuti Kegiatan Keputrian
NO NAMA NILAI
1 2 3
1.
2.
3.
4.
5. Ade Lasiah
Cita Anggraeni
Indah Kurniawati
Nevi Risnawati
Nina Karlinah 7
8
8
8
9
6.
7.
8.
9.
10.
1
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27. Rika Mukhlisa Syakbani
Eni Nuraeni
Fina Agustin
Irma Santi
Dessi Gita Raenita
2
Geby Sitha Hellena
Intan Sri Rahayu
Nita Dwi Wahyuni
Novi NUani
Suci Fitriani
Gilang Dwi Komalasari
Rara Bela Lestary
Reta Yunita
Sri Listriani
Vani Mandasari
Vina Nurmasari
Ratnawati
Nurlaila
Regina Prianto
Rina Nirwana Sari
Rusmiati
Tiara Anggraeni 7
8
8
8
8
3
8
8
8
7
7
7
8
8
7
7
7
7
7
8
8
8
8
28.
29.
30.
1
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40. Windri Dewi Ayu
Citra Lestari
Krisna Oktaliani
2
Krisna Wulan Oktaviani
Siska Mauliani
Theresia Astri Ayu
Herni Komalasari
Ike Mayang Arum
Wina Agustina
Yuan Fitriani
Dianina
Sugiarti
Rismayani 7
8
8
3
8
8
8
8
9
8
8
9
9
9
Jumlah rata-rata 7,85
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa prestasi belajar siswa yang tidak mengikuti kegiatan keputrian dalam bidang Pendidikan Agama Islam di SMU Negeri I Majalengka Kabupaten Majalengka memperoleh nilai angka rata-rata 7,85
C. Perbandingan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Antara Siswa yang Mengikuti Kegiatan Keputrian dengan Yang Tidak Mengikuti
Untuk membandingkan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam antara siswa yang mengikuti kegiatan keputrian dengan yang tidak di SMU Negeri I Majalengka, Penulis membuat tabel terlebih dahulu, yang dapat dilihat di bawah ini.

UJI KESAMAAAN RATA-RATA

X = Nilai PAI Siswa yang mengikuti Kegiatan Keputrian di SMU Negeri 1 Majalengka
Y = Nilai PAI Siswa yang tidak mengikuti Kegiatan Keputrian di SMU Negeri 1 Majalengka

No. X Y x=X-Mx y=Y-My x2 y2
1 9 9 0,3 1,15 0,09 1,3225
2 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
3 9 9 0,3 1,15 0,09 1,3225
4 8 8 -0,7 0,15 0,49 0,0225
5 9 9 0,3 1,15 0,09 1,3225
6 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
7 8 8 -0,7 0,15 0,49 0,0225
8 9 9 0,3 1,15 0,09 1,3225
9 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
10 8 8 -0,7 0,15 0,49 0,0225
11 9 9 0,3 1,15 0,09 1,3225
12 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
13 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
14 9 7 0,3 -0,85 0,09 0,7225
15 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
16 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
17 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
18 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
19 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
20 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
21 9 7 0,3 -0,85 0,09 0,7225
22 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
23 9 7 0,3 -0,85 0,09 0,7225
24 8 8 -0,7 0,15 0,49 0,0225
25 9 7 0,3 -0,85 0,09 0,7225
26 8 8 -0,7 0,15 0,49 0,0225
27 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
28 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
29 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
30 8 8 -0,7 0,15 0,49 0,0225
31 9 7 0,3 -0,85 0,09 0,7225
32 9 7 0,3 -0,85 0,09 0,7225
33 8 7 -0,7 -0,85 0,49 0,7225
34 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
35 8 7 -0,7 -0,85 0,49 0,7225
36 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
37 8 7 -0,7 -0,85 0,49 0,7225
38 9 8 0,3 0,15 0,09 0,0225
39 8 7 -0,7 -0,85 0,49 0,7225
40 7 7 -1,7 -0,85 2,89 0,7225
348 314 10,4 15,1

Dari Tabel Hasil Pengamatan diperoleh nilai –nilai sebagai berikut:

Maka diperoleh
Nilai Rata-Rata X,

Nilai Rata-Rata Y,

Standar Deviasi X,

Standar Deviasi Y,

Standar Error Rata-Rata X,

Standar Error Rata-Rata Y,
Standar Error Gabungan,

Karena itu akan diuji Hipotesis berikut ini:
, Tidak terdapat perbedaan siginifikan antara nilai rata-rata PAI siswa yang mengikuti keputrian dengan nilai PAI siswa yang tidak mengikuti keputrian
, Terdapat perbedaan siginifikan antara nilai rata-rata PAI siswa yang mengikuti keputrian dengan nilai PAI siswa yang tidak mengikuti keputrian

Maka dihitung Statistik Uji t (student’s t)

Kriteria Penolakan dan Penerimaan
Pada Taraf Signifikansi 0,05
Terima Ho, Jika t hitung t tabel 0,025;39 (nilai dari tabel t dengan =0,05 dengan derajat bebas 39)

Aturan Keputusan
Karena Berdasarkan perhitungan dari data diperoleh t = 6,6510 yang nilainya lebih besar dari nilai t0,025;39 = 2,3313.
Maka Ho ditolak, dan H1 diterima pada taraf signifikansi 0,05

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Prestasi belajar siswa kelas II yang mengikuti kegiatan keputrian pada bidang study PAI di SMU Negeri 1 Majalengka bernilai lebih baik, dengan nilai mean (rata-rata) yang diperoleh sebesar 8,7.
2. Prestasi belajar siswa kelas II yang tidak mengikuti kegiatan keputrian pada bidang study PAI di SMU Negeri 1 Majalengka bernilai baik,hal ini terbukti dari hasil mean (rata-rata) yang diperoleh sebesar 7,85. Jadi selisih nilai prestasi belajar antara yang mengikuti dengan yang tidak mengikuti kegiatan keputrian yaitu 0,85.
3. Dari analisis perbandingan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (kuat/meyakinkan ) dalam prestasi belajar siswa antara yang mengikuti dengan yang tidak mengikuti kegiatan keputrian dalam bidang study PAI di SMU Negeri 1 Majalengka . Prestasi belajar siswa yang mengikuti kegiatan keputrian lebih unggul dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang tidak mengikuti kegiatan keputrian.

B. Saran-Saran
Ada beberapa saran yang ingin dikemukakan penulis sehubungan dengan hasil penelitian ini, antara lain :
1. Agar siswa yang mengikuti kegiatan keputrian lebih banyak, sebaiknya program kegiatan ditingkatkan kualitasnya hingga dapat menarik minat siswa lainnya.
2. Hendaknya dijalin komunikasi serta koordinasi yang baik antara Alumni dan guru Pendidikan Agama Islam dalam melaksanakan program kegiatan keputrian, agar selalu berjalan lancar serta memudahkan tercapainya tujuan seperti yang telah dicita-citakan bersama.

D A F T A R P U S T A K A

Anas Sudijono
1999 Pengantar Statistik Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
B.SuryoSubroto
1990 Beberapa Aspek Dasar-Dasar Kepedidikan, Rineka Cipta, Jakarta.
B. SuryoSubroto
1997 Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Rineka Cipta,
Jakarta.
Hasbi Ashshiddiqy,
1985 Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama
RI, Jakarta.
H.M. Arifin
1995 Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum),
Bumi Aksara, Jakarta.
Muhibbin Syah
1995 Fsikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru,
Remaja Rosda Karya, Bandung.

Suharsimi Arikunto
1993 Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi,
Rineka Cipta, Jakarta.
Suharsimi Arikunto
1996 Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta.

Undang-undang Republik Indonesia (TAP MPR RI ) Nomor 2
1993 Tahun 1989, Sistem Pendidikan Nasional, CV Rineka
Ilmu, Semarang.
Wayan Nurkancana dan P.P.N sumartana
1985 Evaluasi Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya.
Zakiyah Daradjat
1996 Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta.


Assalamu’alaikum wr. wb

14 Maret 2010

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari diri manusia mulai dari kandungan sampai beranjak dewasa kemudian tua. Manusia mengalami proses pendidikan yang didapat dari orang tua, masyarakat maupun lingkungannya. Pendidikan bagaikan cahaya penerang yang berusaha menuntun manusia dalam menentukan arah, tujuan, dan makna kehidupan ini. Manusia sangat membutuhan pedidikan melalui proses penyadaran yang berusaha menggali dan mengembangkan potensi dirinya lewat metode pengajaran atau dengan lainnya yang telah diakui oleh masyarakat.[1]

Pendidikan merupakan pintu gerbang utama (main gate) dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang tangguh, baik dalam bidang intelektual maupun moral. Orang yang berpendidikan biasanya mampu menjalani kehidupan dan mengolah diri dan keluarganya dengan baik, serta dapat dengan mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

Pendidikan merupakan hak seluruh manusia, karena itu dalam penyelenggarannya merupakan tanggung jawab kita bersama, baik pemerintah, orang tua, guru dan masyarakat dari berbagai lapisan. Keberhasilan pendidikan merupakan keberhasilan kita bersama, begitu juga kegagalan pendidikan merupakan kegagalan kita bersama.

1

Pada hakekatnya pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju kepribadian yang utama.[2] Demikian juga Prof. Ahmad Tafsir dengan bahasa yang singkat tetapi mempunyai makna yang sangat dalam memberikan gambaran bahwa pendidikan merupakan sebuah proses, menurutnya pendidikan itu ialah pertolongan kepada manusia agar ia menjadi manusia.[3]

Pembinaan watak dan perilaku merupakan pengalaman proses belajar yang di hayati sepanjang hidup, baik jalur pendidikan sekolah maupun dalam proses pertumbuhan dan perkembangan kehidupan. Keadaan kehidupan sekarang dipengaruhi oleh keadaan sebelumnya, dan keadaan yang akan datang banyak ditentukan oleh keadaan kehidupan saat ini. Dengan demikian apabila sejak awal perkembangan sikap dan perilaku seseorang terbentuk secara terpadu dan harmonis, maka dapat di harapkan tingkah laku yang merupakan penjabaran berbagai aspek pribadi itu akan muncul dengan baik, oleh karena itu pembinaan watak dan perilaku anak perlu ditanamkan sejak dini agar terbiasa dan dibesarkan dengan akhlak dan adab yang mulia.

Pendidikan agama berkaitan erat dengan pendidikan akhlaq. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa pendidikan akhlaq dalam pengertian Islam adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan agama. Sebab yang baik adalah yang dianggap baik oleh agama dan yang buruk adalah apa yang danggap buruk oleh agama. Sehingga nilai-nilai akhlaq, keutamaan akhlaq dalam masyarakat Islam adalah akhlaq dan keutamaan yang diajarkan oleh agama. Sehingga seorang muslim tidak sempurna agamanya bila akhlaqnya tidak baik. Hampir semua filosof pendidikan Islam sepakat, bahwa pendidikan akhlaq adalah jiwa pendidikan Islam. Sebab bahwa pendidikan akhlaq adalah jiwa pendidikan Islam, sebab salah satu tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah pembinaan akhlaq al-karimah.[4]

Pembinaan akhlaq merupakan tumpuan perhatian pertama dalam Islam. Hal ini dapat dilihat dari salah satu missi kerasulan Nabi Muhammad SAW. yang utama adalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia. Dalam salah satu haditsnya beliau menegaskan :

انما بعـثت لأ تـمـم مكارم الاخـلا ق

Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang

mulia (HR  Muslim)

Tidaklah diragukan bahwa putra–putri kita sekarang akan menjadi generasi di masa mendatang, maka apabila menjadi besar dalam akhlak yang mulia dan tumbuh dengan pendidikan yang benar, ia pun akan menjadi sekolah dasar di mana anak–anak menerima dasar–dasar kebaikan dan tonggak kebesaran dan kemuliaan.[5]

Hal ini dengan tepat dan indah diungkapkan dalam sebuah bait syi’ir yang di sampaikan oleh Pujangga Islam Syekh Musthafa Al-Ghulayani, yang berbunyi:

ان في يـد الشــبان امـر الامــة ۩ وفي اقد ا مهم حيا تها

Sesungguhnya permasalahan umat itu menjadi tanggungjawab para pemuda dan kelangsungan hidup umat terantung pada kemajuan pemudanya.[6]

Jelaslah bahwa akhlak (budi pekerti) mempuyai pengaruh terbesar atas kehidupan individu-individu dan bangsa-bangsa atas tingkat kemajuan atau kemundurannya. Bahkan atas kekekalan keberadaan atau kehancurannya. Sebagaimana yang diungkapkan Syauki Bey dalam bait syi’irnya yang berbunyi :

انماالا مم الا خلا ق ما بقيت ۩ وان همودهبت اخلا قهم د هبوا

Sesungguhnya bangsa itu hidup selama ia  berakhlaq, jika akhlaq mereka lenyap maka hancurlah bangsa itu”.[7]

Di zaman modern, kehidupan semakin kompetitif dan persaingan semakin keras sehingga membuat manusia stres dan frustasi, apalagi saat ini bangsa kita sedang mengalami krisis moral, dan krisis moral inilah yang menjadi penyebab utama ketidakmenentuan bangsa ini. Jika krisis moral dibiarkan, maka kemungkinan besar bangsa ini akan hancur masa depannya. Praktik hidup yang menyimpang dan penyalahgunaan kesempatan yang merugikan orang lain kian tumbuh subur di negeri kita yang sungguh pelakunya  tidak berakhlaq apalagi bertasawuf. Korupsi, kolusi, nepotisme, penodongan, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan dan perampasan hak-hak azasi manusia pada umumnya terlalu banyak yang dapat kita lihat dan saksikan. Pekerjaan rumah kita yang paling mendesak adalah memperbaiki kembali akhlaq, mental dan spiritual bangsa ini.[8]

Menghadapi perubahan sosial yang demikian cepat, masih nampak keraguan akan kenyataan kehidupan generasi muda yang nyaris tanpa identitas. Generasi muda terjebak pada sikap pragmatis yang mengharapkan kenikmatan dan konsumsi serba mewah. Kondisi ini menjadi ancaman serius, sebab membicarakan generasi muda adalah membicarakan eksistensi masa depan. Kesinambungan dan keberlangsungan hidup baik menyangkut keluarga, trsdisi, organisasi, bangsa dan negara, bahkan dunia secara umum.

Dunia selalu dilanda kerusakan dan bentrokan yang mengalirkan darah manusia. Di sebagian belahan dunia damai, tetapi pada bagian lainnya bergolak. Daerah yang tadinya bergolak dapat menjadi tenang kembali, tetapi di tempat lain muncul lagi pergolakan. Demikianlah sejarah umat manusia yang selalu dilumuri oleh darah peperangan, sehingga dunia telah mengalami dua kali peperangan dahsyat, yang terkenal dengan Perang Dunia I dan II yang telah menelan korban besar. Hingga kini manusia masih dicemaskan kemungkinan timbulnya Perang Dunia III yang sewaktu-waktu bisa saja meletus. Negara-negara besar berlomba-lomba membuat senjata-senjata yang mutakhir untuk siap membela diri dan memusnahkan lawan-lawannya. Problem ini pada hakekatnya tidak terlepas dari masalah-masalah akhlaq pemimpin-pemimpin dunia itu sendiri.[9] Manusia dalam kondisi demikian, telah kehilangan fungsinya. Fungsi yang tersisa hanya fungsi produksi dan fungsi konsumsi. Kehidupan dalam kesehariannya diatur oleh sistem yang menghantar kehidupannya pada hidup tanpa arah. Puncak dari model hidup yang demikian adalah menghantarkan diri manusia pada proses dehumanisasi, demoralisasi yang rentan melahirkan disporitas psikologi, perpecahan mental yang mudah menggiring pada depresi mental.[10]

Kehidupan yang demikian, makin diperparah dengan adanya pengaruh-pengaruh dari budaya asing, sebagai implikasi dari globalisasi informasi dan komunikasi berupa adegan film-film kekerasan, perkelahian, tindakan-tindakan anarkis, brutal dan persaingan-persaingan yang tidak sehat melalui tayangan televisi. Adegan film kekerasan ditayangkan secara bebas, akan mempengaruhi pandangan dan sikap anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Akibatnya kekerasan yang dilakukan anak-anak hampir tiap hari menghiasi laporan media masa; anak membunuh orang tuanya sendiri, anak memperkosa dan menganiaya teman sebaya, perkelahian dan tindak kekerasan, pelecehan seksual serta tindakan kriminal yang sudah di luar ambang batas toleransi. Teknologi komunikasi masa  berupa televisi memang banyak memberitakan pengaruh dalam banyak kehidupan manusia. Pengaruh tersebut bisa dalam bentuk politik, ekonomi, sosial budaya bahkan pertahanan dan keamanan negara.[11]

Internet yang menyediakan situs-situs porno, adalah salah satu produk revolusi teknologi komunikasi yang dengan mudah dapat diakses oleh anak-anak pelajar dan remaja untuk melampiaskan hasrat seksnya dengan cara yang tak halal. Misalnya seks bebas, perkosaan, prostisusi dan pelecehan seksual. Generasi muda yang hidup dalam realitas masyarakat yang demikian tidak bisa terlepas sepenuhnya dari kecenderungan sosial budaya dari masyarakat yang mengitarinya. Akibatnya vitalitas remaja yang seharusnya dipersiapkan untuk menyongsong hari depannya, lumpuh oleh daya tarik semu barupa kenikmatan  hiburan modernisme, yang tertuang dalam teknologi hiburan, CD, film, karaoke, minum-minuman keras dan obat-obatan terlarang. Kondisi yang memperihatinkan adalah kecenderungan perilaku destruktif dan menyimpang sebagaimana dapat dibaca dan ditonton di media masa, seperti perilaku seks bebas, tawuran, penodongan, penyimpangan dan pelecehan seksual, perampokan dan pembunuhan.[12]

Kecenderungan perilaku generasi muda yang demikian pada dasarnya terjadi akibat lemahnya dasar-dasar resistennya dari berhadapan dengan pluralitas budaya kontemporer. Aspek lain adalah karena dasar agama yang lemah. M Arifin menyebutkan bahwa kecenderungan perilaku menyimpang remaja karena alasan lemahnya agama, dari hasil riset Arifin, tak ada perkasus perkelahian dan tawuran itu berasal dari sekolah yang berbasis agama.[13]

Melihat kecenderungan yang demikian, penulis merasa tertarik untuk meneliti masalah remaja, khususnya yang berstatus sebagai pelajar di lembaga pendidikan yang bercirikan Islam yaitu Madrasah Aliyah yang dalam realitasnya walaupun mereka pelajar di lembaga pendidikan yang bercirikan Islam, tetapi tidak bisa dipungkiri masih ada sebagian diantara mereka menjadi dan masih suka melakukan tindakan yang tidak tepuji, menyimpang (patologis) atau melanggar norma yang berlaku.

Pendidikan Akhlaq dan kepribadian merupakan permasalahan yang kompleks dan multi dimensional. Jika kita berbicara budi pekerti artinya kita sedang meneropong keseluruhan dimensi yang satu dengan yang lain saling keterkaitan. Persoalan demi persoalan tingkah laku sering muncul ke permukaan secara tidak beraturan.

Penulis percaya sepenuh hati bahwa orang tua di rumah, guru di sekolah dan tokoh masyarakat di lingkungan yang lebih luas senantiasa berusaha membina, mendidik serta mengarahkan putra-putrinya sebaik mungkin dan memberikan teladan bagaimana harus bertindak dan berbudi pekerti yang luhur. Akan tetapi tidaklah dipungkiri bahwa masih ada saja sebagian siswa dalam hal ini siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah  yang telah dididik sedemikian rupa  tetapi masih melakukan tindakan dan perilaku menyimpang, seperti kurang memiliki kesadaran dan tanggung jawab, tidak mentaati tata tertib sekolah, seperti terlambat datang ke sekolah, sering absen dan bolos, merokok di sekolah, suka mencorat-coret fasilitas sekolah, kurang dan rendah minat belajarnya, kurang peduli terhadap kebersihan kelas dan lingkungan, berpakaian tidak rapi dan tidak sopan, berkata-kata kasar dan kotor, bergaul terlalu  bebas dengan anak yang tidak sekolah, tawuran antar pelajar, kadang-kadang ada yang terlibat narkoba, pelecehan seksual dan sebagainya. Penelitian serupa terhadap pengaruh Pendidikan Aqidah Akhlaq di lembaga pendidikan ini belum pernah dilakukan baik secara perorangan maupun secara kelembagaan, oleh sebab itu penulis meresa tertarik untuk mengungkapkan signifikasi pengaruh Pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap tingkah laku siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran di lembaga pendidikan yang bercirikan Islam ini. Penulis  memaparkannya dalam sebuah tesis yang berjudul : ”Kontribusi Pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap Akhlaq Siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja Kecamatan Compreng Kabupaten Subang”.

  1. B. Perumusan Masalah

Memperhatikan fenomena dan fakta yang dapat ditangkap dalam uraian latar belakang masalah tersebut, dapat dituliskan perumusan  masalah sebagai berikut  :

  1. Bagaimana pendidikan Aqidah Akhlaq di Madrasah Aliyah Al- Ishlah Jatireja  Kabupaten Subang ?
  2. Bagaimana keadaan akhlaq siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah   Jatireja Kabupaten Subang ?
  3. Bagaimana kontribusi pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap Akhlaq siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja Kabupatn Subang?
  1. C. Tujuan Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengukur dan menguji signifikasi Kontribusi Pendidikan Aqidah Akhlak terhadap Akhlaq siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja Kecamatan Compreng Kabupaten Subang.

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

  1. Mengetahui gambaran tentang Pendidikan Aqidah Akhlak di Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja  Kabupaten Subang.
  2. Mengetahui kondisi akhlaq siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah            Jatireja  Kabupaten Subang.
  3. Mengetahui kontribusi pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja Kabupaten Subang.

D. Kegunaan Penelitian

Karya tulis ilmiah ini diharapkan memberikan manfaat ganda, yaitu tentang pengembangan ilmu pengetahuan secara teoritik dan aspek gunalaksana dalam pengembangan ilmu secara praktik.

Aspek teoritik atau pengembangan ilmu dengan harapan menambah referensi ilmu pengetahuan dalam kontek memperkaya teori–teori ilmu sosial keagamaan, khususnya tentang analisis kontribusi bidang studi pendidikan akhlak terhadap sikap dan perilaku siswa.

Aspek gunalaksana dan praktis diharapkan dapat memberikan masukan dalam menentukan desain dan pemetaan akan masalah serta rekomendasi khususnya kepada Madrasah Aliyah Al Ishlah dalam menentukan langkah-langkah strategis ke depan dalam pembinaan kepada para siswanya.

Bagi penulis penelitian ini berguna untuk melengkapi persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Pasca Sarjana Universita Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

  1. E. Kerangka Pemikiran

Ajaran Islam merupakan suatu sistem aqidah dan tata kaidah yang mengatur hubungan baik antar manusia dengan Allah SWT. dan antara manusia dengan sesamanya. Kedua hal tersebut menjadikan manusia mempunyai pegangan yang kuat dan tidak tersesat dalam hidupnya. Hal ini seperti yang diisyaratkan dalam Al Qur’an surat Ali Imran ayat 112 sebagai berikut :

ضربت عليهم الذلة اين ما ثقفوا الا بحبل من الله وحبل من الناس     (ال عمران : 112)

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada kecuali mereka berpegang teguh kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan sesama manusia.[14]

Akhlaq merupakan perbuatan yang lahir dari kemauan dan pemikiran, serta mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan itu secara substansial harus baik dan indah. Sesuatu yang substansial tidak bisa dicari alasannya kecuali pada dirinya sendiri dan manfaatnya berlaku untuk pelakunya sendiri, seperti kejujuran dan keberanian. Terkadang sikap yang dilakukan seseorang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, misalnya menegakkan keadilan, menepati janji dan lain-lain.[15]

Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany menyatakan bahwa akhlaq menurut pengertian Islam adalah salah satu hasil dari iman dan ibadah, bahwa iman dan ibadah manusia tidak sempurna kecuali timbul dari situ akhlaq mulia dan mu’amalah yang baik terhadap Allah SWT. dan makhluk-Nya dan bahwa akhlaq yang mulia yang diminta dari Muslim untuk berpegang teguh padanya harus dipelihara bukan hanya terhadap makhluk saja, tetapi juga wajib dan lebih-lebih lagi terhadap Allah SWT. dari segi aqidah dan ibadah. Seseorang tidaklah sempurna imannya terhadap Tuhannya, kecuali bahwa ia benar-benar beriman, menyempurnakan apa yang dijanjikan Allah SWT. dengannya dalam ta’at dan ibadah, dan ikhlas menyembah Tuhannya. Di antara tanda-tanda iman yang paling menonjol adalah akhlaq mulia dan diantara tanda-tanda nifaq yang menonjol adalah akhlaq buruk. Diantara perhiasan yang paling mulia bagi manusia sesudah beriman, taat dan takut kepada Allah SWT. adalah akhlaq mulia. Dan akhlaq ini terciptalah kemanusiaan manusia itu dan perbedaannya dengan hewan.[16]

Al-Qur’an menggambarkan kondisi ideal remaja dengan identitas iman (agama) dan pengetahuan (petunjuk) sebagaimana di sebutkan dalam Surat Al–Kahfi ayat 12 :

انهـم فـتــيـة امــنـوا بـربـهـم وزدناهــم هـدى (الـكـهـف : 13)

“Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda–pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk”[17]

Eksistensi dan keberadaan remaja di tentukan oleh potensi iman dan pengetahuan yang ada dalam dirinya. Imam Syafi’i, berkata secara tegas mengungkapkan dalam sebuah syair bahwa kehidupan remaja itu hanya akan diperhitungkan jika memiliki ilmu dan taqwa  (agama) tanpa keduanya itu remaja kehilangan eksistensinya.

حـيـاة الـفـتى والله بـالـعـلم والـتـقى ۩ اذا لـم يـكـن لااعـتـبـار ذتـه

Hidupnya pemuda, demi Allah hanya dengan ilmu dan taqwa, jika tiada keduanya hilanglah jatidirinya.[18]

Mengetahui urgensi pengembangan sikap keagamaan bagi remaja, Abdurrahman An-Nahlawi mengatakan bahwa generasi muda adalah bagian dari masyarakat. Dia harus mendapatkan    akhirnya nilai–nilai agama islam tercermin dalam tingkah pada laku, perkataan, sikap dan moralnya.[19]

Untuk memperoleh hasil yang benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan, sejak kecil anak harus sudah dilatih, baik melalui proses pendidikan, pengalaman maupun latihan-latihan. Seseorang yang waktu kecilnya tidak mendapatkan pendidikan agama, maka pada waktu dewasanya nanti, Ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lain halnya orang yang pada waktu kecilnya mempunyai pengalaman-pengalaman agama, maka dengan sendirinya mempunyai kecenderungan kepada hidup dalam aturan-aturan agama. Terbiasanya menjalankan ibadah, takut melangkahi larangan-larangan agama dan dapat merasakan betapa nikmatnya hidup beragama. Kecenderungan beragama dan pengetahuan tentang agama belum cukup untuk mendorong seseorang bertindak sesuai dengan yang diketahuinya itu. Karena suatu tindakan atau sikap adalah hasil kerja sama segala fungsi-fungsi jiwa yang cukup di dalamnya pengertian, perasaan dan kebiasaan-kebiasaan sebagai hasil dari proses pendidikan, pengalaman-pengalaman dan latihan.[20]

Hal yang terpenting dari agama adalah keamanan ontologis (Ontologis Scurity) bagi binaan sebuah masyarakat dan peradaban, di mana prinsip transendental menjadi azas-azas yang utama, tanpa azas moral yang kokoh ini jangan diharapkan bahwa keadilan yang menjadi cita-cita abadi umat manusia akan terwujud. Konsep masyarakat mekanistik tak memberi peluang kepada kita untuk menjadi manusia yang penuh dan bebas.

Pendidikan Aqidah Akhlaq di Madrasah Aliyah Al Ishlah  adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengimani Allah SWT. dan merealisasikannya dalam prilaku akhlaq mulia dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk dalam bidang keagamaan, pendidikan ini juga diarahkan pada peneguhan aqidah di satu sisi dan peningkatan toleransi serta saling menghormati dengan penganut agama lain dalam rangka mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa.[21] Adapun tujuan mata pelajaran Aqidah Akhlaq adalah:

  1. Memberikan  pengetahuan dan keyakinan kepada siswa     tentang hal-hal yang harus diimani dalam ajaran Islam,     sehingga tercermin dalam sikap dan tingkah lakunya dalam     kehidupan sehari-hari.
  2. Memberikan pengetahuan, penghayatan dan kemauan yang kuat untuk mengamalkan akhlaq yang baik dan menjauhi akhlaq yang buruk, baik dalam hubungannya dengan Allah SWT., dirinya sendiri, sesama manusia maupun dengan alam lingkungannya.
  3. Memberi bekal kepada siswa tentang aqidah dan akhlaq untuk melanjutkan pelajaran ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.[22]

Melihat urgensi yang demikian, peran pendidik sangat besar dalam membentuk religius peserta didik. Dengan bekal ini peserta didik dapat membentuk tata masyarakat masa depan yang   adil dan sejahtera atas dasar agama, sehingga fenomena tindakan-tindakan patologis (menyimpang) yang biasa dilakukan pelajar tidak akan terjadi lagi.

BAB II

TINJAUAN  PUSTAKA

  1. A. Pendidikan Aqidah Akhlaq

1. Pengertian Pendidikan

Banyak sekali definisi pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli. Sebagai tolak ukur dari beberapa definisi itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan penjelasan yang diperkirakan cukup memadai untuk menggambarkan makna pendidikan, yaitu:

Pendidikan dari segi bahasa berasal dari kata dasar didik, dan diberi awalan men, menjadi mendidik, yaitu kata kerja yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran). Pendidikan sebagai kata benda berarti sebuah proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok yang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.[23]

16

Ada satu hal penting yang bisa dipahami dari definisi pendidikan tersebut di atas yang tercakup dalam proses pendidikan yaitu pendewasaan diri melalui pengajaran dan latihan. Ace Suryadi dalam bukunya, Analisis Kebijakan Pendidikan, menjelaskan bahwa pada hakekatnya pendidikan ialah proses pemanusiaan anak manusia dan manusia itu sendiri sepanjang hayatnya agar ia bermakna bagi kehidupannya sebagai seorang individu, sebagai anggota keluarga, masyarakat bangsanya, dan bagi kemanusiaan.[24] Hal senada dinyatakan oleh  A Tafsir  bahwa pendidikan itu ialah usaha membantu manusia menjadi manusia. Manusia perlu dibantu agar ia berhasil menjadi manusia, seseorang dapat dikatakan telah menjadi manusia bila telah memiliki nilai (sifat) kemanusiaan. Itu menunjukan bahwa tidaklah mudah menjadi manusia. Jadi tujuan mendidik ialah me-manusia-kan manusia. Ciri-ciri manusia yang telah menjadi manusia harus memiliki tiga syarat, yaitu:  pertama, memiliki kemampuan mengendalikan diri; kedua, cinta tanah air; dan ketiga, berpengetahuan.[25]

Lebih lanjut  A Tafsir menjelaskan bahwa pendidikan adalah berbagai usaha yang dilakukan oleh seseorang (pendidik) terhadap seseorang (anak didik) agar tercapai perkembangan maksimal yang positif. Usaha itu banyak macamnya, satu di antaranya dengan cara mengajarnya, yaitu mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya. Selain itu ditempuh juga usaha lain, yakni memberikan contoh (teladan) agar ditiru, memberikan pujian dan hadiah, mendidik dengan cara membiasakan agar terbentuk perkembangan yang maksimal dan positif.[26]

Pendidikan adalah proses mengajar dan belajar pola-pola kelakuan manusia menurut apa yang diharapkan oleh masyarakat berkenaan dengan perkembangan dan perubahan kelakuan (tingkah laku) anak didik yang bertalian dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, ketrampilan dan aspek-aspek kelakuan yang lainnya kepada generasi muda.[27]

Menurut A Bachrun Rifa’i, dalam hal ini pendidikan diartikan sebagai; pertama, pendidikan sebagai pembentukan kebiasaan, dan kedua, pendidikan sebagai “penerobosan”. Yang pertama lebih dimaknai sebagai proses yang kontinyu, terus-menerus. Ia merupakan proses pengulangan dan terus-menerus setahap demi setahap. Sementara itu pemahaman yang kedua menyatakan bahwa pendidikan bukan saja proses yang serba terus, tetapi juga diskontinyu, yaitu penerobosan terhadap pengertian-pengertian baru, termasuk re-kristalisasi struktur baru.[28]

Selain itu, pendidikan dapat juga diartikan sebagai usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sistimatis untuk mendorong, membantu serta membimbing seseorang untuk mengembangkan segala potensinya sehingga ia mencapai kualitas diri yang lebih baik. Inti dari pendidikan adalah usaha pendewasaan manusia seutuhnya (lahir dan batin), baik oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri, dalam arti tuntutan yang menuntut agar anak didik memiliki kemerdekaan berpikir, merasa, berbicara, dan bertindak serta percaya diri dengan penuh rasa tanggungjawab dalam setiap tindakan dan perilaku kehidupan sehari-hari.[29]

Dari beberapa pengertian pendidikan di atas, kalau kita telaah lebih jauh, meskipun batasan yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan selintas berbeda, namun kiranya dapat ditarik benang merah bahwa pendidikan merupakan suatu usaha maksimal dalam rangka mengembangkan potensi dan kualitas yang dimiliki “calon Manusia” dalam segala aspeknya. Jadi, pendidikan merupakan seluruh aktifitas yang memang sengaja dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu dengan melibatkan berbagai komponen yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga membentuk satu sistem yang saling mempengaruhi.

2. Pengertian Aqidah

Secara etimologis (bahasa) “Aqidah” berakar kata dari :           (عقد-يعقد-عقدا-عقيدة)yang mempunyai arti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Setelah menjadi “aqidah”, mempunyai arti keyakinan atau kepercayaan.[30] Relevansi antara akar kata “aqdun” dengan kata “aqidah” adalah keyakinan atau kepercayaan yang tersimpul kokoh di dalam hati, besifat mengikat dan mengandung perjanjian. Kata Aqidah sudah menjadi bagian dari kosa kata bahasa Indonesia, berasal dari bahsa Arab yang memiliki arti yang dipercaya hati. Alasan yang digunakan kata Aqidah adalah untuk mengungkapkan makna kepercayaan atau keyakinan yang merupakan pangkal dan sekaligus tujuan dari segala perbuatan mukallaf. Di dalam istilah agama diterjemahkan “kepercayaan” (belief), “keyakinan dalam kehidupan”. Dan karena adanya keyakinan, maka tumbuhlah kepercayaan, yang dalam istilah agama disebut “Iman”.[31]

Secara terminologis (Istilah), terdapat beberapa definisi tentang aqidah, antara lain sebagai berikut:                                        a. Menurut Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya

Al-‘Aqidah Al Wasithiyah sebagaimana yang dikutup oleh

Mustafa  Al-Alim, mendefinisikan aqidah sebagai berikut :

اما الاعتقاد فلا يؤ خد عنى و لا عمن هو اكبرمنى بل يؤ خد عن الله تعلى

و عن رسوله صلى الله عليه وسلم وعما اجمع عليه سلف الا مة

“Adapun itikad/keyakinan itu bukanlah diambil dariku dan bukan pula diambil dari orang-orang yang lebih besar daripadaku, akan tetapi diambil langsung dari Allah Yang Maha Luhur dan dari Rasul-Nya SAW. serta pendapat yang telah disepakati oleh umat terdahulu”.[32]

b. Menurut Hasan Al Bana dalam kitab Majmu’ah ar-Rasail mendefinisikan :[33]

العقا ئد هي ا لامور يحب ان يصد ق بهاقلبك وتطمئن اليهانفسك وتكون يقينا

عندك لايمازجه ريب ولا يخالطه شك

Aqa’id (bentuk jamak dari ‘aqidah) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, dan menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan”

.

c.   Menurut Abu Bakar Jabir al Jazairi dalam kitabnya ‘Aqidah al

Mukmin ‘, menyatakan sebagaiberikut :[34]

العقيدة هي مجموعة من قضاياالحق البد هية المسلمة بالعقل والسمع والفطرة  يعقد عليهاالانسان قلبه ويثي عليها صدره جازما بصحتها وقاطعا بوجودهاوثبوتهالايرى خلا فها انه يصح او يكون ابدا

‘Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia yang berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran itu ditanamkan di dalam hati serta diyakini keshahihan dan keberadaanya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu”

Sedangkan menurut Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqie, yang dimaksud dengan aqidah ialah pendapat dan pikiran atau anutan yang mempengaruhi jiwa manusia, lalu menjadi sebagai suatu bagian dari manusia sendiri, dibela, dipertahankan dan di’itikadkan bahwa hal itu adalah benar.[35]

Berdasarkan pengertian yang telah dipaparkan oleh beberapa ulama di atas dapat disimpulkan bahwa aqidah merupakan keyakinan, kepercayaan sebagai anugrah dari Allah SWT. yang harus dijaga dan dipelihara dalam jiwa yang erat kaitannya dengan rukun Iman dan merupakan dasar dari seluruh ajaran Islam. Setiap manusia memiliki fitrah mencari, mengakui kebenaran adanya tuhan, indra untuk mencari kebenaran, akal untuk menguji kebenaran dan wahyu menjadi pedoman dalam menentukan yang baik dan buruk, yang benar dengan salah. Dalam beraqidah hendaknya manusia menempatkan fungsi masing-masing instrumen yang dimiliki dirinya dalam posisi yang benar, kongkritnya bahwa setiap manusia memiliki fitrah bertuhan, dengan indra dan akalnya dia bisa membuktikan adanya Tuhan, tetapi hanya dengan wahyulah yang menunjukan kepadanya siapa tuhan yang sebenarnya.

3. Pengertian Akhlaq

Dari sudut kebahasaan (linguistik), akhlaq berasal dari bahasa Arab, yaitu isim mashdar (bentuk infinitif) dari kata akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan, (اخلق- يخلق –اخلقا) yang berarti al-sajiyah (perangai), ath-thabi’ah (kelakuan, tabi’at, watak dasar), al-adat (kebiasaan, kelaziman), al-muru’ah (peradaban  yang baik) dan al-din (agama).[36]

Kalimat tersebut erat kaitannya dan mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan “Khalqun” ( خلق ) yang berarti kejadian, serta erat hubungannya dengan “Khaliq” ( خالق ) yang berarti Pencipta, dan “makhluq” ( مخلو ق) yang berarti yang diciptakan.

Perumusan pengertian “akhlaq” timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara Khaliq dengan makhluq dan antara makhluq dengan makhluq.

Perkataan ini bersumber dari kalimat yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Qalam ayat 4 yaitu :

وانك لعلى خلق عظيم ( القلم- 4 )

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang

agung”.[37]

Pengertian akhlaq secara kebahasaan ini dapat membantu kita dalam memahami dan menjelaskan pengertian akhlaq dari segi istilah.

Untuk menjelaskan pengertian akhlaq dari segi istilah ini kita dapat merujuk kepada berbagai pendapat para pakar dibidang ini, antara lain :

  1. Ibnu Maskawai pakar bidang akhlaq terkemuka mengatakan, bahwa akhlaq adalah :

حال للنفس داعية لها الى ا فعلها من غيرفكرولاروية

“Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan (perbuatan) tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.[38]

  1. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulim al-Din mengatakan bahwa akhlaq adalah:

عبارة عن هيئة في النفس راسخة عنها ثصدرالافعال بسهولة ويسر من غير

حاجة الى فكر ورؤية

“Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.[39]

Sedangkan Ahmad Amin memberikan batasan akhlaq secara terminologi (istilah) ialah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengah manusia kepada yang lainnya, menyatakan tujuan yang harus ditunjukan oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukan jalan untuk apa yang harus diperbuat.[40]

Keseluruhan definisi akhlaq tersebut di atas tampak tidak ada yang bertentangan, melainkan memiliki kemiripan antara yang satu dengan lainnya. Definisi-definisi akhlaq tersebut secara substansial tampak saling melengkapi, dari gambaran itu kita dapat melihat lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlaq, yaitu :

Pertama, perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadian

Kedua, perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran. Pada saat yang bersangkutan melakukan suatu perbuatan ia tetap sehat akal pikirannya dan sadar.

Ketiga, bahwa perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar, dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan.

Keempat, bahwa perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara.

Kelima, sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlaq (khususnya akhlaq yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah SWT. bukan karena ingin dipuji orang atau mendapatkan sesuatu pujian. Sesorang yang melakukan perbuatan bukan atas dasar karena Allah SWT. tidak dapat dikatakan perbuatan akhlaq.[41]

Keseluruhan penjelasan di atas, baik definisi tentang pendidikan, aqidah dan akhlaq ditinjau dari segi etimologi (bahasa) maupun terminologi (istilah) masih bersifat parsial (sebagaian) artinya, hanya dilihat dari objek kajian masing-masing pembahasan tersebut dan belum dipadukan menjadi satu kesatuan arti menjadi bidang studi yang diajarkan di madrasah aliyah. Namun dari beberapa definisi tersebut dapatlah dipahami dan mengantarkan makna yang bisa menjelaskan objek kajian Pendidikan  Aqidah Akhlaq.

Sebagai konsep bidang studi, Pendidikan Aqidah Akhlaq adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengimani Allah SWT. dan merealisasikannya dalam prilaku akhlaq mulia dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk dalam bidang keagamaan, pendidikan ini juga diarahkan pada peneguhan aqidah di satu sisi dan peningkatan toleransi serta saling menghormati dengan penganut agama lain dalam rangka mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa.[42]

Mata pelajaran Aqidah Akhlaq bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan siswa-siswi Madrasah Aliyah yang diwujudkan dalam akhlaqnya yang terpuji, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pemahaman serta pengalaman para siswa tentang Aqidah Akhlaq Islam, sehingga menjadi manusia Muslim yang terus berkembang dan meningkat kualitas keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT. serta berakhlaq mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.[43]

Pendidikan Aqidah Akhlaq di Madrasah Aliyah sebagai bagian yang integral dari pendidikan agama, memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan watak dan kepribadian peserta didik. Tetapi secara substansial mata pelajaran Aqidah Akhlaq memiliki kontribusi yang besar dalam memberikan motivasi (dorongan) kepada peserta didik untuk mempraktekkan nilai-nilai keyakinan keagamaan (tauhid) dan al akhlaq al karimah dalam kehidupan sehari-hari.

B. Dasar dan Tujuan Aqidah Akhlaq

1. Dasar Aqidah Akhlaq

Sebelum menjelaskan apa yang menjadi dasar atau pondasi dan sumber penelaahan Pendidikan Aqidah Akhlaq, terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian dasar dan istilah lain yang sering dikaitkan dengannya yaitu asas atau sumber Aqidah Akhlaq. Dasar Aqidah Akhlaq merupakan rujukan pokok dari segala persoalan pendidikan Aqidah Akhlaq.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah dasar bersinonim dengan istilah asas, yakni sesuatu yang menjadi landasan, tempat berpijak, titik tolak dari suatu pekerjaan atau gerakan. Keduanya berarti suatu kebenaran yang menjadi pokok dasar atau tumpuan berpikir. Dasar adalah terjemahan dari basic reference, sementara asas terjemahan dari foundation. Karena itu, dasar  dan asas merupakan dua hal yang berbeda wujudnya walau antara keduanya berkaitan erat.[44]

Dasar pendidikan Aqidah Akhlaq identik dengan dasar ajaran Islam itu sendiri. Keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Al Qur’an dan Al Hadits. Dari kedua sumber inilah, kemudian muncul sejumlah gagasan, pemikiran, hukum mengenai masalah umat Islam yang meliputi berbagai aspek kehidupan. Secara garis besar sumber penelaahan tersebut dapat diidentifikasikan ke dalam Al Qur’an dan Al Hadits, yang kemudian keduanya menghasilkan berbagai pendapat para ahli dibidangnya.

  1. Al-Qur’an Al-Karim

Secara etimologis (bahasa), kata “Qur’an” menurut pendapat yang paling kuat artinya “bacaan”, asal kata  qaraa. Kata Al-Qur’an terbentuk mashdar dengan arti isim maf’ul yaitu maqru (dibaca). Kemudian dipakai kata “Qur’an” itu untuk Al-Qur’an yang dikenal sekarang. Adapun definisi Al-Qur’an secara terminologi (istilah) ialah kalam Allah SWT. yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW. dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah.[45]

Al Qur’an adalah sebuah dokumen untuk umat manusia.[46] Yang secara harfiah berarti “bacaan sempurna” merupakan suatu nama pilihan Allah SWT. yang sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi Al Qur’an Al Karim, bacaan sempurna lagi mulia. Tiada bacaan semacam Al Qur’an yang dibaca oleh ratusan juta manusia yang tidak mengerti artinya dan atau tidak dapat menulis dengan aksaranya. Bahkan dihafal huruf demi huruf oleh orang dewasa, remaja dan anak-anak.[47]

Menurut Muhammad Ali Ash-Shabuni, Al Qur’an adalah firman Allah SWT. yang mu’jiz, diturunkan kepada seorang nabi yang terakhir, melalui Al-Amien Jibril yang tertulis dalam mashahif, yang diriwayatkan kepada kita dengan mutawatir, merupakan ibadah bila membacanya, dimulai dari surat Al Fatihah, dan diakhiri dengan surat An-Naas.[48] Lebih jelasnya Al-Qur’an merupakan wahyu Allah SWT. yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk Islam, jika dibaca menjadi ibadah kepada Allah SWT.[49]

Di antara keunggulan Al-Qur’an ialah, dengan keilmiahannyaa Al-Qur’an mampu menundukan dan menaklukkan orang-orang sombong. Pemikiran modern dalam berbagai bidang disiplin ilmu dewasa ini telah menetapkan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab ilmiah yang menghimpun segala disiplin ilmu dan filsafat. Setiap penemuan baru sebenarnya telah ditemukan dalam Al-Qur’an, dan Al-Qur’an telah lebih dulu menjelaskannya.[50]

Al-Quran memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan aqidah, syari’ah, dan akhlaq, dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsipil mengenai persoalan-persoalan tersebut. Dan Allah SWT. menugaskan Rasul SAW. untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu.[51]

Adapun garis-garis besar atau pokok-pokok isi kandungan Al-Qur’an meliputi: pertama, tauhid yaitu kepercayaan terhadap Allah SWT., Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitabnya, para Rasul-Nya, hari Kemudian serta Qadha dan Qadar yang baik dan buruk; kedua, tuntutan ibadah sebagai perbuatan yang menghidupkan jiwa tauhid; ketiga, janji dan ancaman, Al-Qur’an menjanjikan pahala bagi siapa saja yang mau menerima dan mengamalkan isinya dan mengancam mereka yang mengingkarinya dengan siksa; keempat, hukum yang dihajati pergaulan hidup bermasyarakat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat; kelima, berisi inti sejarah orang-orang yang tunduk kepada Allah SWT., yaitu orang-orang yang sholeh seperti para Nabi dan para Rasul, serta orang-orang yang durhaka kepada Allah SWT. maksud dari sejarah ini sebagai ibrah (pelajaran) bagi orang yang hendak mencarai kebahagiaan dan meliputi tuntunan akhlaq.[52]

Al Qur’an sebagai kitab suci terakhir dimaksudkan untuk menjadi petunjuk, bukan saja bagi anggota masyarakat tempat Al Qur’an diturunkan, tetapi juga bagi seluruh masyarakat manusia hingga akhir zaman. Tema –tema yang terdapat di dalamnya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, seperti pola hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antara manusia dengan manusia dan hubungan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Al Qur’an merupakan sumber pertama dan utama bagi ajaran Islam. Al Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat, baik menyangkut kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.

  1. Al-Hadits

Secara etimologis (bahasa) kata Hadits berasal dari bahasa Arab. Berasal dari kata Al Hadits, jamaknya: Al Ahadits Al Haditsan dan Al Hudtsan. Kata ini memiliki banyak arti, diantaranya: Al Jadid (yang baru), lawan dari Al Qadim (yang lama), dan Al Khabar, yang berarti kabar atau berita.[53] Demikian secara lateral hadits juga bermakna komunikasi, cerita, perbincangan; religius atau sekuler, historis atau kekinian.[54]

Dengan demikian secara terminologi (istilah), pengertian hadits menurut Jumhur Al Muhaditsin ialah:

ما اضيف الى النبي صلى الله عليه و سلم قو لااو فعل او تقريرا اونحوها

“Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan (taqrir) dan sebagainya”[55]

Kata hadits menunjukan kepada makna atau sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi SAW., baik berupa prilaku, perkataan, persetujuan beliau akan tindakan para shahabat, atau deskripsi tentang sifat dan karakternya. Sifat ini menunjukkan  kepada penampilan fisikal beliau.[56]

Terkadang ada istilah lain yang digunakan untuk mengungkap makna yang sama dengan arti Hadits, seperti atsar dan khabar. Kadang para ahli menggunakan ketiga istilah tersebut sebagai sinonim. Dan ada lagi kata yang penggunanannya kadang sering menggantikan arti hadits, yaitu sunah.

Sunnah menurut kamus Arab bermakna; jalan, arah,peraturan, mode atau cara tentang tindakan atau sikap hidup. Sunnah bermkana teladan kehidupan, sehingga sunnah Nabi bermakna teladan kehidupan beliau. Sedangkan hadits mempunyai arti segala sesuatu yang nisbahkan kepada kehidupan Nabi. Oleh sebab itu kedua istilah tersebut sering dipakai secara bergantian, walaupun ada sedikit perbedaan di antara keduannya. Sebuah hadits mungkin tidak mencakup sunnah, atau sebuah hadits bisa saja merangkum lebih dari sebuah sunnah.[57]

Hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al Qur’an. Karenanya  hadits berfungsi sebagai penopang dan penyempurna Al Qur’an dalam menjelaskan hukum-hukum syara. Keduanya merupakan satu kesatuan, saling menopang secara sempurna dalam menjelaskan syari’ah. Di dalam melakukan istinbat hukum, tidak seyogyanya hanya membatasi dengan memakai dalil-dalil Al Qur’an saja, tanpa memperhatikan penjabaran (syarah) dan penjelasan (bayan), yaitu Hadits. Sebab di dala Al Qur’an itu sendiri terdapat banyak hal-hal yang masih global (kulli). Kedudukan Hadits sebagai sumber hukum kedua setelah Al Qu’an dijelaskan dalam ayat berikut:

يايهاالدين امنوااطيعواالله واطيعواالرسول واولى الامر منكم…..

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil amri diantara kamu”….(QS. Al-Nisa : 59)

Nash Al Qur’an tersebut mengandung makna perintah untuk mengikuti dan mentaati ajaran Al Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW. Menurut Abu Zahrah, hadits berasal dari Al Qur’an, dan Nabi hanya sebagai penyambung lidah dan penjelas hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, serta pelengkap terhadap syari’at Allah SWT.[58] Melihat kedudukan hadits sangat penting  sebagai sumber ajaran Islam, maka setiap muslim harus mempelajari Hadits dan mendalami ilmu-ilmunya, agar dapat mengetahui dan memahami hal ihwal Hadits secara maksimal untuk pengamalan syari’at Islam.

Pada sisi lain, Hadits yang merupakan penafsiran Al Qur’an adalah landasan praktik ajaran Islam secara faktual. Pribadi Nabi Muhammad SAW. merupakan perwujudan dari Al Qur’an yang ditafsirkan untuk manusia sebagai aktualisasi ajaran Islam yang dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya, hadits menjadi salah satu sumber ajaran Islam. Pemahaman itu didasarkan atas beberapa argumen baik berupa argumen naqli maupun ‘aqli.[59]

Al Qur’an dan Hadits Rasul SAW. yang menjadi landasan dan sumber ajaran Islam secara keseluruhan sebagai pola hidup dan menetapkan mana yang baik dan mana yang buruk. Sebagai pedoman hidup muslim yang memberikan bimbingan kepada kebenaran dan menghindarkan dari kehidupan yang menyesatkan. Hal itu seperti yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Al Hakim dari Abu Hurairah, yaitu:

تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعد هماكتاب الله وسنتي

“Telah aku tinggalkan kepadamu dua pedoman, yang (keduanya) tidak (akan) menyesatkan kamu, sesudah (kamu berpegang kepada) keduanya, yaitu kitab Allah (Al Qur’an) dan sunnahku”.[60]

Al Qur’an dan Hadits Rasul SAW. seperti yang tersebut dalam hadits di atas, keduanya merupakan tuntunan hidup yang memberikan bimbingan kepada orang-orang yang beriman kepada kebaikan. Dengan demikian mereka dapat berbuat baik sebanyak-banyaknya sesuai dengan petunjuk keduanya, dapat mengendalikan hawa nafsunya sehingga mereka terhindar dari kehidupan yang menyesatkan. Al Qur’an berisikan perintah-perintah Allah SWT yang wajib dilaksanakan, dan larangan-larangan-Nya wajib ditinggalkan. Begitu juga dengan Sunnah Rasulullah SAW. berisikan petunjuk-petunjuk yang wajib dilaksanakan dan larangan yang wajib ditinggalkan. Hal ini berarti bahwa mengikuti Rasulullah SAW. pada dasaranya juga mengikuti Allah SAW. seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an surat An-Nisa ayat 80, yaitu:

من يطع الله الرسول فقد اطاع الله   (النساء:80)

“Barang siapa yang mentaati Rasul itu sesungguhnya ia telah mentaati Allah”.[61]

Jika telah jelas bahwa Al Qur’an dan Sunnah Rasul SAW. adalah pedoman hidup yang menjadi asas bagi setiap muslim, maka teranglah keduanya merupakan sumber moral dalam Islam. Firman Allah SWT. dan Sunnah Nabi-Nya adalah ajaran yang paling mulia dari segala ajarana manapun hasil renungan dan ciptaan manusia, sehingga telah menjadi keyakinan (aqidah) Islam bahwa akal dan naluri manusia harus tunduk dan patuh mengikuti petunjuk dan pengarahannya. Dari pedoman itulah diketahui kriteria mana perbuatan yang baik dan jahat, mana yang halal dan mana yang diharamkan.[62]

Al Qur’an dan Sunah Rasul SAW. merupakan landasan dan pedoman utama orang-orang yang beriman itu perlu dipelajari, dikaji, diamalkan serta diajarkan dan disampaikan kepada sesama manusia, terutama kepada mereka yang mempunyai pengetahuan terbatas, supaya mereka dapat memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam hidupnya. Seruan untuk mengajak mereka memahami dan mengamalkan ajaran Islam itu dilakukan sesuai dengan keberadaan dan tingkat kemampuan pemahaman mereka. Hal ini seperti disebutkan dalam Hadits yang diriwayatkan oleh At-Thabrani dar Abi Bakrah, yaitu:

اغد عالما اومتعلمااو مستمعااومحباولاتكن الخامسة فتهلك

“Di waktu pagi (segeralah tunaikan tugas) sebagai orang alim (pendidik,pengajar) atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan, atau orang yang mencintai ilmu. Dan janganlah menjadi orang yang ke lima (orang yang tidak termasuk salah satu yang tersebut) maka kamu akan binasa”.[63]

Agar kedua sumber ajaran Islam menjadi bagian integral dari kehidupan setiap muslim, maka memiliki, mempelajari memahami dan mengamalkan kedua sumber ajaran Islam ini menjadi sebuah kaharusan. Dalam hal ini mempelajari Al Qur’an dan Sunnah Rasul SAW. itu memerlukan bimbingan dan arahan dari orang-orang yang ahli pada bidang tersebut, baik secara langsung dibimbing oleh mereka atau dengan mempelajari karya-karya mereka yang menjelaskan tentang isi kandungan Al Qur’an dan Sunah Rasul SAW. seperti anjuran yang disebutkan dalam Al Qur’an surat Al-Anbiya ayat 7, yaitu:

فاسئلوا اهل الد كر ان كنتم لاتعلمون

“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui”.[64]

Dengan senantiasa berpedoman dan berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunah Rasul SAW. serta selalu berada disekitar orang-orang yang ahli dalam bidang tersebut dan mengamalkannya, maka kehidupan kita akan mendapatkan bimbingan dan arahan untuk meraih tatanan kehidupan yang lebih baik, kebahagian di dunia dan kelak di akhirat.

  1. Tujuan Aqidah Akhlaq

Manusia adalah para pelaku yang menciptakan sejarah. Gerak sejarah adalah gerak yang menuju suatu tujuan. Tujuan tersebut berada di hadapan manusia, berada di “masa depan” . sedangkan masa depan yang bertujuan harus tergambar dalam benak manusia. Dengan demikian, benak manusia merupakan langkah pertama dari gerak sejarah, atau dengan kata lain, “dari terjadinya  perubahan”.[65] Perubahan yang terjadi pada diri seseorang harus diwujudkan dalam suatu landasan  yang kokoh serta berkaitan erat dengannya, sehingga perubahan yang terjadi pada dirinya itu menciptakan arus, gelombang, atau paling sedikit riak yang menyentuh orang-orang yang ada di sekitarnya. Nilai-nilai yang mendorong pengalaman dan aktifitas, dan yang dirasakan oleh manusia mempengaruhi dan menguasai seluruh jiwa raganya, dinamai oleh Al-Qur’an ilah (tuhan). Karena itu, hawa nafsu pun dapat menjadi ilah bila ia mengarahkan manusia ke arah yang dikehendaki oleh hawa nafsu itu. Semakin luhur dan tinggi suatu nilai, semakin luhur dan tinggi pula yang dapat dicapai. Bagi umat Islam, nilai yang harus mengarahkan seluruh aktifitasnya, lahir batin dan kepadanya bermuara seluruh gerak langkah dan detak jantung, adalah tauhid (keesaan Allah SWT).[66]

Manusia sebagai makhluk Allah SWT. berfungsi menjadi khalifah di bumi guna memakmurkannya serta memanfaatkan segala apa yang ada padanya sesuai dengan garis-garis besar haluan hidup yang ditetapkan Allah SWT. manusia memikul amanat serta bertaqwa dan beribadah kepada-Nya serta menjauhkan segala larangan-Nya semata-mata karena patuh dan cinta kepada-Nya. Maka Allah SWT. memberikan anugrah kepada manusia unsur-unsur potensial berupa kelengkapan, keunikan, kelemahan serta keistimewaan. Kelegkapan manusia terletak pada khalqiyahnya, berupa indera dan anggota badan sebagai alat dan pusat daya karya dengan mengembangkan kekuatan fisik serta kemampuan berkarya, aqliyah berupa akal sebagai alat dan pusat daya cipta dengan menumbuhkan kemampuan penalaran dan pemikiran, fitrah atau potensi berupa kemampuan daya cipta, daya rasa, daya karsa dan karya dan sarana hidup. Keunikan manusia terletak pada sifat-sifat manusia yang selalu berubah-ubah yaitu; tergesa-gesa, berfikir pendek, membantah, berkeluh kesah, gelisah, kikir, putus asa. Kelemahan manusia terletak pada; bersusah payah dalam mencapai cit-cita, doif dan lemah, suka melampaui batas. Keistimewaan manusia, ia merupakan makhluk yang paling mulia, sebagai khalifah, mempunyai tujuan hidup, makhluk yang diberi peraturan-peraturan hidup untuk dapat melaksanakan tugas dan perannya dalam rangka mencapai tujuan dan kebahagiaan.[67]

Agar umat Islam itu bangkit menjadi umat yang mampu mewujudkan misi “rahmatan lil’alamiin”, sebagai hamba dan khalifah Allah SWT., maka seyogyanya mereka memiliki pemahaman secara utuh (kaffah) tentang Islam itu sendiri. Umat Islam tidak hanya memilki kekuatan dalam bidang imtaq (iman dan taqwa), tetapi juga dalam bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Mereka diharapkan mampu mengintegrasikan antara pengamalan ibadah ritual (yang oleh sebagian orang dipandang sebagai bagian simbolik dari kesadaran beragama) dengan makna esensial ibafah itu sendiri yang dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, seprti: pengendalian diri, sikap sabar, amanah, jujur, sikap adil, sikap altruis, sikap toleran, dan sling menghormati (sikap silaturahmi), tidak suka menyakiti, melecehkan, atau menghujat orang lain. Dapat juga dikatakan bahwa umat Islam itu seyogyanya mampu menyatupadukan antara nilai-nilai mahdlah (hablumminallah) dengan ibadah ghair mahdlah (hablumminannas) dalam rangka membangun “baldatun thayyibatun warabbun ghafuur” (negara yang subur makmur gemah ripah lohjinawi dan penuh pengampunan Allah SWT.[68]

Umat Islam yang telah memiliki keimanan yang kokoh terhadap Allah SWT. dan beristiqamah dalam mengamalkan perinyah-Nya , maka hidupnya berada dalam suasana batin, kejiwaan atau psikologis yang tenang, tentram, nyaman dan mampu mengatasi perasaan gelisah, cemas atau stres dan frustasi pada saat mengalami masalah atau musibah. Dalam Al-Qur’an, surat Fushshilat ayat 30, Allah SWT. berfirman:

ان الدين امنواقالواربناالله ثم استقمواتتنزل عليهم الملئكة الا تخافوا ولاتحزنوا وابشرواباالجنة التى كنتم توعدون

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Allah Tuhan kami kemudian mereka beristiqamah, maka turun kepada mereka malaikat (seraya berkata) janganlah engkau takut (cemas) dan bersedih hati (frustasi) dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepadamu”.

Ketentraman batin juga diperoleh oleh setiap orang muslim, karena mereka senantiasa berdzikir kepada Allah SWT., seperti; pertama, mendawamkan ucapan kalimat tasbih (subhaanallaah = Maha Suci Allah), tahmid (alhamdulillah = segala puji bagi Allah), takbir (Allahu akbar = Allah Maha Besar) dan tahlil (laailaaha illallahu = Tiada Tuhan selain Allah); kedua, membaca dan menelaah Al-Qur’an; ketiga, memikirkan atau menelaah alam sebagai ciptaan Allah SWT. yang Maha Agung, dan keempat, senantiasa bersikap ikhlas terhadap takdir atau ketentuan dari Allah SWT. yang tidak menyenangkan, seperti penyakit, kecacatan tubuh, kemiskinan, kecelakaan dan musibah lainnya.[69]

A

Sesuai dengan pola hidup yang diajarkan Islam, bahwa seluruh kegiatan hidup, harta bahkan kematian sekalipun semata-mata dipersembahkan kepada Allah SWT. ucapan yang selalu dinyatakan dala do’a iftitah shalat, merupakan bukti nyata bahwa tujuan tertinggi dari segala tingkah laku menurut pandangan etika Islam adalah mendapatkan ridha Allah SWT.[70]

Hal senada dikemukakan oleh Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, bahwa tujuan tertinggi agama dan akhlaq Islam ialah menciptakan kebahagiaan dua kampung (dunia dan akhirat), kesempurnaan bagi individu dan menciptakan kebahagiaan, kemajuan, kekuatan dan keteguhan bagi masyarakat. Agama Islam atau akhlaq Islam tidak terbatas tujuannya untuk mencapai kebahagiaan akhirat yang tergambar dalam mendapat keridlaan, keampunan, rahmat dan pahalanya dan juga mendapat kenikmatan akhirat yang dijanjikan oleh Allah SWT. kepada orang-orang baik dan bertaqwa yang telah ditunjuk oleh banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits-hadits Nabi SAW.[71]

Suatu hal yang tidak berlebihan, bahwa setiap manusia yang mempunyai akal sehat mendambakan tatanan kehidupan yang lebih baik, layak, harmonis, dinamis sejahtera lahir dan batin walaupun realitanya kadang-kadang tidak sesuai dengan harapannya. Demikian halnya dengan umat Islam apabila mengharapkan dan mendambakan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat, maka umat Islam harus melakukan hal-hal yang terbaik, ia harus baik dan selalu berusaha memperbaiki hubungannya dengan Allah SWT. (habluminallah), dan juga hubungannya dengan sesama manusia (habluminannas). Apapun hasil yang terbaik, mendapatkan ridla Allah SWT. merupakan tujuan final hidup ini.

C. Ruang lingkup Akhlaq Islami

Baik dan buruk merupakan dua istilah yang banyak digunakan untuk menentukan suatu perbuatan yang dilakukan seseorang. Baik adalah terjemahan dari kata “khair” dalam bahasa Arab, atau kata “good” dalam bahasa Inggris. Yang dimaksud baik atau kebaikan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan yang luhur, bermartabat dan menyenangkan dan disukai oleh manusia. Definisi kebaikan tersebut terkesan anthropocentris, yakni memusat dan bertolak dari sesuatu yang menguntungkan dan menyenangkan manusia. Pengertian baik yang demikian tidak ada salahnya karena secara fitrah manusia memang menyukai hal-hal yang menyenangkan dan membahagiakan dirinya. Kesempurnaan, keharuan, kepuasan, kesenangan, kebenaran, kesesuaian dengan keinginan, mendatngkan rahmat, memberikan perasaan senang dan bahagia dan yang sejalan dengan itu adalah merupakan sesuatu yang dicari dan diusahakan manusia, karena semuanya itu dianggap sebagai yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi dirinya.[72]

Mengetahui sesuatu yang baik sebagaimana disebutkan di atas akan mempermudah dalam mengetahui yang buruk. Dalam bahasa Arab yang buruk itu disebut dengan istilah “syarr”, dan diartikan sebagai sesuatu yang tidak baik, yang tidak seperti yang  seharusnya, tak sempurna dalam kualitas, di bawah standar kurang dalam nilai, tak mencukupi, keji, jahat, tidak bermoral tidak menyenangkan, tidak dapat disetujui, tidak dapat diterima, sesuatu yang tercela, lawan dari baik, dan perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku. Dengan demikian yang dikatakan buruk itu adalah sesuatu yang nilai sebaliknya dari yang baik, dan tidak disukai oleh manusia.[73]

Adanya berbagai istilah baik  dan kebaikan yang demikian variatif yang diberikan Al-Qur’an dan Hadits itu menunjukkan bahwa penjelasan tentang sesuatu yang baik menurut ajaran Islam jauh lebih lengkap dan komprehensif dibandingkan dengan arti kebaikan yang dikemukakan sebelumnya. Berbagai istilah yang mengacu kepada kebaikan itu menunjukan bahwa kebaikan dalam pandangan Islam meliputi kebaikan yang bermanfaat bagi fisik, akal, rohani, jiwa, kesejahteraan di dunia dan kesejahteraan di akhirat serta akhlaq yang mulia.

Selanjutnya dalam menentukan perbuatan yang baik dan buruk itu, Islam memperhatikan kriteria lainnya yaitu dari segi cara melakukan perbuatan iti. Seseorang yang berniat baik tapi dalam melakukannya menempuh cara yang salah, maka perbuatan tersebut dipandang tercela. Orang tua yang memukul anaknya hingga cacat seumur hidup tetap dinilai buruk, sungguhpun niatnya agar anak tersebut menjadi baik. Demikian pula seseorang yang mengeluarkan sedekah dianggap baik menurut agam, tetapi jika cara memberikan sedekah tersebut dapat menyakitkan hati si penerima, maka perbuatan tersebut dinilai tidak baik.

Disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 263, yaitu:

قول معروف ومغفرة خيرمن صدقة يتبعهاادى والله غني حليم

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik

dari sedekah yang diiringi sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima), Allah SWT. Maha Kaya lagi Maha Penyayang”.[74]

Namun demikian Al-Qur’an dan Hadits Rasul SAW. bukanlah sumber ajaran yang ekslusif atau tertutup. Kedua sumber hukum tadi bersikap fleksibel, dinamis dan terbuka untuk menghargai bahkan menampung pendapat akal pikiran, adat istiadat dan sebagainya yang dibuat oleh manusia, dengan catatan semuanya iyu tidak bertentangan atau sejalan dengan petunjuk Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW.

Adapun ruang lingkup akhlaq Islami merupakan akhlaq atau tingkah laku atau perbuatan yang senantiasa berdasarkan atas prinsip-prinsip dasar ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW., antara lain meliputi:

  1. Akhlaq kepada Allah SWT.

a. Beribadah kepada Allah SWT.

Salah satu tugas hidup manusia adalah beribadah dan mengabdikan hidupnya kepada Allah SWT. baik dalam arti yang khusus secara vertikal tegak lurus kepada Allah SWT.(mahdhah) maupun ibadah dalam arti yang luas secara horizontal terhadap sesama manusia (ghair mahdhah) namun tetap aja pada hakekatnya kepada Allah SWT.

وماخلقت الجن والانس الاليعبدون

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(QS. Adz-Dzariya : 56)[75]

b. Cinta kepada Allah SWT.

Mencintai Allah SWT. di atas segala-galanya yaitu dengan mencintai dan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Hal ini seperti disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari Anas, yaitu:

عن انس رضى الله عنه عنالنبى صلى الله عليه وسلم قال : ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الايمان ان يكون الله ورسوله احب الله مماسوهما وانيحب المرء لايحبه الاالله وانيكره انيعودفى الكفر كما يكره ان يقدف فى النار

“Dari Anas RA. dari Nabi SAW. bersabda : Ada tiga perkara, barang siapa mencapainya ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu:1) Bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada apapun yang lain, 2) bahwa ia cinta kepada seseorang tetapi cintanya itu tidak lain karena cintanya kepada Allah, 3) bahwa ia tidak suka kembali menjadi kafir seperti halnya bencinya kalau dilemparkan ke dalam api neraka”. [76]

c. Beramal karena Allah

Ikhlas dalam beramal, yaitu bersikap lillaahi ta’ala, atau hanya untuk mencari ridha Allah SWT. semata dalam melakukan semua perbuatannya. Orang yang tidak ikhlas dalam beramal  berarti dia mempunyai sifat riya’ (ingin dipuji, atau pamrih pujian orang lain). Orang yang mempunyai penyakit riya tidak ada akan bahagia dalam hidupnya.[77] Dorongan beramal dengan ikhlas seperti yang difirmankan oleh Allah SWT. dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 yaitu:

وما امرواالاليعبدواالله مخلصين له الدين حنفاءويقيمواالصلوةويؤتواالزكوة ودلك دين القيمة

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan ikhlas, atau memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”.[78]

  1. Akhlaq kepada Rasulullah SAW.

a. Taat kepada Rasulullah SAW.

Dorongan agar senantiasa taat dan patuh kepada Rasulullah SAW. serta dampak ketika melaksanakan hal tersebut dapat kita lihat dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 132 yaitu:

واطيعواالله والرسول لعلكم ترحمون

“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat”.[79]

a. Cinta kepada Rasulullah SAW.

Mencintai Rasulullah SAW. artinya mencurahkan segenap perhatian dan kemampuan untuk senantiasa mencintai dan melaksakan serta melestarikan ajarannya, dan Rasulullah SAW. menjadi satu-satu pigur sentral tauladan dalam kehidupan ini. Hal ini seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas, yaitu:

عن انس رضي الله عنه عن النبى صلى الله عليه وسلم قال : لايؤمن احد كم حتى اكون احب اليه من والده وولد والناس اجمعين.

“Dari Anas RA. Dari Nabi SAW. bersabda: Tidak beriman salah seorang diantaramu, sehingga aku lebih dicintainolehnya daripada dirinya, orang tuanya, anaknya dan manusia semuanya”.[80]

  1. Akhlaq kepada Ulama dan Ulil Amri

Akhlaq kepada Ulama dan Ulil Amri, antara lain dengan senantiasa taat dan patuh serta mengikuti aturan-aturannya selama hal itu tidak bertentangan dengan aturan Allah SWT., akan tetapi jika aturan yang mereka buat tidak sesuai atau bertentangan dengan aturan Allah maka tidak boleh dan tidak wajib taat pada mereka. Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Umar, yaitu:

عن ابن عمرعن النبى صلى الله عليه وسلم قال: على المرءالمسلم السمع والطاعة فيما احب وكره الا ان يؤمر بمعصيةفاداامر بمعصية فلا سمع ولاطاعة

“Dari Ibnu Umar RA. Dari Nabi SAW. bersabda: Kewajiban seorang muslim itu taat dan patuh (kepada pemimpin), baik dalam hal yang ia sukai ataupun tidak, kecuali jika ia diperintahkan untuk berbuat maksiat. Maka jika diperintah berbuat maksiat maka ia tidak wajib patuh dan menataatinya”. [81]

  1. Akhlaq terhadap Orang Tua

a. Berbuat baik kepada ibu dan bapak

Dorongan berbuat baik kepada kedua orang tua disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 23, yaitu:

وقضى ربك الا تعبدواالااياه وبالوالدين احسانا…

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaknya kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”.[82]

b. Taat dan patuh terhadap perintah Ibu dan Bapak

Kita harus taat dan patuh terhadap kebijakan orang tua jika hal itu tidak bertentangan dengan aturan-aturan Allah SWT. akan tetapi jika hal itu bertentangan dengan aturan Allah SWT. maka tidak wajib taat dan patuh kepada orang tua, tetapi tetap harus berbuat baik dengan senantiasa harus tetap menjaga hubungan baik dengan mereka. Hal itu seperti yang disebutkan dalam surat Luqman ayat 15, yaitu:

وان جاهدك على ان نشرك بى ماليس لك به علم فلا تطعهاوصاحبهمافى الدنيا معروفا…

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…”.[83]

  1. Akhlaq terhadap Saudara

a. Memelihara hubungan silaturahmi di antara mereka

Silaturahim merupakan aktifitas mulia dalam pergaulan Islam yang harus dikembangkan. Salah satu bukti konkrit tentang silaturahim yang berintikan rasa rahmat dan kasih sayang itu adalah pemberian yang tulus untuk terjalinya hubungan yang harmonis antar sesama.

Dorongan untuk berbuat baik kepada saudara disebutkan dalam surat An-Nisa ayat 36, yaitu:

واعبدواالله ولاتشركوا به شيئا وبالوالدين احسانا وبدى القربى واليتمى والمسكين والجاردى القربى والجار الجنب والصاحب بالجنب وابن السبيل وماملكت ايمانكم

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak, karib kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu”.[84]

b. Saling menghormati di antara mereka.

Menanamkan jiwa dan sikap saling menghormati, menghargai di antara sesama muslim merupakan langkah yang sangat mulia. Mentradisikan yang muda menghormati yang lebih tua, dan yang lebih tua menghargai dan menyayangi yang lebih muda merupakan langkah yang sangat bijaksana.

Dalam sebuah haditsnya Rasulullah SAW. bersabda:

ليس منا من لايرحم صغيرناويؤقركبيرنا

“Tidak termasuk umat yang baik, orang yang tidak menyayangi saudaranya yang lebih muda dan orang yang menghargai (menghormati) hak saudaranya yang lebih tua”[85]

6. Akhlaq terhadap Tetangga

a. Menghormati Tetangga

Sebagai makhluk sosial kita tidak bisa hidup sendiri, kita membutuhkan peran serta orang lain dalam berbagai aspek kehidupan. Tetangga merupakan bagian integral dari unsur masyarakat yang berada disekitar kita yang tidak bisa dipisahkan  yang berperan besar dalam membentuk karakter kepribadian kita. Tentunya suatu kewajaran kalau kita menghormati dan menghargai keberadaanya. Bahkan Rasulullah SAW. secara khusus menganjurkan umatnya agar selalu berbuat baik kepada tetangganya. Sebagaimana sabdanya:

من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم جاره

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendklah memuliakan (selalu menghormati) tetangganya”.[86]

b. Tidak menyakiti Tetangga

Agar terjalin hubungan yang dinamis dan harmonis dengan tetangga, kita harus mengembangkan jiwa toleran, saling pengertian dan selalu berusaha untuk menghadirkan suasana dan nuansa kekeluargaan, yang tidak saling merugikan apalagi menyakiti. Hal ini dianjurkan oleh Rasulullah SAW. dalam sabdanya:

من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فلا يؤد جاره

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaknya tidak menyakiti tetangganya”.[87]

  1. Akhlaq kepada sesama Muslim

Akhlaq kepada sesama muslim meliputi antara lain:

a. Memelihara hubungan baik antara sesama Muslim

Dorongan berbuat baik antara sesama muslim seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW. dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abi Musa yaitu:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا…

“Orang mu’min dengan mu’min lainnya itu bagaikan satu bangunan yang saling kuat menguatkan satu sama lainnya”.[88]

  1. Saling tolong menolong diantara mereka dalam hal kebaikan dan taqwa.

Untuk hal itu telah disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 2 yaitu sebagai berikut:

وتعاونواعلى البروالتقوى ولانعاونواعلى اثم والعدون

“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan”.[89]

  1. Akhlaq kepada Kaum Lemah

Akhlaq terhadap kaum lemah diantaranya meliputi:

  1. Menyantuni dan berlaku sopan terhadap mereka.

Anjuran untuk menyantuni dan berlaku sopan terhadap kaum lemah disebutkan dalam surat Ad-Dhuha ayat 9-10, yaitu:

فاما اليتيم فلا تقهر. واماالسائل فلا تنهر

“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya”.[90]

  1. Memberikan perlindungan dan memberikan haknya.

Disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’un ayat 1-3, yaitu:

اراءيت الدى يكدب بالدين.فدلك الدى يدع اليتيم. ولايحض على طعام المسكين…

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”.[91]

9. Akhlaq terhadap Lingkungan

a. Memelihara kelestarian alam   

هوانشاءكم من الاض وستعمركم فيها

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya”.[92]

  1. Menyayangi binatang

عن عبد الله بن عمررضىى الله عنهماان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: عدبت امرءة فى هرةحبسنها حتى ماتت جوعافدخلت فيها النار

“Dari Abdullah bin Umar RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda: seseorang wanita disiksa karena seekor kucing yang dikurungnya sampei kucing itu mati kelaparan, maka wanita itu masuk ke dalam neraka”[93].

  1. Merawat Tumbuh-tumbuhan

ولاتفسدوافى الارض بعد اصلا حها

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya”.[94]

D. Hikmah Mempelajari Aqidah Akhlaq

Akhlaq itu termasuk di antara makna yang terpenting dalam hidup ini. Tingkatnya berada sesudah keyakinan kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhirat yang terkandung hasyar, hisab, balasan akhirat, dan Qadha dan Qadar Allah SWT. juga terletak sesudah ibadah kepada Allah SWT., mentaati-Nya, ikhlas keada-Nya. Dan kalau beriman dan beribadah kepada-Nya pertama-tama berkaitan erat dengan hubungan antara hamba dengan Tuhannya, maka akhlaq pertama-tama sekali berkaitan erat dengan hubungan mu’amalah manusia dengan dengan orang lain, baik secara perseorangan maupun secara kolektif.[95] Lebih lanjut Al-Saibany menyimpulkan bahwa tujuan tertinggi agama dan akhlaq ialah menciptakan kebahagiaan dua kampung (dunia dan akhirat), kesempurnaan jiwa bagi individu dan menciptakan kebahagiaan, kemajuan, kekuatan dan keteguhan bagi masyarakat. Agama Islam atau akhlaq Islam tidak terbatas tujuannya untuk mencapai kebahagiaan akhirat yang tergambar dalam mendapat keridhaan, keampunan, rahmat dan pahala-Nya, dan juga mendapatkan kenikmatan akhirat yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. kepada orang-orang yang baik dan orang-orang yang bertaqwa.[96]

Kedudukan akhlaq diibaratkan sebagai dokter. Dokter dapat menerangkan kepada sisakit, akan bahayanya minuman keras dan buruk-bekasnya terhadap akal dan tubuh, kemudian si sakit boleh memilih, meninggalkan agar sehat badannya atau terus minum, dan dokter tersebut tidak dapat mencegahnya. Seperti inilah ethika tidak dapat menjadikan manusia baik, tetapi dapat membuka matanya untuk melihat baik dan buruk, maka etika tidak berguna bagi kita, kalau kita tidak mempunyai kehendak untuk menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.[97]

Dengan bekal ilmu akhlaq, orang dapat mengetahui batas mana yang baik dan batas mana yang buruk. Pengetahuan ilmu akhlaq itu dapat mengantarkan seseorang kepada jenjang kemuliaan akhlaq , karena dalam ilmu itu akan dapat menyadari mana perbuatan yang baik yang mengantar kepada kebahagiaan dan mana pula perbuatan jahat yang bakal menjerumuskan kepada kesesatan dan kecelakaan. Dengan ilmu akhlaq yang dimilikinya itu dia selalu berusaha memelihara diri supaya senantiasa berada pada garis akhlaq yang mulia yang diridhai oleh Allah SWT. dan menjauhi segala bentuk akhlaq yang tercela yang dimurkai oleh Allah SWT.[98]

Selanjutnya, hikmah keberuntungan mempelajari dan sekaligus merealisasikan nilai-nilai pendidiksn Aqidah Akhlaq adalah sebagai mana yang diuraikan oleh Abuddin Nata, diantaranya:[99]

  1. Memperkuat, mempertebal, memperkuat serta menyempurnakan keyakinan agama.

Nabi SAW. bersabda:

ان الله تعالى اختارلكم الاسلام دينا فكرموه بحسن الخلق والخاء فانه لايكمل الابهما

“Allah telah meilih agama Islam untuk kamu, hormatilah agama dangan akhlaq dan sikap dermawan, karena Islam itu tidak akan sempurna kecuali dengan akhlaq dan sikap dermawan itu”

.

  1. Mepermudah perhitungan amal di Akhirat

Nabi SAW. bersabda:

ثلاث من كن فيه حاسبه الله حسابايسيرا وادخله الجنة تعطى من حرمك وتعفوعمن ظلمك وتصل من قطعك

“Ada tiga perkara yang membawa kemudahan hisab (perhitungan amal di akhirat) dan akan dimasukan ke dalam surga, yaitu engkau memberikan sesuatu kepada oang tidak pernah memberi kepadamu (kikir), engkau memaapkan kepada orang yang pernah menganiayamu, dan engkau menyambung tali silaturahmi kepada orang yang tidak pernah kenal kepadamu”.(HR  Al-Hakim)

3. Menghilangkan kesulitan

Nab SAW. bersabda:

من نفس من مؤمن كربة من كرب الدنيامفسالله عنه كربة من كرب يوم القيامة

“Barangsiapa melepaskan kesulitan orang mu’min dari kesulian hidupnya di dunia ini, maka Allah akan melepaskan kesulitan orang tersebut pada hari kiamat” (HR  Muslim)

  1. Keselamatan hidup di dunia dan akhirat

Nabi SAW. bersabda:

تلات منجيات:خشيةالله تعالى فى السروالعلا نية والعدل فى

الرضاوالغضب والقصد فى الفقروالغنى

“Ada tiga perkara yang dapat menyelamatkan manusia, yaitu takut kepada Allah di tempat yang tersembunyi maupun di tempat yang terang, berlaku adil baik pada waktu rela maupun waktu marah, dan hidup sederhana pada waktu miskin maupun waktu kaya (hidup serba berkecukupan)”. (HR Abu Syaikh)

Uraian singkat tersebut merupakan gambaran dari masih sekian banyaknya hikmah, pelajaran, manfaat serta keberuntungan yang dapat dipetik sebagai akibat pancaran dari aqidah akhlaq yang diamalkan. Secara vertikal bahwa orang yang punya keyakinan yang kokoh serta berakhlaq mulia semakin beruntung, dia sangat dicintai oleh Allah SWT., demikian juga secara horizontal (realitas sosial) orang yang berakhlaq mulia pasti akan disukai akan didambakan keberadaanya oleh masyarakat, kesulitan dan penderitaannya akan dibantu untuk dipecahkan walaupun ia tidak mengharapkannya. Peluang, kepercayaan dan kesempatan silih berganti kepadanya.

Sebaliknya jika akhlaq mulia itu telah sirna, dan berganti dengan akhlaq tercela, maka kehancuranpun telah menghadangnya. Ini pasti terjadi, dan sudah terlalu banyak contoh pelajaran tentang kejadian ini. Penyair Syauki Bey dalam sebuah bait syairnya mengutarakan realita kehidupa sebagai berikut:

انماالامم الاخلاق مابقيت  ¤  وان هموا دهبت اخلاقهم دهبوا

“Selama umat itu akhlaqnya baik, maka ia akan tetap eksis, dan jika akhlaqnya sirna, maka bangsa itupun akan binasa”

E.Faktor-faktor yang mempengaruhi Pembentukan Akhlaq

Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Allah SWT., adalah dia dianugrahi fitrah, atau potensi untuk beragama dan mengamalkan jarannya. Karena fitrah inilah kemudian manusia dijuluki “homo religius”, makhluk beragama. Jiwa beragama atau kesadaran beragama merujuk kepada aspek rohaniah individu yang berkaitan erat dengan keimanan kepada Allah SWT. dan pengaktualisasiannya melaui peribadatan kepada-Nya, baik yang bersifat habluminallaah maupun habluminannas. Keimanan kepada Allah SWT. aktualisasinya dalam  ibadah merupakan hasil internalisasi, ysitu proses pengenalan, pemahaman, dan kesadaran pada diri seseorang terhadap nilai-nilai agama. Proses ini terbentuk dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu internal (fitrah, potensi beragama) dan ekternal (lingkungan).[100]

Diri manusia mengandung beberapa unsur pokok tertentu, yang menetapkan tabi’atnya yang menjadi sumber semua prilaku badani dan kualitas mental. Unsur-unsur ini berbaur dalam susunan tubuhnya sedemikian rupa sehingga kita tidak mungkin bebas sepenuhnya dari unsur itu, hanya dengan upaya moral dan perjuanganlah manusia dapat merdeka dari pengaruh jahatnya. Tiap unsur punya pengaruh pada diri manusia. Tabi’at ini tidak sama dengan tabi’at asal atau fitrah, karena fitrah merujuk pada keadaan jiwa pada saat penciptaannya, sedangkan yang disebut tabi’at keadaanya setelah lahir.[101]

Setiap kelakuan manusia lahir dari suatu kehendak yang digerakkan oleh naluri (instink). Naluri merupakan tabi’at yang dibwa sejak lahir, jadi merupakan suatu pembawaan asli. Dalam bahasa Arab disebut “gharizah” atau “fitrah” dalam bahasa Inggris disebut “instinct”.[102]

Instinct adalah sifat jiwa yang pertama yang membentuk akhlaq, akan tetapi suatu sifat yang masih primitif, yang tidak dapat dilengahkan dan dibiarkan begitu saja, bahkan wajib dididik dan diasuh.[103]

Allah SWT. memang telah menciptakan semua makhluk-Nya berdasrkan fitrah-Nya, tetapi fitrah Allah untuk manusia yang disini diterjemahkan dengan potensi dapat dididik dan mendidik, memiliki kemungkinan berkembang dan meningkat sehingga kemampuannya dapat melampaui jauh dari kemampuan fisiknya yang tidak berkembang. Meskipun demikian, kalau potensi itu tidak dikembangkan, niscaya ia akan kurang bermakna dalam kehidupan. Oleh karena itu perlu dikembangkan dan pengembangan itu senantiasa dilakukan dalam usaha dan kegiatan pendidikan. Kewajiban mengembangkan potensi itu merupakan beban dan tanggungjawab manusia kepada Allah SWT.[104]

Ada dua macam naluri manusia yang paling kuat yaitu naluri ingin mempertahankan hidupnya di dunia ini dan ingin mencapai kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Di samping itu, dalam diri manusia ada hati nurani yang mendapat cahaya Tuhan dan dapat menilai hal-hal yang baik untuk dikerjakan. Di dalam hati nuarani manusia juga ada rasa malu jika seseorang melakukan keburukan dan kejahatan. Dengan pendengaran, penglihatan dan hatinya, manusia dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman. Manusia yang beilmu dan berakhlaq tidak akan sama dengan orang yang tidak berilmu dan berakhlaq. Orang yang beriman berakhlaq dan berilmulah yang akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.[105]

Berkembang atau tidaknya fitrah manusia itu sangat tergantung kepada dua faktor, seperti yang dikemukakan oleh Ramayulis, sebagai berikut:[106]

  1. Usaha Manusia itu sendiri

Disebutkan dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’du ayat 11, yaitu:

ان الله لايغيرما بقوم حتى يغيروا مابانفسهم

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaanya yang ada pada diri mereka sendiri”.[107]

  1. Hidayah (petunjuk) dari Allah SWT.

Hidayah yang diberikan oleh Allah SWT dalam rangka pengembangan fitrah ada beberapa macam, diantaranya:

  1. Hidayah Al- Aql (Akal)

Adapun petunjuk Allah yang dinamakan hidayah Aql (petunjuk akal) mulai terlihat pada anak berumur delapan tahun. Anak seusia ini mulai gemar berpikir, berusaha menimbang-nimbang dengan pikiranya mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah menurut keyakinannya.

  1. Hidayah Al-Qalb (Hati)

Hidayah Qalb lebih tinggi kedudukannya daripada hidayah Aql, karena Qalb dapa menghayatinapa yang tidak sanggup dihayati oleh Aql. Hal-hal yang bersifat dogmatis dalam ajaran agama hanya dapat dihayati oleh Qalb dalam Islam penghayan Qalb disebut keimanan.

  1. Hidayah Al-Diin (Agama)

Hidayah Diin yang diberikan oleh Allah adalah hidayah yang paling tinggi nilainya dan kedudukannya dari semua hidayah yang ada, bahkan hidayah ini dapat pula berfungsikan hidayah Qalb dan hidayah Aql. Manusia sudah diberi oleh Allah Aql sehingga mampu bepikir, diberinya Qalb sehingga mampu menghayati hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh Aql. Demikian hidayah Diin dapat menuntun dan mengarahkan Aql dan Qalb manusia sekaligus.

Pada sisi lain disebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan aqidah akhlaq, sebagai berikut:

  1. Instinct

Pengertian Instinct ialah suatu yang menimbulkan perbuatan yang menyampaikan pada tujuan dengan berpikir terlebih dahulu kearah tujuan itu dan tiada dengan didahului latihanperbuatan itu.[108]

Dalam hal ini, para ahli Psikologi menerangkan berbagai naluri yang ada pada manusia yang menjadi pendorong tingkah lakunya, diantaranya: Naluri beragama, naluri makan, naluri berjodoh, naluri keibu-baapan, naluri berjuang, naluri mempertahankan diri dan sebaginya.

  1. Kebiasaan (Adat Istiadat)

Adat kebiasaan adalah suatu perbuatan yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi mudah untuk dilakukan kebanyakan perbuatan manusia jelmaan dari arah adat kebiasaan, seperti berjalan, berlari, cara berpakaian, berbicara dan yang lainnya.[109] Menurut Hamzah Yaqub, hal-hal yang harus menjadi adat kebiasaan, meliputi:[110]

a. Membina Kebiasaan yang Baik.

Pada mulanya perbuatan yang baik iti dilakukan kadang terasa berat dan susah, misalnya bangun diwaktu fajar untuk shalat Shubuh. Tapi jika hal itu sudah terbiasa maka saraf itu sendiri yang akan membangunkan pada waktunya. Maka hal ini memerlukan latihan yang terus menerus.

b.  Membiasakan Merubah Kebiasaan yang Jelek

Usaha untuk merubah kebiasaan yang buruk kadang-kadang terasa lebih berat, apalagi kalau dilakukan sekaligus secara drastis. Untuk merubah kebiasaan jelek, para ahli dalam bidang akhlaq mengajarkan seni dan teori sebagai berikut:

1) Niat yang sungguh-sungguh tanpa ragu sedikitpun untuk merubah kebiasaan itu

2) Pengertian dan kesadaran yang mendalam akan perlunya kebiasaan yang ditinggalkan

3) Dalam melaksanakan niat itu hendaklah setia, sesuai dengan yang diniatkan.

4) Segera mengisi kekosongan dengan kebaikan setelah kebiasaan jelek itu digeser.

5) Mencari waktu yang baik dan tepat untuk melakukan yang diniatkan.

6) Selalu memelihara kekuatan menolak yang terdapat dalam jiwa agar selalu hidup.

3. Turunan (Faktor Keturunan)

Kaitanya dengan faktor keturunan, banyak para ahli yang berbeda pendapat, ada yang menyetujui ada pula yang menolak, bahkan ada yang netral. Mereka mengakui pengaruh faktor keturunan dari segi fisik dan akal. Tetapi mereka tidak dapat menerima tentang warisan sifat-sifat akhlaq dan kebiasaan sosial. Pendapat ini lebih tepat ialah walaupun keturunan banyak mempengaruhi segi dan bentuk tubuh dan akal, namun ia sedikit banyak mempengaruhi juga pertumbuhan dalam akhlaq dan kebiasaan sosial. Kendatipun mungkin hanya dalam bentuk kesediaan umum untuk menerima sifat-sifat tingkah laku tertentu.[111]

Dalam dunia pendidikan kita mengenal adanya aliran nativisme, bahwa faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah faktor pembawaan (keturunan) dari dalam yang bentuknya berupa kecenderungan, bakat, akal dan lainya. Jika seseorang sudah memiliki pembawaan atau kecenderungan kepada yang baik, maka dengan sendirinya orang tersebut menjadi baik.[112]

4. Lingkungan (milieu)

Lingkungan (milieu) artinya segala sesuatu yang mengelilingi tubuh yang hidup. Meliputi lingkungan tumbuh-tumbuhan, tanah, dan udaranya. Lingkungan manusia ialah meliputi apa yang mengelilinginya dari negeri, hutan, sungai, udara dan bangsa.[113] Menurut Prof. Syamsu Yusuf, lingkungan dimana individu itu hidup, yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakt. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi individu, oleh karena itu peranan keluarga (orang tua) dalam pengembangan kesadaran beragama sangatlah dominan. Upaya-upaya orang tua dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada anak, prosesnya berlangsung pada masa pra lahir (dalam kandungan) dan pasca lahir. Terkait dengan masalah mendidik anak agar berakhlaq mulia, Imam Al-Ghazali memberikan fatwa kepada orang tua agar mereka melakukan kegiatan-kegiatan sebagai beriku:

    1. Menjauhkan anak dari pergaulan yang tidak baik.
    2. Membiasakan anak untuk bersopan santun
    3. Memberikan pujian kepada anak yang melakukan amal sholeh.
    4. Membiasakan anak berpakaian bersih dan rapih.
    5. Menanamkan sikap hidup sederhana.
    6. Menganjurkan anak berolah raga.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai program sistemik dalam melakukan bimbingan, pengajaran dan latihan kepada anak agar mereka berkembang sesuai dengan potensinya secara optimal  baik menyangkut aspek fisik, psikis (intelektual dan emosional), sosial maupun moral-spiritual.

Kemudian lingkungan masyarakat yaitu, situasi dan kondisi interaksi sosial dan sosio-kultural yang secara potensial berpengaruh terhadap perkembangan fitrah beragama anak.

Dalam upaya mengembangkan jiwa beragama atau akhlaq yang mulia individu, maka ketiga lingkungan tersebut secara sinerji harus bekerjasama menciptakan iklim, suasana lingkungan yang kondusif.[114]

  1. F. Kontribusi Pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap Akhlaq siswa

Dalam kamus bahasa Inggris ditemukan bahwa kata kontribusi asal katanya “contribut-e” artinya menyumbang, memberikan sesuatu atau kata “contribution” artinya sumbangan, pemberian kalau pelakuknaya “contributor” artinya penyumbang, pemberi, donatur.[115]

Kata kontribusi sudah menjadi bagian dari kosa kata bahasa Indonesia, bukan saja dalam bahasa lisan tetapi penggunaannya banyak dipakai dalam bahasa tulisan yang formal. Seperti banyak dipakai dalam tulisan-tulisan publikasi, dekorasi, acara-acara seminar, diskusi, pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi tertentu.

Adapun pemakaian kata kontribusi kaitanya dengan pendidikan aqidah akhlaq terhadap akhlaq siswa, penekanannya lebih cenderung ke signifikasi peranan dan pengaruh yang menjadi sumbangan mata pelajaran ini terhadap akhlaq siswa, sejauhmana dampak dan pengaruh yang ditimbulkan terhadap tingkah laku siswa setelah siswa belajar pendidikan aqidah akhlaq, implikasinya baik ketika siswa berada di lingkungan sekolah, dikeluarga maupun dilingkungan masyarakat.

Dalam proses pembelajaran pendidikan aqidah akhlaq baik secara teoritik maupun praktik sudah ditranformasikan kepada anak didik, seyogyanya siswa mampu mengaktualisasikan, mengekspresikan (mewujudkan) nilai-nilai agama dalam seluruh aspek kehidupannya secara “kaffah” (utuh), baik menyangkut pengetahuan, sikap, ucapan maupun perbuatan (baik dalam kehidupan personal maupun sosial), kematangan beragama itu haruslah nampak pada seseorang dengan ditandai beberapa ciri-ciri (kriteria) seperti yang diuraikan oleh Prof. Syamsu Yusuf, diantaranya:

  1. Mengamalkan ibadah ritual (seperti shalat, puasa zakat dan haji) secara ikhlas dan mampu mengejewantahkan nilai-nilai ibadah tersebut dalam interaksi dengan masyarakat.
  2. Memiliki kesadaran bahwa setiap prilakunya senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT. Kesadaran ini terefleksi dalam sikap dan prilaku yang jujur, amanah, istiqamah, dan menerapkan budaya malu dalam kehidupan.
  3. Memiliki kematangan pemahaman dan penerimaan secara positif (bersikap qana’ah) terhadap irama kehidupan yang fluktuatif antara suasana kehidupan yang “usran” (kesulitan atau musibah) dan yang “yusran” (kemudahan, anugrah dan nikmat)
  4. Pandai bersyukur kepada Allah pada saat mendapatkan anugrah atau kehidupan yang nyaman.
  5. Tetap bershabar ketika mendapatkan musibah, kegagalan dalam meraih cita-cita, kesulitan hidup, kemiskinan, sakit dan segala sesuatu yang tidak menyenangkan.
  6. Selalu menjalin dan memperkokoh “ukhuwah Islamiyah” (tali persaudraan dengan sesama muslim) dan ukhuwah basyariyah/insaniyah (tali persaudaraan dengan sesama manusia non muslim).
  7. menegakkan “Amar ma’ruf nahyi munkar” atau berdakwah yang didasari “ruhul jihad fisabilillah” (semangat berjuang di jalan Allah.[116]

Pendidikan Aqidah Akhlaq di Madrasah Aliyah sebagai bagian integral dari pendidikan agama Islam, memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam proses pembentukan watak dan kepribadian peserta didik. Tetapi secara substansial mata pelajaran Aqidah Akhlaq memiliki “kontribusi” yang signifikan dalam memberikan motivasi (dorongan) yang kuat kepada peserta didik untuk mengetahui, memahami,menghayati dan mempraktekkan nilai-nilai keyakinan keagamaan (tauhid) dan akhlaq karimah. Pola pembinaan yang terpadu yang harus dikembangkan oleh ketiga lembaga pendidikan yakni sekolah (formal), keluarga (informal) dan masyarakat (non formal) harus lebih diintensifkan lagi. Untuk mewujudkan harapan terbentuknya peserta didik yang diidamkan yaitu siswa yang sholeh personal dan sholeh sosial yang berwawasan ilmu amaliyah dan beramal ilmiah.

BAB III

LANGKAH-LANGKAH  PENELITIAN

A. Metode Penelitian

61

Metode merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan, cara utama itu dipergunakan setelah penyelidik memperhitungkan kewajarannya ditinjau dari tujuan penyelidikan serta dari situasi penyelidikan.[117] Metode pada dasarnya berarti cara yang digunakan untuk mencapai tujuan. Oleh karena tujuan umum penelitian adalah untuk memecahkan masalah, maka langkah yang akan ditempuh harus relevan dengan masalah yang dirumuskan. Untuk dapat memecahkan masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan teknik kualitatif dan teknik kuantitatif. Dimana penekanan yang dijadikan pokok pada penelitian ini adalah teknik kualitatif. Pada dasarnya, baik teknik kualitatif maupun kuantitatif dapat digunakan bersama-sama, namun penekanannya pada teknik tertentu. Paradigma ilmiah memberi tekanan pada teknik kuantitatif, sedangkan alamiah memberi tekanan pada teknik kualitatif.  Penelitian kualitatif berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan, mengandalkan manusia sebagai alat penelitian, memanfaatkan metode kualitatif, mengadakan analisis data secara induktif, mengerahkan sasaran penelitiannya pada usaha menemukan teori dari dasar, bersifat deskriptif, lebih mementingkan proses daripada hasil, membatasi studi dengan fokus, memiliki seperangkat kriteria untuk memeriksakan keabsahan data, rancangan penelitiannya bersifat sementara dan hasil penelitiannya disepakati oleh kedua belah pihak, peneliti dan subjek penelitian.[118]

Pendapat Lexy J. Moloeng di atas, dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa karakteristik penelitian kualitatif  yaitu: Pertama, peneliti sendiri sebagai instrumen pertama mendatangi secara langsung sumber datanya. Kedua, implikasi data yang dikumpulkan dalam penelitian ini lebih cenderung kata-kata daripada angka-angka, jadi hasil analisanya berupa suatu uraian. Ketiga, menjelaskan bahwa hasil penelitian kualitatif lebih menekankan perhatian kepada proses daripada kepada hasil. Keempat, melalui analisis induktif, penelitian mengungkapkan makna dari keadaan yang diamati.

Adapun metode deskriptif diartikan sebagai suatu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki, dengan menggambarkan atau melukiskan kepada subjek atau objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang nampak atau sebagaimana adanya.[119]

Selain itu metode deskriptif tidak terbatas hanya sampai pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi analisis dan interpretasi tentang arti data itu. Oleh karenanya metode ini sering disebut juga deskriptif analitik, dapat terjadi sebuah penyelidikan deskriptif membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu lalu mengambil bentuk studi komperatif.[120]

B. Jenis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data kualitatif berdasarkan hasil pengumpulan data dengan tehnik observasi dan wawancara serta data kuantitatif dengan teknik penyebaran angket kepada responden. Dengan terjun secara langsung ke lokasi penelitian untuk mendapatkan fakta-fakta yang akurat di lapangan tentang bagaimana proses pembelajaran pendidikan Aqidah Akhlaq itu berlangsung. Kemudian penulis secara langsung mengamati, mencermati tingkah laku siswa ketika berada di lingkungan sekolah, kendala-kendala yang dihadapi siswa dalam merealisasikan pendidikan akhlaq itu ke dalam tingkah laku kesehariannya serta kontribusi pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap tingkah laku siswa di sekolah tersebut.

C. Sumber Data

Sumber data  dalam penelitian ini terdiri dari dua bagian, yaitu:

a.Sumber Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber data pertama melalui prosedur dan tehnik pengambilan data yang dapat berupa interview (wawancara), observasi, maupun penggunaan instrumen pengukuran yang khusus dirancang sesuai dengan tujuannya.[121]

Dalam penelitian kualitatif, jumlah sumber data atau responden tidak ditentukan sebelumnya, sebab apabila telah diperoleh informasi yang maksimal, maka tujuan mentela’ah mereka sudah dikatakan terpenuhi. Oleh karena itu, konsep sampel dalam penelitian kualitatif adalah berkaitan dengan bagaimana memilih responden dan situasi sosial tertentu yang dapat memberikan informasi yang mantap dan terpercaya mengenai fokus penelitian. Dengan demikian pemilihan responden dan situasi sosial tertentu, perlu dilakukan secara purposif (bukan secara acak).

Berkaitan dengan hal itu, Sanapiah Faisal menyatakan bahwa, apabila pemilihan responden jatuh pada subjek yang benar-benar menguasai permasalahan (secara menyeluruh dengan segala aspeknya), maka akan sia-sia melacak informasi berikutnya kepada responden lain, karena tidak ditemukan lagi informasi-informasi baru yang berbeda dengan sebelumnya. Jadi yang menjadi kepedulian penelitian kualitatif adalah “tuntasnya” perolehan informasi dengan keragaman variasi yang ada.[122]

Adapun yang dimaksud sumber data primer dalam penelitian ini sebgai berikut:

1)   Para siswa yang mengikuti proses pembelajaran

2)   Kepala Sekolah beserta para guru yang mengajar

3)   Guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP)

4)   Para pengelola sekolah dan pengurus yayasan

Adapun data yang diperoleh di lokasi penelitian sebagai hasil dari pengamatan langsung anatara lain, dari siswa yaitu berupa gambaran keadaan siswa ketika mengikuti kegiatan pembelajaran pendidikan aqidah akhlaq serta tingkah laku yang muncul setelah mereka mengikuti proses pembelajaran tersebut. Data dari guru diperoleh tentang usaha-usaha yang dilakukan dalam proses bimbingan terhadap siswa dalam proses pembelajaran disekolah. Dari pengelola sekolah, stap tata usaha dan pengurus yayasan data diperoleh tentang peranan mereka dalam ikut serta menciptakan suasana dan lingkungan pendidikan yang kondusif dalam penyelenggaraan pendidikan.

b. Sumber Data Skunder

Data skunder adalah data yang diperoleh dari sumber yang tidak langsung yang biasanya berupa data dokumentasi dan arsip-arsip resmi.[123]

Adapun sumber data skunder dalam penelitian ini anatar lain sebagai berikut:

1) Dokumen-dokumen resmi yang ada di Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja Kabupaten Subang, yang meliputi data guru, siswa, karyawan, keadaan lingkungan sekolah, berbagai fasilitas pendukung lainnya.

2) Dokumen-dokumen yang ada di yayasan, guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) dan sebagainya.

D. Tehnik Pengumpulan Data

Berdasarkan metode penelitian yang dipilih dalam penelitian ini yaitu deskriptif dengan tehnik kualitatif, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan tehnik pengumpulan data sebagai berikut:

a. Interview (Wawancara)

Wawancara merupakan tehnik pengumpulan data yang bersifat komunikasi langsung. Melalui tehnik ini peneliti (pewawancara = interviewer) berkomuni-kasi langsung secara verbal dengan responden (yang diwawancara = interviewee) untuk mem-peroleh data yang diperlukan. Tehnik ini dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu : (a) tipe wawancara berstruktur, dan (b) tidak berstruktur.[124] Sebagai suatu proses tanya jawab lisan di antara dua atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang   satu dapat melihat muka yang lain dan mendengarkan suaranya dengan telinganya sendiri. Tampaknya merupakan alat pengumpulan informasi yang langsung tentang beberapa jenis data sosial, baik yang terpendam maupun yang memanifes. Ia merupakan alat yang baik untuk mengetahui tanggapan terhadap masa depannya. Ia merupakan alat yang sangat baik untuk menggali masa lalu seseorang serta rahasia-  hidupnya. Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut :

1) Membuat  kerangka wawancara yang sesuai dengan batasan masalah.

2) Menentukan dan menghubungi orang yang akan diwawancarai, yaitu antara lain:

a) Para siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah

b) Kepala Madrasah, Guru bidang studi, Wali Kelas, Guru Bimbingan Penyuluhan (BP)

c) Para pegawai tata usaha, pengurus yayasan

3) Mengadakan wawancara dengan mengajukan beberapa pertanyaan untuk memperoleh data sesuai dengan tujuan penelitian ini dilakukan.

b.Observasi

Tehnik ini merupakan cara mengumpulkan data melalui pengamatan terhadap suatu keadaan, situasi, peristiwa, kegiatan atau perilaku. Dalam proses pelaksanaan tehnik observasi, peneliti dapat terlibat secara aktif di dalam situasi di mana observasi dilakukan (observasi partisipan), atau tidak turut terlibat dalm kegiatan kelompok yang diobservasi, tetapi berperan sebagai pihak luar yang mengamati apa yang terjadi di dalam kelompok tersebut (observasi non-partisipan). Untuk melakukan observasi, peneliti perlu menyusun panduan observasi yang berupa format atau blanko observasi yang berisi aspek-aspek yang diteliti dan alternatif kemungkinan terjadinya.[125]

Sebagai metode ilmiah bisa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam arti yang luas observasi sebenarnya tidak hanya terbatas pada pengamatan yang baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengamatan yang tidak langsung misalnya melalui kuisioner dan tes.[126] Observasi dalam penelitian ini terutama dilakukan terhadap objek penelitian, yaitu gedung sekolah, perpustakaan, kantor, mesjid, laboratorium dan sarana-sarana lain yang ada di lingkungan Madrasah Aliyah Al -Ishlah.

  1. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu mencari data mengenai variabel yang berupa catatan, transkip, buku-buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, leger, agenda dan sebagainya.[127] Dalam hal ini penulis mngumpulkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian ini.

d. Teknik Angket

Angket merupakan teknik pengumpulan data secara tertulis yang berisi pertanyaan-pertanyaan atau pertanyaan yang harus dijawab oleh responden secara tertulis pula. Angket dapat dikelompokkan ke dalam dua bentuk, yaitu (a) berstruktur: jika pertanyaan atau pernyataan sudah disediakan alternatif jawabannya, dan responden tinggal memilih jawaban yang paling sesuai dengan pendapat, pengalaman atau perasaannya; dan (b) tidak terstruktur: jika pertanyaan angket itu terbuka untuk segala kemungkinanjawaban.[128]

e.Library Research

Yaitu pendekatan kepustakaan untuk mencari data    teoritik yang erat kaitannya dengan penyusunan tesis ini, dengan menginventarisir ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW. yang berkaitan dengan pembahasan ini, serta menganalisa penjelasan yang diperoleh dari hasil karya pemikiran para Ulama atau para pakar yang ahli dalam bidangnya.

E.Analisis Data

Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja, seperti yang disarankan oleh data.[129]

Tehnik analisis data pada penelitian ini menggunakan tehnik kualitatif, hal ini dilakukan penulis karena ada beberapa keuntungan dari penggunaan tehnik ini, serta dengan teknik kuantitatif dengan menggunakan rumus statistik dalam menghitung skor hasil angket yang disebarkan kepada responden. Penulis dapat memahami prilaku manusia dari kerangka prilaku itu sendiri. Dalam kontek kontribusi pendidikan aqidah akhlaq terhadap tingkah laku siswa Madrasah Aliyah Al -Ishlah jatireja Kecamatan Compreng Kabupaten Subang ini latar belakang sosial budaya serta faktor-faktor lain yang menjadi akar permasalahannya, hal ini dapat diamati, diperhatikan, dicatat dan dianalisis secara bebas. Instrumen penelitian yang terlibat dari keseluruhan fokus penelitian seperti para guru, para siswa, pegawai tata usaha, pengurus yayasan, lingkungan sekolah, sarana dan pra sarana serta unsur-unsur lain yang memiliki hubungan dengan variabel-variabel ini dipetakan untuk kemudian dikategorisasikan berdasarkan jenis variabel. Dari variabel dan masalah yang sudah dianalisis kemudian akan dikonsepsikan sebagai kerangka konseptual untuk mendesain bagi pihak sekolah dalam hal ini guru dalam mengoptimalisasikan kontribusi pendidikan aqidah akhlaq bagi pembinaan tingkah laku siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja kecamatan Compreng Kabupaten Subang.

Penganalisisan yang demikian sejalan dengan pendapat Maman Supriatman dkk. yang  mengatakan bahwa, pada penelitian dengan pendekatan kualitatif, analisis dilakukan dengan cara menyaring tema-tema, pola-pola atau generalisasi-generalisasi dari  bukti deskriptif yang ada. Analisis dilakukan dengan cara mengkoordinir data yang ada sehingga menghasilkan gambaran koheren dan konsisten tentang kehidupan masyarakat yang diteliti.[130]

Karena penelitian ini mengguanakan pendekatan kualitatif, maka penulis melakukan analisis data dengan cara menyaring tema-tema, pola-pola atau generalisasi dari bukti deskriptif yang berada dilokasi penelitian, kemudian variabel-variabel tersebut disusun, dipetakan, dikategorisasikan berdasarkan jenis variabel. Dari variabel dan masalah yang sudah dianalisis kemudian menjadi kerangka konseptual, analisis dilakukan dengan cara mengkoordinir data yang ada sehingga sampai ketahap kesimpulan yang menghasilkan gambaran tentang Kontribusi  Pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap Akhlaq siswa di Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja Kecamatan Compreng Kabupaten Subang

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Kondisi Objektif Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja

1. Sejarah Berdiri dan Perkembangannya

Dalam memaparkan tentang sejarah berdirinya Madrasah Aliyah Al-Ishlah ini, penulis memperoleh data berdasarkan dokumen (arsip) yang ada dan hasil dari wawancara dengan sebagian nara sumber, para pendiri yang dimintai keterangannya antara lain ; Bapak K.H. Ushfuri Anshar sebagai pimpinan Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Islam (YPPI) Pondok Pesantren Al-Ishlah dan Beliau sekaligus tokoh pendiri Madrasah Aliyah Al-Ishlah, Uus Yusviana, BA. (Kepala MA Al-Ishlah pertama),  Drs. M. Salimuddin (Kepala MA Al-Ishlah kedua), Drs. K.H. Tasyrifien AS, (Kepala MA Al-Ishlah ketiga) dan Drs. H. Sukarna, M.Si. (Kepala MA Al-Ishlah sekarang) serta beberapa tokoh dari pengurus yayasan.

70

Dengan dilatar belakangi oleh kebutuhan pendidikan yang semakin meningkat, sementara itu kesempatan anak usia sekolah lulusan sekolah lanjutan pertama sangat tidak dimungkinkan untuk mencarai pendidikan diluar desanya karena beberapa faktor diantaranya, faktor ekonomi dan tradisi, maka para tokoh masyarakat dan wali santri mengadakan musyawarah, dan mereka bersepakat untuk mendidirkan sebuah lembaga pendidikan lanjutan atas, maka lahirlah “Madrasah Aliyah”. Madrasah Aliyah didirikan berawal dari gagasan akan betapa pentingnya Lembaga Pendidikan Agama yang bersifat formal ditingkat sekolah lanjutan atas di daerah yang tingkat kesadaran pendidikannya masih relatif rendah, di daerah pedesaan, yang terisolasi karena letaknya yang sulit dijangkau oleh transfortasi karena sulitnya medan yang dihadapi saat itu, namun atas perjuangan yang gigih dan pantang menyerah maka pada tanggal  04 juli 1988 maka berdirilah Madrasah Aliyah dengan nama “Madrasah Aliyah Al-Ishlah” dibawah naungan Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Islam (YPPI) Pondok Pesantren Al-Ishlah yang berkedudukan di Desa Jatireja Kecamatan Compreng Kabupaten Subang Jawa-Barat. Bahkan atas berkat rahmat Allah SWT. serta dukungan masyarakat kala itu, pada tahun pelajaran 1991/1992, Madrasah Aliyah Al-Ishlah telah mengikutsertakan siswanya untuk mengikuti Ujian Akhir Negara sebanyak sepuluh siswa dan lulus semua.

Dengan bercita-cita ingin turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa serta menyelamatkan umat yang mulanya tidak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Awalnya madrasah ini belum mempunyai gedung sendiri, proses pembelajaran masih ikut “nginep” dengan menggunakan gedung MTs. Al-Fatah Jatireja. Sejak awal perjalannya penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara tertatih-tatih, bahkan beberapa tahun madrasah ini mengalami kemandegan. Tetapi mulai tahun 1995, madrasah ini kemudian bangkit kembali dan mampu menarik simpati masyarakat untuk mamasukkan anaknya ke madrasah ini, salah satu faktor utamanya karena Ketua yayasan selama beberapa tahun menghibahkan kepada para siswa dengan tidak dipungut biaya pendidikan (gratis).

Dengan Visi “Unggul dalam Prestasi dan Teknologi serta Berprilaku Islami”, maka Madrasah Aliyah Al-Ishlah mengemban “Missi” antara lain: pertama, mewujudkan peningkatan kualitas tamatan; kedua, membentuk generasi yang bertaqwa, mandiri, memiliki sikap gotong royong, hormat dan santun kepada orang tua, keluarga dan cinta tanah air; ketiga, membentuk generasi yang cerdas, terampil, berdedikasi, dan cinta almamater; keempat, meningkatkan semangat dan prestasi kerja yang dilandasi dengan kekeluargaan dan keteladanan; kelima, menciptakan keselarasan, keseimbangan emosi dan intelektual dalam mewujudkan situasi kondusif terhadap terciptanya pendidikan Nasional. Untuk mencapai visi dan missi tersebut, Madrasah Aliyah Al-Ishlah melakukan upaya-upaya berupa strategi, diantaranya: pertama, penyempurnaan penataan dan penampilan sekolah yang Islami; kedua, penyempurnaan sistem kerja untuk meningkatkan kualitas pelayanan; ketiga, pemanfaatan sarana dan prasarana madrasah secara maksimal; keempat, optimalisasi sumber daya manusia yang ada; kelima, pelaksanaan visi, missi dan strateginmadrasah secara maksimal.

Madrasaha Aliyah Al-Ishlah Jatireja saat ini berstatus di akui dan terakreditasi dengan peringkat “B” berdasarkan Piagam Akreditasi Madrasah Aliyah dengan Nomor : C/Kw. 10.4/MA/13/004/2006 dan setiap lulusan Madrasah Aliyah Al-Ishlah dapat melanjutkan tingkat pendidikannya ke berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta seperti; Universitas Islam Negeri (UIN), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Pajajaran (UNPAD), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Islam Bandung (UNISBA) dan lain-lain. Sebelum mempunyai ruang belajar sendiri, Proses belajar mengajar pernah dilakukan di serambi mesjid pondok pesantren selama dua tahun. Namun pada tahun 1997 madrasah ini dapat membangun gedung sendiri sebanyak empat ruangan, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat dilaksanakan dan berjalan sebagaimana mestinya sampai sekarang.

Keadaan Madrasah Aliyah Al-Ishlah sekarang, secara geografis letaknya sangat strategis, karena dengan mudah dapat dijangkau oleh siapapun dan dari arah manapun. Walaupun berada di tengah-tengah pemukiman penduduk dan berada satu atap dengan Pondok Pesantren Al-Ishlah, namun lingkungannya sangat kondusif untuk kegiatan belajar karena suasananya sunyi jauh dari kebisingan. Beberapa  faktor yang menjadi daya tarik tersendiri sehingga masyarakat banyak yang menitipkan anaknya ke madrasah ini anatara lain; dengan adanya modifikasi dengan pendidikan pondok pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu agama melalui kajian kitab-kitab kuning, sehingga para siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah yang berasal dari luar daerah Subang seperti Indramayu, Cirebon, Karawang, Jakarta, Bekasi, Banten, Purwakarta dan Jawa Tengah bisa bermukim di Pondok Pesantren karena tempatnya satu atap.

Adapun untuk kegiatan oprasional dan pengadaan berbagai fasilitas yang dibutuhkan dalam penyelenggaran pendidikan, sumber dana pendidikan berasal dari swadaya masyarakat berupa bantuan dari orang tua siswa melalui Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3), Dinas Pendidikan Nasional, Departemen Agama, subsidi dari Pemerintah Daerah (Pemda) dan dari sumber donatur lainnya yang tidak mengikat.

Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja menggunakan kurikulum madrasah Aliyah tahun 1994 yang disempurnakan pada tahun 1999 serta menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dan juga kurikulum lain yang digunakan Madrasah Aliyah Al-Ishlah di samping dari Departemen Agama, Dinas Pendidikan Nasional, juga membuat kurikulum sendiri sesuai dengan kondisi Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Al-Ishlah. Program studi yang diambil terdiri dari program IPA dan IPS. Kelulusan siswa kelas tiga ditentukan oleh ujian yang diselenggarakan oleh negara dan juga ujian yang diselenggarakan oleh yayasan dengan bukti adanya ijazah lokal.

Sejak tahun pelajaran 2005/2006 sampai sekarang, berkat kepercayaan dari masyarakat dan hasil kerja maksimal pihak yayasan dan madrasah, penerimaan siswa baru kelas satu sangat banyak sementara ruangan tidak memadai maka ada kelas siang. Diantara Madrasah Aliyah yang ada di lingkungan KKM MAN Pamanukan Subang, maka Madrasah Aliyah Al-Ishlah siswanya terbanyak sehingga mampu menerima siswa dua kelas gemuk.

Perkembangan jumlah siswa dalam 3 (tiga) tahun terakhir  dapat diperhatikan tabel berikut ini:

KELAS 2004/2005 2005/2006 2006/2007 Keterangan
I 81 104 91
II 45 82 88
III 33 44 72
Jumlah 159 220 251

Jumlah Rombongan Belajar pada tahun Pelajaran 2006/2007 terdiri dari:

a. Kelas I                                : 2 rombongan belajar (91 siswa)

b. Kelas II                               : 2 rombongan belajar (88 siswa)

c. Kelas III                              : 2 rombongan belajar (72 siswa)

DAFTAR NAMA-NAMA GURU

MADRASAH ALIYAH AL-ISHLAH JATIREJA SUBANG

No. Nama Jabatan Pendidikan Terakhir Mengajar
1. Drs. H. Sukarna, M. Si Kepala STIAMI Qur’an Hadits
2. Ato Sukarto, S Ag. Wakil Kep. IAIN Aqidah Akhlq
3. Dahlan, S Ag. Ka TU IAIN Bhs. Inggris
4. Yahya, Amd. Guru STIE Ekonomi
5. Moh. Dahlan S Ag. Guru IAIN Fiqih
6. A, Mahmud MAZ. Guru SMUN TIK
7. Tabroni AZ. Guru MAN SKI
8. Budi Setiawan, S Pdi Guru STAI Geografi
9. Ida Asmanah, SE. Guru STIE Ekonomi
10. Wahidin Sudiro, S Ag. Guru STAI Pejaskes
11. Wahidi, S Pdi. Guru UNWIR Bhs.Indonesia
12. Nuryadin, ST. Guru ITENAS Kimia
13. Hadi Yahya, SE. Guru STIE Fisika
14. Suhari, S Pdi. Guru STAI Bhs.Indonesia
15. Emon Rasman, S Ag. Guru STAI PPKn
16. Toni, S Pdi. Guru STAIN Bhs. Arab
17. Lia Aliyah, S Ag. Guru IAIN Kesenian
18. Wangsa Susena Guru IAIN Sejarah
19. Omsah Nilam K. SP. Guru UNPAD Biologi
20. Mugi Mugni S pd. Guru Unsil Matematika
21. Dodi Hermawan Guru STM Tek in Kom
22. Ali Azis Guru STAIN Sejarah
23. Suwitno, S Pd Guru UNSUB Penjaskes

2. Sarana Pendidikan

Yang dimaksud dengan sarana disini adalah segala fasilitas yang tersedia di Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Islam (YPPI) Pondok Pesantren Al-Ishlah yang dapat mendukung terselenggaranya proses pendidikan dan pengajaran di Madrasah Aliyah Al-Ishlah untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Sarana pendukung terselenggaranya pendidkan tersebut antara lain:

a. Gedung Madrasah sebagai Pusat Kegiatan Belajar

Gedung Madrasah Aliyah Al-Ishlah dibangun di atas tanah seluas 2000 M2 dengan luas bangunan 128 M2 milik Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Islam (YPPI) Pondok Pesantren Al-Ishlah dengan Surat Kepemilikan Tanah sertifikat/Akte No. 10.08.13.08.1.00088. Terdiri dari empat ruang belajar yang memadai, satu ruang Kepala Madrasah dan Tata Usaha, satu ruang dewan guru dan Bimbingan Penyuluhan, ruang OSIS, satu ruang laboratorium komputer dan bahasa. Kemudian dilengkapi dengan tempat parkir, MCK, kantin sekolah, koperasi dan tempat bersantai siswa.

b. Mesjid sebagai Pusat Kegiatan Keagamaan

Mesjid Al-Ishlah merupakan bangunan induk di yayasan,  lokasinya berada di tengah-tengah bangunan yang lainnya. Disamping sebagai tempat ibadah, mesjid Al-Ishlah juga difungsikan sebagai pusat berbagai kegiatan keagamaan seperti, membudayakan shalat berjama’ah, bimbingan baca tulis Al-Qur’an, shalat sunat dan kuliah dhuha, bacaan berjanji, muhadharah, taushiah bulanan oleh sesepuh pondok pesantren, pembinaan akhlaq, diskusi, dzikir kubra bulanan dengan melibatkan lapisan masyarakat dan kegiatan keagamaan yang lainnya.

c. Perpustakaan sebagai Pusat Kegiatan Gemar Membaca

Perpustakaan madrasah sangat urgen keberadaannya terutama dalam membantu siswa untuk mandiri dalam belajar. walaupun masih sederhana, tetapi dalam perpustakaan madrasah tersimpan berbagai koleksi buku pelajaran dan bacaan yang menarik baik bacaan umum maupun keagamaan. Buku-buku yang digunakan sebagai sumber dan pegangan guru dalam mengkaji materi pelajaran, buku paket, baik terbitan Departemen Agama maupun Departemen Pendidikan Nasional. Dan di perpustakaan ini juga tersimpan koleksi kitab-kitab kuning milik pribadi KH. Ushfuri Anshar (Sesepuh Pondok Pesantren Al-Ishlah) dalam jumlah yang banyak yang bisa dibaca.

Dan juga di perpustakaan ini tersimpan koleksi hibah mushaf Al-Qur’an, alat-alat peraga IPA (Fisika dan Biologi), berbagai jenis peta, atlas, globe, alat peraga matematika dan berbagai koleksi media masa dan majalah pendidikan.

d. Sarana Olah Raga

Dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan jasmani siswa, yayasan juga menyediakan berbagai fasilitas sarana olah raga diantaranya, tersedianya lapangan bola volly, lapangan bulu tangkis, lapangan bola basket (ketiganya satu lokasi), lapangan tenis meja, papan catur, bola volly beserta net, bola sepak, bet serta netnya, rakcket serta koknya, dan perlegkapan olah raga lainnya.

Demikian juga di Madrasah Aliyah Al-Ishlah dikembangkan olah raga bela diri “Pagar Nusa” dilaksanakan seminggu satu kali pada malam jum’at. Pesertanya terdiri para siswa dan para santri yang mukim di pesantren.

e. Alat Tulis Kantor (ATK) Administrasi Kelas

Untuk memperlancar terselengaranya proses pendidikan harus tersedianya fasilitas alat tulis kantor dan administrasinya termasuk ruang kelas yang ada. Pengolahan ruang kelas sangat penting untuk memperlancar kegiatan belajar mengajar, di ruang kelas harus tersedia tempat dan alat tulis yang memadai, tersediannya alat peraga, papan absensi, regu piket, jadwal pelajaran, buku absen, buku nilai, agenda kelas, tata tertib siswa, perlengkapan kebersihan. Agar tercipta iklim belajar yang kondusif sehingga siswa yang belajar guru yang mengajar merasa betah dan nyaman berada di kelas.

  1. B. Pendidikan Aqidah Akhlaq di Madrasah Aliyah Al-Ishlah

1. Materi Pendidikan Aqidah Akhlaq

Pendidikan Aqidah Akhlaq di Madrasah Aliyah berisi bahan pelajaran yang dapat mengarahkan pada pencapaian kemampuan dasar peserta didik untuk dapat memahami rukun iman secara ilmiah serta pengalaman dan pembiasaan berakhlaq Islami, untuk dapat dijadikan landasan yang kuat dalam berprilaku kehidupan sehari-hari serta sebagai bekal untuk jenjang pendidikan berikutnya. Adapun mengorganisasikan materi pada dasarnya merupakan kegiatan mensiasati proses pembelajaran dengan merancang terhadap unsur-unsur instrumen melalui upaya pengorganisasian isi materi yang rasional, menyeluruh dan berkelanjutan. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip antara lain, dari mudah ke sulit, dari sederhana ke yang kompleks dan dari yang konkret ke yang abstrak.

Adapun uraian materi Pendidikan Aqidah Akhlaq adalah sebagai berikut:

a.  Kelas X  Semester Ganjil (32 Jam Pelajaran)

Menghayati makna hakiki aqidah Islam              (4 Jam)

1) Pengertian Aqidah,Tauhid,Ushuluddin,Ilmu Kalam

2)  Ruang lingkup Aqidah Islam

3)   Dalil Naqli tentang Aqidah Islam

4)  Tauladan yang kokoh dalam Aqidah Islam

Memahami makna hakiki akhlaq                        (6 Jam)

1) Pengertian Akhlaq

2) Ruang lingkup Akhlaq

3) Akhlaq, Etika, Moral dan Budi Pekerti

4) Perbedaan Akhlaq, Etika, Moral dan Budi Pekerti

5) Keteladan Orang yang berakhlaq luhur

Memahami hubungan fungsional antara aqidah dan akhlaq                                                                 (4 Jam)

1) Fungsi Aqidah sebagai dasar Akhlaq

2) Akhlaq yang baik cerminan Aqidah yang benar

3) Hubungan Aqidah dengan Akhlaq

Hakekat Iman kepada Allah SWT.                       (4 Jam)

1) Makna hakikat Iman kepada Allah SWT.

2) Makna lafadz “Laa ilaaha illallah”

3) Argumentasi Iman kepada Allah SWT

4) Hikmah beriman kepada Allah SWT.

Beradab Islami iffah, musawwah dan ukhuwah  (6 Jam)

1) Pengertian iffah, musawwah dan ukhuwah

2) Memberi contoh iffah, musawwah dan ukhuwah

3) Dalil tentang iffah, musawwah dan ukhuwah

4) Hikmah dari iffah, musawwah dan ukhuwah

5) Akibat tidak iffah, musawwah dan ukhuwah

Hakikat Beriman kepada Malaikat                      (8 Jam)

1) Pengertian Iman kepada Malaikat

2) Menjelaskan fungsi Malaikat

3) Dalil naqli tentang Malaikat

4) Argumentasi tidak beriman kepada Malaikat

5) Hikmah beriman kepada Malaikat

6) Argumentasi kuat tentang adanya Malaikat

b.  Kelas X  Semester Genap ( 20 Jam Pelajaran)

Akhlaq terpuji (kreatif, dinamis, shabar)            (10 Jam)

1) Pengertian Kreatif, Dinamis, Shabar dan Tawakal

2) Analisis naqli tentang Kreatif, Dinamis, Shabar

3) Contoh Kreatif, Dinamis, Shabar dan Tawakal

4) Hikmah Kreatif, Dinamis, Shabar dan Tawakal

5) Akibat tidak Kreatif, Dinamis, Shabar dan Tawakal

Akhlaq Tercela (Pasif, Pesimis dan Putus Asa)    (10 Jam)

1) Kategori Pasif, Pesimis dan Putus Asa

2) Akibat negatif Pasif, Pesimis dan Putus asa

3) Hikmah menghindari Pasif, Pesimis dan Putus asa

c. Kelas XI  Semester Ganjil (34 Jam Pelajaran)

Hakikat Beriman kepada Kitab Allah SWT.           (8 Jam)

1) Pengertian Iman kepada Kitab Allah

2) Menguraikan kandungan QS:4:48 dan QS:1:23

3) Hikmah beriman kepada Kitab Allah

4) Bukti Kebenaran Al-Qur’an

5) Tanggungjawab Muslim terhadap Al-Qur’an

6) Al-Qur’an sebagai pedoman hidup

4. Akhlaq Terpuji (Bijaksana, Amanah, Futuristik) (10 Jam)

1) Pengertian Bijaksana, Amanah dan Futuristik

2) Analisis dalil tentang Bijaksana, Amanah, Futuristik

3) Berprilaku Bijaksana, Amanah dan Futuristik

4) Hikmah sikap Bijaksana, Amanah dan Futuristik

5) Akibat tidak Bijaksana, Amanah dan Futurisik

5. Akhlaq Tercela (Memfitnah, Mencuri, Picik, hedonisme dan Materialistik)                                              (16 Jam)

1) Kategori Memfitnah, Mencuri, Picik, Matrealistik

2) Akibat Memfitnah, Mencuri, Picik dan Materialistik

3) Hikmah dari Memfitnah,Mencuri,Picik,Materialistik

c. Kelas XI  Semester Genap (32 Jam Pelajaran)

Makna Iman kepada Rasul-rasul Allah SWT.       (10 Jam)

1) Pengertian Iman kepada Rasul-rasul Allah

2) Dalil naqli tentang fungsi Rasul bagi manusia

3) Kebutuhan manusia akan Rasul

4) Mengkritisi Argumentasi yang tidak percaya Rasul

5) Misi para Rasul

6) Kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW.

7) Sikap menyebarkan risalah Rasulullah SAW.

2. Membiasakan diri berakhlaq terpuji                   (14 Jam)

1) Pengertian Solidaritas, Tasamuh, Ta’awun, Zuhud

2) Analisis naqli Solidaritas, Tasamuh, Ta’awun, Zuhud

3) Bersikap Solidaritas, Tasamuh, Ta’awun dan Zuhud

4) Hikmah Solidaritas, Tasamuh, Ta’awun dan Zuhud

3. Beriman kepada Hari Akhir                                    (8 Jam)

1) Pengertian iman kepada Hari Akhir

2) Dalil naqli tentang Hari Akhir

3) Kejadian sekitar Hari Akhir

5) Hikmah beriman kepada Hari Akhir

6) Balasan orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir

2. Langkah-langkah Pembelajaran

Proses pembelajaran merupakan proses yang rumit dan kompleks. Ada beragam aspek yang saling berkaitan dan mempengaruhi berhasil atau gagalnya kegiatan pembelajaran. Banyak guru yang telah bertahun-tahun mengajar tetapi sebenarnya kegiatan yang dilakukannya tidak banyak memberikan aspek perubahan positif dalam kehidupan anak didiknya. Sebaliknya, ada guru yang relatif baru, namun telah memberikan kontribusi konkret ke arah kemajuan dan perubahan positif dalam diri anak didik.

Ditinjau dari pandangan filsafat pendidikan Islam, guru memiliki posisi yang penting dan terhormat. Imam Al-Ghazali menyatakan sebagaimana dikutif oleh Athiyah Al-Abrasy:

“Seorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya, dialah yang dinamakan orang besar di kolong langit ini. Dia itu ibarat matahari yang menyinari orang lain, dan menyinari dirinya sendiri”.[131]

Implementasi profesionalisme guru berupa rasa tanggung jawab sebagai pengelola belajar (manager of learning), pengarah belajar (director of learning) dan perencana masa depan masyarakat (planner of the future society). Dengan tanggung jawab ini, pendidik memiliki tiga fungsi, yaitu:

    1. Fungsi Instruksional yang bertugas melaksanakan pengajaran.
    2. Fungsi educational yang bertugas mendidik peserta didik agar mencapai tujuan pendidikan.
    3. Fungsi managerial yang bertugas memimpin dan mengelola proses pendidikan.[132]

Kerangka perencanaan dan implementasi pengajaran melibatkan urutan langkah-langkah yang sangat penting bagi para guru dalam mempersiapkan pelaksanaan rencana pengajaran. Kerangka tersebut membatasi banyaknya aktifitas khusus yang akan diselesaikan oleh guru, yaitu meliputi:

    1. Menidiagnosa kebutuhan peserta didik, dengan memperhatikan secara khusus terhadap peserta didik di dalam kelas.
    2. Memilih isi dan menentukan sasaran yang diharapkan dukuasai oleh peserta didik
    3. Mengidentifikasi teknik-teknik pembelajaran untuk mengambil suatu keputusan.
    4. Merencanakan suatu aktifitas merumuskan unit-unit dan merencanakan pelajaran serta dibukukan sehingga dapa digunakan melanjutkan pembelajaran berikutnya.
    5. Memberikan motivasi dan implementasi program agar rencana pengajaran itu berjalan dengan baik.
    6. Perencanaan yang dipusatkan kepada pengukuran, evaluasi dan penentuan tingkat. Mengembangkan perencanaan untuk mengadakan tes dan penyesuaian tentang penampilan peserta didik secara individual.[133]

Untuk menjadi guru yang baik maka dituntut adanya sejumlah kompetensi yang harus dimiliki oleh guru, terutama ketika guru tersebut akan menentukan langka-langkah dalam pembelajaraan, kompetensi tersebut yaitu:

  1. Menguasai landasan-landasan kependidikan
  2. Penguasaan materi atau bahan pelajaran
  3. Kemampuan mengolah program kegiatan belajar mengajar
  4. Kemampuan mengelola kelas
  5. Kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar
  6. Kemampuan menggunakan media dan sumber belajar
  7. Kemampuan menilai hasil belajar atau prestasi siswa
  8. Kemampuan mengenal dan menyelenggarakan administrasi pendidikan
  9. Kemampuan memahami prinsip dan menafsirkan hasil penelitian untuk keperluan pengajaran

10.Mengenal dan menyelenggarakan administrasi madrasah.[134]

Profesionalisme guru, sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung harus menyusun program pengajaran sesuai dengan mata pelajaran yang bersangkutan, demikian halnya dengan mata pelajaran Pendidikan Aqidah Akhlaq. Adapun program pengajaran itu meliputi;

a. Program Tahunan

Program tahunan merupakan salah satu dari program pengajaran. Program tahunan ini memuat alokasi waktu untuk setiap pokok bahasan dalam satu tahun pelajaran. Program tahunan ini berfungsi sebagai acuan untuk membuat program semester.

Dengan adanya program tahunan ini seorang guru dapat mengetahui kegiatan apa saja yang akan dilakukan selama setahun ke depan, kapan guru melaksanakan pengajaran, kapan diadakan ujian dan sebagainya. Dengan adanya program tahunan ini, seorang guru sudah dapat mengetahui kegiatan pengajaran yang akan dilakukannya, sehingga tidak akan terdapat pekerjaan yang tertunda dan tumpang tindih.

Program tahunan tersebut dibuat berdasarkan kepada:

1) GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran) mata pelajaran yang bersangkutan untuk jenjang pendidikan yang terkait.

2)   Buku-buku pelajaran yang sesuai dengan GBPP tersebut untuk setiap mata pelajaran yang akan disusun program pengajarannya.

3)   Landasan Program dan Pengembangan Kurikulum untuk jenjang pendidikan tertentu.

b. Program Semester

Program semester merupakan program pengajaran yang dibuat untuk jangka waktu selama kurang lebih satu semester atau enam bulan. Program ini dibuat mengacu pada program tahunan yang telah dibuat terlebih dahulu.

Program semester dibuat karena secara praktis pelajaran yang akan diberikan kepada anak didik perlu diatur waktunya serta tahapan penyampaian pokok-pokok bahasan dalam satu bidang studi dengan memperhatikan alokasi waktu yang tersedia.

Adapun fungsi dari program semester antara lain:

1) Sebagai acuan atau pegangan guru dalam rangka menyusun program satuan pelajaran.

2)  Sebagai kalender kegiatan belajar mengajar, sehingga guru yang bersangkutan dapat merencanakan kegiatan lainnya yang mungkin dapat dijangkau

3) Sebagai usaha untuk mencapai tingkat efisiensi dan efektifitas dalam penggunaan belajar mengajar

4) Sebagai komponen utama dalam menyusun program tahunan dan program semester sendiri.

c. Program Satuan Pelajaran (Satpel)

Program Satuan Pelajaran adalah salah satu bagian dari program pengajaran yang memuat satuan bahasan untuk disajikan beberapa kali pertemuan. Program Satuan Pelajaran adalah suatu rencana pengajaran yang disusun secara sistematis tujuan pengajaran dapat dicapai sebagaimana yang diharapkan. Program satuan pelajaran mempunyai fungsi yang amat menentukan bagi keberhasilan dan kelancaran kegiatan pendidikan. Selain itu dengan satuan pelajaran yang disusun itu seorang guru akan memiliki arah, pegangan dan acuan yang jelas tentang apa yang harus diajarkan kepada siswa dalam kelas yang ditentukan.

Adapun komponen program satuan pelajaran terdiri dari:

1) Nama mata pelajaran

2) Nama satuan pendidikan

3) Pokok bahasan/sub pokok bahasan

4) Nama kelas

5) Urutan semester

6) Alokasi waktu

7) Tahun pelajaran

8) Tujuan pembelajaran umum (TPU)

9) Tujuan pembelajaran khusus (TPK)

10)Materi pelajaran

11) Kegiatan belajar mengajar

12) Langkah-langkah yang akan ditempuh

13) Alat bantu/sarana yang akan digunakan

14)Sumber pelajaran

15)Evaluasi/Penilaian yang akan digunakan

Satuan pelajaran yang dibuat oleh guru harus berdasarkan antara lain: pertama, Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) mata pelajaran yang bersangkutan; kedua, buku-buku pelajaran yang sesuai dengan GBPP tersebut; ketiga, sumber atau bahan lain yang diperlukan.

Setelah selesai menyusun program, baik program tahunan, program semester ataupun program satuan pelajaran, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan program tersebut ke dalam kegiatan pengajaran di kelas. Oleh sebab itu guru harus mempunyai kesiapan mengajar tersebut antara lain sebagai berikut:

1) Memiliki kesiapan baik fisik maupun mental

2) Memilki kesiapan menguasai materi pelajaran

3) Menyediakan buku-buku yang berkaitan dengan materi   pelajaran tersebut

4) Mempunyai rasa tanggungjawab terhadap keberhasilan tugas

Langkah pembelajaran selanjutnya yang dilakukan oleh guru adalah melakukan kegiatan Evaluasi atau penilaian terhadap peserta didik untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi pelajaran yang disampaikan.

Dalam melakukan evaluasi ini, tekniknya guru yang bersangkutan bisa menggunakan jenis test sebagai berikut:

1. Test Akhir atau Post Test

Test ini dilakukan setelah guru menyelesaikan satu lesson plan. Jika satu lesson plan memerlukan waktu 2 X40 menit, maka kira-kira 15 menit terakhir digunakan untuk menyelenggarakan post test. Keguanaan test ini terutama ialah untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memperbaiki lesson plan. Dalam hal ini hasil test tersebut dijadikan umpan balik (feedback) dalam rangka meningkatkan mutu pengajaran. Patokan yang digunakan ialah bila nilai yang diperoleh siswa paling rendah rata-rata 75 dan tidak ada siswa yang memperoleh di bawah 60, maka lesson plan itu dianggap tidak erlu direvisi.

Kadang-kadang pelaksanaan test ini (post test) memerlukan waktu yang cukup banyak, seperti pada test tindakan. Karena itu secara keseluruhan test tersebut akan mengganggu maka test ini tidak bisa ditujukan kepada seluruh siswa, sebagian siswa sebagai sample, bila jumlah siswa 40 misalnya, sample cukup diambil 10 atau 20 saja. Dengan teknik random. Tetapi jika kelas ideal yang berisi siswa antara 15 – 20 orang, terutama bila pengajaran banyak menyangkut pembinaan aspek ketrampilan. Bila kelas ideal ini, maka test tidak perlu ditujukan kepada sample.[135]

2. Test Formatif

Test Formatif merupakan penilaian untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh anak didik setelah menyelesaikan program dalam satuan bahan pelajaran pada suatu mata pelajaran tertentu.[136]

Kegunaan test formatif ini, seperti dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto, meliputi:

Manfaat bagi siswa, antara lain:

  1. Mengetahui apakah siswa sudah menguasai bahan pelajaran secara keseluruhan
  2. Merupakan penguatan bagi siswa
  3. Usaha perbaikan, setelah siswa mengethui kelemahnya
  4. Sebagai diagnosis

Adapun manfaat bagi guru antar lain sebagai berikut:

  1. Mengetahui sampai sejauh mana bahan pelajaran yang    diajarkan dapat diterima oleh siswa
  2. Mengetahui bagian-bagian mana dari bahan pelajaran yang belum menjadi milik siswa
  3. Dapat meramalkan sukses dan tidaknya seluruh program yang akan diberikan.[137]

3. Test Sumatif

Test ini dilakukan terhadap hasil belajar peserta didik setelah mengikuti pelajaran dalam satu catur wulan atau satu semester, atau akhir tahun untuk menentukan jenjang berikutnya.[138]

Menurut Suharsimi Arikunto, bahwa test sumatif bermanfaat untuk:

  1. Untuk menentukan nilai
  2. Untuk menentukan seorang dapat atau tidaknya mengikluti kelom[pok dalam menerima program berikutnya
  3. Untuk mengisi cacatan kemajuan belajar siswa yang akan berguna bagi orang tua, pihak Bimbingan Penyuluhan sekolah dan pihak lain apabila siswa tersebut akan pindah.[139]

Dalam pelaksanaannya test sumatif di sekolah-sekolah ada yang disamakan antara satu daerah atau wilayah administrasi, dan dikenal dengan sebutan Test Hasil Belajar (THB), Test Prestasi Belajar (TPB).

Kebaikan Test Hasil Belajar antara lain:

  1. Pihak atasan atau pengelola sekolah dapat membandingkan kemajuan sekolah-sekolah yang ada di wilayahnya
  1. Karena dibandingkan antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain, maka akan timbul persaingan sehat antara sesamanya
  2. Standar pelajaran akan terpeliharadengan sebaik-baiknya karena soal-soal test yang diberikan disusun oleh Departemen Pendidikan dan Departemen Agama.

Keburukan Test Hasil Belajar bersama antara lain:

  1. Adanya kemungkinan akan terjadi pemberian pelajaran yang hanya berorientasi pada ujian dengan cara memberikan latihan mengerjakan soal sebanyak-banyaknya
  2. Tidak menghiraukan jika terjadi beberapa bentuk kecurangan karena ada sekolah yang ingin mendapat nama baik.[140]

Langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh seortang guru adalah mengadakan perbaikan dan pengayaan. Hal ini dilakukan dengan maksud sebagai berikut:

  1. Memperbaiki, melengkapi kekurangan yang terjadi dalam kegiatan belajar mengajar, tidak bisa dilaksanakan sepenuhnya, atau tidak mungkin karena ada halangan yang memungkinkan tidak bisa melakukan hal itu sebagaimana mestinya.
  2. Menambah memajukan materi pelajaran yang telah diperoleh oleh siswa di sekolah kurang jelas dan tidak dapat penyesuaian di sekolah.
  3. Memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada para siswa untuk menanyakan persoalan yang berkaitan dengan mata pelajaran tersebut, mengingat pelajaran itu hanya satu kali pertemuan tiap minggu, dan keterbatasan waktu, sehingga banyak permasalahan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, tidak sepenuhnya terselesaikan.

C.  Kondisi Akhlaq Siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja

Dalam uraian ini peneliti mendeskripsikan keadaan yang sebenarnya (obketif) tentang kondisi aqidah dan akhlaq siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja Subang sesuai dengan realitas di lapangan berdasarkan observasi berupa kunjungan langsung peneliti mendatangi lokasi tempat penelitian, dengan berbagai cara untuk mendapatkan data, baik dengan wawancara, mengamati secara diam-diam, berbaur dengan mereka dan untuk mencocokannya melaui angket yang disebarkan kepada mereka. Kondisi akhlaq siswa di sekolah selama mereka mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran. Akhlaq mereka sebagaimana pernyataan dan jawaban mereka berdasarkan hasil pembagian angket kepada mereka dengan hasil akan diuraikan sesuai dengan indikator yang berkaitan dengan akhlaq mereka , sebagai berikut:

1. Akhlaq Siswa terhadap Pendidikan Aqidah Akhlaq

Tabel  4.1

Tentang Minat Siswa terhadap Pendidikan Aqidah Akhlaq

No. Indikator Frekuensi Prosentase
1.

2.

3.

Senang

Kurang Senang

Tidak senang

68

2

0

97,14 %

2,86 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Berdasarkan Tabel 4.1 tersebut di atas, dinyatakan bahwa responden yang menjawab senang sebanyak 68 siswa (97,14 %). Dan responden yang menjawab kurang senang  sebanyak 2 siswa (2,86 %). Sementara itu responden yang menjawab tidak senang nihil (0 %).

Dengan memperhatikan realita pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa hampir seluruh siswa merasa senang terhadap mata pelajaran pendidikan aqidah akhlaq, dan hanya sedikit yang menyatakan kurang senang, dan tidak ada yang menjawab tidak senang.

Dengan demikian berarti mereka merasa senang terhadap mata pelajaran pendidikan aqidah akhlaq, hal ini tercermin dari kehadiran, keseriusan, dan semangat belajar mereka ketika pelajaran berlangsung, mereka selalu berusaha agar tingkah laku mereka mengikuti aturan-aturan yang diajarkan dalam pendidikan aqidah akhlaq. Sedangkan siswa yang kurang senang terhadap pendidikan aqidah akhlaq, mereka masih sering melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku, melanggar tata tertib sekolah yang ada. Terhadap siswa yang demikian pihak sekolah dalam hal ini guru yang bersangkutan mengadakan bimbingan secara intensif.

Tabel 4.2

Tentang Motivasi siswa mengikuti Pendidikan Aqidah Akhlaq

No. Indikator Frekuensi Prosentasi
1.

2.

3.

[

Menjadi Siswa Berakhlaq Mulia

Karena Ada Pelajaran Akhlaq

Sekedar ingin tahu

65

5

0

92,86 %

7,14 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Memperhatikan tabel 4.2 di atas, tercermin bahwa responden yang menjawab adanya motivasi atau dorongan yang kuat dalam diri siswa untuk menjadi seorang muslim yang berakhlaq karimah sebanyak 65 siswa (92,86 %). Dan responden yang menjawab mau belajar karena ada pelajaran aqidah akhlaq semata di sekolah sebanyak 5 siswa (7,14 %). Sedangkan responden yang menjawab sekedar ingin tahu pelajaran aqidah akhlaq, nihil (0 %).

Dari pernyataan dan jawaban tersebut di atas, tergambar bahwa motivasi siswa sangat tinggi untuk mengikuti mata pelajaran aqidah akhlaq hal ini mencerminkan keinginan yang kuat dari siswa untuk menjadi yang terbaik akhlaqnya, dan sedikit sekali yang hanya sekedar ikut-ikutan karena ada pelajarannya.

Tabel 4.3

Tentang Akhlaq Siswa ketika mengikuti Proses Pembelajaran

No. Indikator Frekuensi Prosentasi
1.

2.

3.

Selalu mengikuti dengan Seksama dan penuh perhatian

Kadang-kadang Mengikuti

Tidak Mengikuti

55

15

0

78,57 %

21,43 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 4.3 tersebut di atas, dinyatakan bahwa responden yang menjawab mengikuti pelajaran pendidikan aqidah akhlaq yang disampaikan oleh guru dengan seksama, sebanyak 55 siswa (78,57 %). Dan responden yang menjawab kadang-kadang mengikuti pelajaran ini yang disampaikan oleh guru, sebanyak 15 siswa (21,43 %). Sedangkan responden yang menjawab tidak mengikuti pelajaran pendidikan aqidah akhlaq yang disampaikan guru, nihil (0 %)

Dari pernyataan dan jawaban tersebut dapat dikatakan bahwa sebagian besar siswa mengikuti dengan seksama ketika proses pembelajaran pendidikan aqidah akhlaq berlangsung, hal ini mengindikasikan bahwa siswa mempunyai perhatian yang besar dalam mengikuti proses pembelajaran ini, siswa menyadari betapa pentingnya mempunyai akhlaq yang mulia dalam hidup beragama dan bermasyarakat, sehingga keberadaanya menjadi dambaan masysrakat. Sedangkan siswa yang kadang-kadang dan kurang seksama mengikuti proses pembelajaran ini masih mengikuti keinginan hatinya sehingga kesempatan baik untuk belajar tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Tabel 4.4

Akhlaq Siswa dalam menunaikan Shalat Lima waktu

No. Indikator Frekuensi Prosentasi
1.

2.

3.

Selalu menunaikannya

Kadang-kadang menunaikan

Tidak suka menunaikannya

70

0

0

100 %

0 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 4.4 tersebut di atas, dinyatakan bahwa responden yang menyatakan dan menjawab senang dalam melakukan shalat yang lima waktu sebanyak 70 siswa (100 %). Dan responden yang menjawab kadang-kadang melakukan nihil (0 %) demikian juga responden yang menjawab tidak senang melakukan shalat yang lima waktu nihil (0 %)

Dari pernyataan dan jawaban tersebut dapat dikemukakan bahwa siswa secara keseluruhan senang melakukan shalat lima waktu. Dengan  demikian mereka menyadari dan tinggi rasa tanggungjawabnya dalam melaksanakan ajaran Islam.

Tabel 4.5

Akhlaq siswa dalam menuaikan Shaum pada bulan Ramadhan

No. Indikator Frekuensi Prosentase
1.

2.

3.

Selalu  melaksanakannya

Kadang-kadang melaksanakan

Tidak  melaksanakannya

70

0

0

100 %

0 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 4.5 tersebut di atas, dinyatakan bahwa responden yang menjawab senang melaksanakan puasa bulan Ramadhan, sebanyak 70 siswa (100 %). Dan responden yang menjawab kadang-kadang melaksanakan, nihil (0 %). Demikian juga responden yang menjawab tidak senang melaksanakannya, nihil  (0 %).

Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa seluruh siswa mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi dalam melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, mereka menyadari bahwa puasa Ramadhan merupakan perintah Allah SWT. dan wajib dilaksanakan oleh sitiap umat Islam. Karena puasa Ramadan juga sebagai ucapan rasa syukur terhadap Allah SWT. demikian juga mereka melihat dari aspek kesehatan, mereka meyakini kegiatan keagamaan ini dapat menyehatkan jasmani, dan dapat meningkatkan kualitas keimanannya kepada Allah SWT.

Tabel 4.6

Tentang sikap siswa dalam mengikuti kegiatan keagamaan

No. Indikator Frekuensi Prosentasi
1.

2.

3.

Selalu mengikuti dengan baik

Kadang-kadang mengikuti

Tidak senang mengikuti

52

15

3

74,28 %

21,43 %

4,29 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 4.6 tersebut di atas, dinyatakan bahwa responden yang menjawab mengikuti kegiatan keagamaan sebanyak 52 siswa (74,28 %). Dan responden yang menjawab kadang-kadang mengikuti sebanyak 15 siswa (21,43 %). Sedangkan responden yang menjawab tidak senang mengikuti kegiatan keagamaan, 3 siswa (4,29 %).

Dari pernyataan dan jawaban tersebut dapat dikatakan bahwa, sebagian besar siswa mengikuti kegiatan keagamaan yang diselenggarakan di sekolah, dan hanya sebagian kecil yang menjawab kadang-kadang bahkan tidak mengikuti kegiatan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa menganggap perlu terhadap kegiatan keagamaan  untuk melengkapi dan menambah wawasan keilmuan tentang materi pelajaran pendidikan aqidah akhlaq. Adapun yang menjawab kadang-kadang dan tidak mengikuti mereka beralasan ada hal lain yang tidak bisa ditinggalkan dan atau karena mereka hanya mengabaikan belaka. Mereka merasa tertarik dengan beberapa kegiatan keagamaan yang diselenggarakan sekolah, terutama kegiatan muhadharah, yauitu kegiatan praktek bermain peran dalam berbagai acara, dan kegiatan ini sangat praktis karena nantinya akan dipraktekan langsung di tengah-tengah masyarakat dalam berbagai kegiatan.

[

Tabel 4.7

Tentang akhlaq siswa dalam memakai pakaian sekolah

[

No. Indikator Frekuensi Prosentase
1.

2.

3.

Selalu memakai dengan rapih

Kadang-kadang memakai

Tidak memakai

61

9

0

87,14 %

12,86 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 4.7 tersebut di atas dinyatakan bahwa responden yang menjawab memakai dengan rapih, sebanyak 61 siswa (87,14 %). Dan responden yang menjawab kadang-kadang berpakaian rapih dan kadang-kadang seenaknya sebanyak 9 siswa (12,86 %). Sedangkan responden yang menjawab tidak memakai, nihil (0 %).

Dari pernyataan dan jawaban tersbut dapat dikatakan bahwa sebagian besar siswa memakai pakaian seragam sekolah dengan rapih dan sopan. Dan sebagian kecil lainnya menyatakan kadang-kadang memakai seragam dengan tidak rapih.

Dengan demikian mereka mempunyai kesadaran yang baik dalam berpakaian dan mentaati cara berpakaian yang ditentukan oleh sekolah. Dan sedikit sekali diantara siswa yang berpakain sekolah dengan tidak rapih. Hal ini menandakan ketaatan siswa dalam berpakaian sangat baik, terutama ketika mereka berada di lingkungan sekolah selalu rapih dan baju selalu dimasukan sesuai dengan ketentuan atau tata tertib etika berbusana.

2. Akhlaq Siswa terhadap Guru

Tabel 4.8

Tentang Akhlaq siswa dalam mentaati guru

No. Indikator Frekuensi Prosentasi
1.

2.

3.

Selalu mentaati

Kadang-kadang mentaati

Tidak mentaati

59

11

0

84,28 %

15,72 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 4.8 tersebut di atas dinyatakan bahwa responden yang menjawab selalu mentaati sebanyak 59 siswa (84,28 %). Dan responden yang menjawab kadang-kadang mentaati sebanyak 11 siswa (15,72 %). Sedangkan responden yang menjawab tidak mentaati nihil (0 %).

Dari pernyataan itu dapat dikatakan bahwa sebagian besar siswa mentaati guru. Dan sebagian kecil yang tidak mentaati.

Dengan demikian berarti mereka mempunyai kesadaran yang tinggi dalam mentaati guru terhadap hal-hal yang baik untuk kebaikan siswa itu sendiri agar berhasil dalam belajar. Mereka menyadari posisi guru adalah sebagai orang tua, yang berperan mengarahkan, mengajar dan mendidik agar mereka menjadi orang yang berguna, mereka menyadari tidak ada seorangpun guru yang menginginkan anak didiknya tidak berhasil dalam pembelajaran, oleh sebab itu ketaatan siswa kepada gurunya merupakan langkah awal yang baik menuju keberhasilan siswa. Oleh sebab itu siswa menyadari walaupun kadang mereka terikat, terkekang kebebasannya, namun itu semua demi kebaikannya.

Tabel 4.9

Tentang akhlaq kesopanan siswa terhadap guru

No. Indikator Frekuensi Presentase
1.

2.

3.

Selalu berlaku sopan santun

Kadang-kadang berlaku sopan

Berlaku tidak sopan

65

5

0

92,85 %

7,15 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 4.9 tersebut di atas dinyatakan bahwa responden yang menjawab selalu berlaku sopan santun kepada guru sebanyak 65 siswa (92,85 %). Dan responden yang kadang-kadang berlaku sopan sebanyak 5 siswa (7,15 %). Sedangkan responden yang menjawab tidak sopan, nihil (0 %).

Dari pernyataan tersebut itu dapat dikatakan bahwa hampir seluruh siswa bersikap sopan santun terhadap guru, dan sedikit sekali yang menyatakan kadang-kadang tidak berlaku sopan.

Dengan demikian kesadaran siswa untuk berlaku sopan kepada guru sangat tinggi, hal ini merupakan sebagai bukti dari realisasi pendidikan aqidah akhlaq yang diajarkan dan diterimanya dari proses pembelajaran. Mereka menyadari apa yang mereka pelajari dari gurunya, tentang tata krama, budi pekerti, etika, moral yang pada dasarnya mengajarkan kebaikan itu tidak akan manfaatnya apabila tidak dipraktekkan, dan berbudi pekerti yang baik kepada guru dengan tata krama dan sopan sntun merupakan latihan awal sebelum mereka menghadapi kehidupan yang kompleks di masyarakat. Mereka menyadari bahwa  masyarakat itu mempunyai hukum yang tidak tertulis tetapi lebih pahit dari hukum tertulis.

Tabel 4.10

Akhlaq siswa dalam menjaga kehormatan guru

No. Indikator Frekuensi Prosentasi
1.

2.

3.

Selalu menjaganya

Kadang-kadang menjaganya

Tidak menjaganya

67

3

0

95,71 %

4,29 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 4.10 tersebut di atas, dinyatakan bahwa responden yang menjawab selalu menjaga kehormatan atau nama baik guru sebanyak 67 siswa (95,71 %). Dan responden yang menjawab kadang-kadang menjaga kehormatan sebanyak 3 siswa (4,29 %). Sedangkan responden yang menjawab tidak menjaga, nihil (0 %).

Dari pernyataan tersbut dapat dikatakan bahwa hampir seluruh siswa selalu menjaga kehormatan dan nama baik gurunya, dan sedikit sekali yang tidak peduli. Hal ini mengindikasikan bahwa rasa tanggungjawab siswa sudah tinggi untuk menjaga kehormatan gurunya, sebagai ekspresi tanda terimakasih mereka terhadap pahlawan tanpa tanda jasa ini. Mereka menyadari bahwa menjaga kehormatan dan kewibawaan guru merupakan tanggung jawab mereka, sebab guru merupakan orang yang paling berjasa kepada mereka, yang telah mengajar, mendidik, mendewasakan serta memanusiakan mereka. Suatu hal yang wajar apabila mereka membalas jasanya dengan kebaikan kembali, dengan berbagai hal yang dapat membahagiakan sang guru.

Tabel 4.11

Akhlaq siswa kepada guru apabila melakukan kesalahan

No. Indikator Frekuensi Prosentase
1.

2.

3.

Selalu memohon maaf

Kadang-kadang memohon maaf

Tidak memohon maaf

69

1

0

98,57 %

1,43 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 4.11 tersebut di atas dinyatakan bahwa responden yang menjawab selalu memohon maaf sebanyak 69 siswa (98,57 %). Dan responden yang menjawab kadang-kadang sebanyak 1 siswa (1,43 %). Sedangkan responden yang tidak memohon maaf, nihil (0 %).

Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa hampir seluruh siswa selalu memohon maaf apabila melakukan kesalahan kepada gurunya. Dan sedikit sekali siswa yang kadang-kadang atau tidak sama sekali memohon maaf apabila melakukan kekhilafan kepada gurunya. Hal ini menandakan bahwa para siswa sudah mempraktekkan akhlaq yang terpuji khususnya tentang membiasakan diri untuk saling maaf memaafkan. Sehingga terjalin serta terciptanya suasana yang tetap harmonis dan kondusif dalam pembelajaran. Keterus teranagn siswa merupakan modal awal dari sebuah kejujuran, apabila siswa selalu membiasakan berbuat jujur apabila melakukan kesalahan, ini merupakan modal awal kesuksesan, walaupun resikonya besar. Dan guru sangat menghargai arti sebuah kejujuran dari siswanya dalam berbagai hal.

Tabel 4.12

Akhlaq siswa apabila guru sakit atau tertimpa musibah

No. Indikator Frekuensi Prosentase
1.

2.

3.

Selalu menjenguknya

Kadang-kadang menjenguk

Tidak menjenguknya

50

16

4

71,43 %

22,86 %

5,71 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 4.12 tersebut di atas, dinyatakan bahwa responden yang menjawab selalu menjenguk sebanyak 50 siswa (71,43 %). Dan responden yang menjawab kadang-kadang menjenguk 16 siswa (22,86 %). Sedangkan responden yang menjawab tidak menjenguk sebanyak 4 siswa (5,71 %).

Dengan memperhatikan tabel tersebut, mengindikasikan bahwa perhatian siswa terhadap gurunya sangat besar, mereka sebagian besar selalu menjenguk, menengok, ta’ziah, membesuk apabila gurunya sakit atau terkena musibah, mereka mempunyai kepedulian yang besar terhadap keberadaan gurunya. Mereka menyadari bahwa guru merupakan orang tua di sekolah yang harus mereka hormati, hargai dan sayangi sebagai tanda terimakasih atas jasa mereka yang selalu dengan sabar, tulus ikhlas dalam membimbing mereka agar menjadi manusia berguna.

Demikian juga kegiatan ini merupakan sarana yang baik untuk memperat hubungan keterikatan antara guru dengan siswa, sebab dalam suasana tersebut biasanya sangat kekeluargaan dan sangat dekat sekali, apalagi kegiatan tersebut merupakan bentuk praktek langsung cara berbuat baik kepada orang yang berjasa.

[[

  1. Akhlaq Siswa terhadap sesama siswa (sesama teman)

[

Tabel 4.13

Adab kesopanan siswa terhadap sesama teman

No. Indikator Frekuensi Prosentase
1.

2.

.3.

Selalu berlaku sopan santun

Kadang-kadang berlaku sopan

Tidak berlaku sopan

50

20

0

71,43 %

28,57 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 4.13 tersebut di atas, dinyatakan bahwa responden yang menjawab selalu berlaku sopan dan ramah sebanyak 50 siswa (71,43 %). Dan responden yang menjawab kadang-kadang berlaku sopan 20 siswa (28,57 %). Sedangkan responden yang menjawab tidak sopan, nihil (0 %).

Dengan demikian, dalam pergaulan para siswa sudah terjalin hubungan yang saling menghargai dan saling menghormati dengan sesama temannya. Dengan membudayanya sifat dan sikap saling menghormati, saling menghargai dan saling menyayangi dengan mengedepankan kesopanan dan etika pergaulan yang Islami akan terbentuk lingkungan yang kondusif dalam proses pembelajaran. Dengan mengedapnkan azas kesamaan derajat dan status kiranya sikap saling menghormati ini perlu dikembangkan lagi terhadap para siswa, agar tidak muncul jiwa individualistis, hanya mementingkan diri sendiri dan menganggap rendah orang lain. Walaupun kadang-kadang masih nampak gejala kebiasaan remaja sebagai dampak dari pengaruh pergaulan di luar, tetapi dengan usaha yang terus-menerus, terarah dan bertanggungjawab, kebaiakan akan menang.

Tabel 4.14

Tradisi saling tolong menolong  antara sesama siswa

No. Indikator frekuensi Prosentase
1.

2.

3.

Selalu saling menolong

Kadang-kadang menolong

Tidak senang saling  menolong

59

11

0

84,28 %

15,72 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 4.14 tersebut di atas, dinyatakan bahwa responden yang menjawab selalu saling menolong sebanyak 59 siswa 84,28 %). Dan responden yang menjawab kadang-kadang sebanyak 11 siswa (15,72 %). Sedangkan responden yang menjawab tidak senang saling menolong, nihil (0 %).

Dengan memperhatikan tabel 4.14 tersbut, menggambarkan bahwa jiwa dan semangat saling membantu serta saling menolong di antara sesama siswa sudah menjadi tradisi, dan selalu harus dikembangkan, siswa sudah menyadari bahwa hidup itu harus saling membantu dan selalu membutuhkan kehadiran dan partisipasi orang lain. Jiwa saling tolong menolong yang dikembangkan artinya dalam hal yang positif, bimbingan yang diberikan kepada anak agar membudayakan selalu berbuat baik kepada sesama merupakan langkah yang baik, dan harus terus dikembangkan. Dengan didasari semangat kebersamaan, tidak ada yang susah dan sulit untuk dihadapi, hal itu ditanamkan sejak dini kepada para siswa, sehingga jiwa solider, saling merasakan, apa yang dirasakan oleh orang lain menjadi faktor pendorong untuk melakukan yang terbaik bagi orang lain, dan menfungsikan diri agar bermanfaat bagi orang lain.

Tabel 4.15

Perhatian siswa terhadap teman yang sakit atau terkena musibah

No. Indikator Frekuensi Prosentase
1.

2.

3.

Selalu menjenguknya

Kadang-kadang menjenguknya

Tidak menjenguknya

52

15

3

74,28 %

21,43 %

4,29 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 15 tersebut di atas, dinyatakan bahwa responden yang menjawab selalu menjenguk sebanyak 52 siswa (74,28 %). Dan responden yang menjawab kadang-kadang sebanyak 15 (21,43 %). Sedangkan responden yang menjawab tidak menjenguknya sebanyak 3 siswa (4,29 %).

Dengan demikian hampir sebagian besar siswa yang selalu menjenguk, menengok, solider dan bersikap empati selalu perhatian apabila temannya sakit atau tertimpa musiabah. Budaya besar kepedulian terhadap teman yang sakit atau terkena musibah ini merupakan pendidikan akhlaq yang patut dikembangan, agar terjalin hubungan yang akrab harmonis bukan saja antar sesama siswa tapi lebih luas untuk mengenal lebih dekat kondisi keluarga masing-masing.

  1. Akhlaq Siswa terhadap Lingkungan Sekolah

Tabel 4.16

Kepedulian Siswa terhadap kebersihan kelas

No. Indikator Frekuensi Prosentase
1.

2.

3.

Selalu membersihkan kelas

Kadang-kadang membersihkan

Tidak membersihkan kelas

66

4

0

94,29 %

5,71 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tebel 4.16 tersebut di atas, dinyatakan bahwa responden yang menjawab membersikan kelas setiap hari sebanyak 66 siswa (94,29 %). Dan responden yang menjawab membersihkan kadang-kadang sebanyak 4 siswa (5,71 %). Sedangkan responden yang menjawab tidak membersihkan kelas, nihil (0 %).

Dari pernyataan jawaban tersebut dapat dikatakan hampir seluruh responden menyatakan membersihkan kelas, sedikit sekali yang kadang-kadang dan bahkan tidak ada yang tidak mau membersihkan kelas.

Dari pernyataan tersebut kiranya dapat dikatakan bahwa kepedulian siswa terutama dalam menjaga kebersihan ruang kelasanya sudah tinggi, mereka menyadari bahwa kebersihan dan kesehatan kelas merupakan tanggungjawab mereka demi kelancaran dan keberhasilan belajara mereka sendiri. Kepedulian warga kelas terhadap ruangan dimana mereka belajar merupakan salah satu sumbangan berharga dalam pembinaan cinta terhadap almamaternya, cinta kepada lembaga yang mendidik dan membina kepribadian mereka .

Tabel 4.17

Kepedulian Siswa terhadap kebersihan, keindahan dan kerapihan halam sekolah

No. Indikator Frekuensi Prosentase
1.

2.

3.

Selalu membersihkan bersama

sama pada waktu tertentu

Kadang-kadang membersihkan

Tidak membersihkan

47

23

0

67,14 %

32,86 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 4.17 tersebut diatas, dinyatakan bahwa respondeny yang menjawab selalu membersihkan halaman sekolah sebanyak 47 siswa (67,14 %). Dan responden yang menjawab kadang-kadang membersihkan sebanyak 23 siswa (23,86 %). Sedangkan responden yang menjawab tidak memberssihkan, nihil ( %).

Dari pernyataan tersebut di atas dakatakan bahwa, sebagian besar siswa selalu membersihkan secara bersama-sama. Dan sebagian kecil yang kadang-kadang membersihkan dan bhkan yang tidak membersihkan nihil.

Hal ini menandakan bahwa hampir sebagian besar siswa mempunyai rasa tanggungjawab dan kesadaran yang tinggi untuk selalu menjaga dan memelihara kebersihan, keindahan dan kerapihan halaman sekolahnya.  Kegiatan kebersihan bersama membersihkan berbagai fasilitas sekolah biasanya dilakukan setiap satu minggu sekali dikerjakan dengan cara gotong royong. Dan seluruh siswa melakukan kegiatan ini dengan senang hati, sebagai bukti kepedulian mereka terhadap sekolahnya. Dan tentunya hal ini sangat mengembirakan.

Tabel 4.18

Kepedulian sisw dalam mempersiapkan peralatan pembelajaran di kelas

No. Indikator Frekuensi Prosentase
1.

2.

3.

Selalu mempersiapkannya

Kadang-kadang menyiapkannya

Tidak menyiapkannya

63

7

0

90,00 %

10,00 %

0 %

Jumlah 70 100 %

Dalam tabel 4.18 tersebut di atas, dinyatakan bahwa responden yang menjawab selalu mempersiapkan peralatan pembelajaran di kelas sebanyak 63 siswa (90,00 %). Dan responden yang menjawab kadang-kadang mempersiapkan sebanyak 7 siswa (10,00 %). Sedangkan responden yang tidak mempersiapkan, nihil (0 %).

Hal tersebut menandakan bahwa hampir seluruh siswa menyadari dan bertanggungjawab terhadap kelancaran kegiatan pembelajaran di kelas sehingga mereka selalu mempersiapkan segala keperluan peralatan yang dapat memperlancar berjalannya kegiatan pembelajaran di kelas tersebut. Kepedulian seluruh siswa dalam menunjang proses pembelajaran dengan berpartisipasinya dalam menyediakan alat bantu atau alat peraga kegiatan belajar mengajar merupakan awal yang baik dalam rangka terciptanya suasana dan lingkungan belajar yang kondusif, sehingga siswa dapat belajar dengan tenang, khusyu’, konsentrasi dan berhasil

D. Kontribusi Pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap Akhlaq siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah

Untuk  mengetahui Kontribusi Pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap Akhlaq Siswa  Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja Subang, penulis berusaha mencari data, informasi yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran siswa di Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja, baik melalui observasi langsung ke lokasi penelitian, studi data melalui studi dokumentasi, wawancara dengan berbagai pihak seperti dengan Kepala Madrasah, Guru bidang studi Pendidikan Aqidah Akhlaq, Guru Bimbingan Penyuluhan, Wali Kelas, Stap tata usaha, pengurus yayasan (Ketua Yayasan), juga dengan para siswa maupun bentuk kuisioner yang diberikan pada responden yang penulis anggap membantu dalam proses penulisan tesis ini.

Populasi siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja berjumlah 251 orang. Untuk mendukung penelitian ini, penulis mengambil sampel sebanyak 70 orang siswa, yang terdiri dari; 20 siswa dari kelas I, 20 siswa dari kelas II dan 30 siswa dari kelas III. Dengan mengambil dari ranking sepuluh besar dan sepuluh ranking terakhir.

Kembali kepada di antara tujuan awal penelitian ini adalah ingin mengetahui signifikasi seberapa besar Kontribusi Pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap perkembangan Akhlaq Siswa di Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif karena berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan, mengandalkan manusia sebagai alat penelitian, memanfaatkan metode kualitatif, mengadakan analisis data secara induktif, bersifat deskriptif, lebih mementingkan proses daripada hasil , membatasi studi dengan fokus dan hasil penelitiannya disepakati oleh kedua belah pihak dalam hal ini antara peneliti dan subjek penelitian. Dan juga karena diantaranya ditinjau dari aspek penelitinya yang terlibat langsung dalam proses penelitian serta menjadi objek, namun dalam pengolahan datanya penelitian ini masuk dalam jenis penelitian kuantitatif korelasional dengan mencarai hubungan sebab akibat (hubungan Kausalitas) antara dua variabel yang satu sama lain saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Kemudian dilihat signifikasinya terhadap variabel yang dipengaruhinya, ada atau tidaknya, besar atau kecilnya, kuat atau lemahnya.

Oleh karena itu, untuk kepentingan penelitian korelasional ini, perlu ditetapkan dua variabel utama ( variabel x dan variabel y) yang akan dicarikan korelasinya atau hubungannya.

Untuk menyelesaikan persoalan ini, peneliti menggunakan rumus penelitian kuantitatif dengan model penyelesaian “rumus product moment”. Rumus product moment dimaksud adalah segagai berikut:[141]

Keterangan:

r xy               :  Angka Indeks Korelasi “r” Product Moment

N               :  Banyaknya responden (number of cases)

ΣXY           :  Jumlah hasil perkalian antara skor x dan Skor y

ΣX             :  Jumlah seluruh skor X

ΣY             :  Jumlah seluruh skor Y

Berdasarkan penjelasan rumus korelasi product moment yang digunakan tersebut, maka dibutuhkan nilai atau sekor variabel X dan variabel Y. Kedua data skor masing-masing variabel, selanjutnya dicarai nilai korelasi dari masing-masing skor kedua variabel tersebut. Adapun langkah-langkah prosedural  yang digunakan untuk  mempermudah dan menjelaskan dari penggunaan rumus tersebut adalah dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut di bawah ini:

  1. Membuat Tabel Kerja atau Tabel Perhitungan yang terdiri dari:
    1. Kolom 1 : nomor nama responden
    2. Kolom 2 : skor variabel x dan variabel y
    3. Kolom 3 : skor varriabel y
    4. Kolom 4 : hasil perkalian antara skor variabel x dan skor variabel y, atau xy lalu dijumlahkan
    5. Kolom 5 : hasil penguadratan skor variabel x yaitu x² lalu dijumlahkan
    6. Kolom 6 : hasil penguadratan skor variabel y yaitu y² lalu dijumlahkan

2. Mencari angka korelasinya dengan rumus tadi di atas

3. Menarik kesimpulan penelitian dari pengkonsultasian  nilai

“r” hitung kepada nilai “r” tabel, yaitu dengan jalan mengin

terpretasikan nilai “r” hitung product moment, maka akan mendapat gambaran apakah variabel yang satu dengan yang lain termasuk ke dalam korelasi yang sangat rendah, terabaikan sehingga dianggap tidak ada korelasi, atau ada korelasi Cuma rendah, ada korelasi deng ukuran sedang atau cukup, atau terdapat korelasi yang kuat atau tinggi atau ada korelasi dengan sangat kuat dan sangat tinggi, supaya lebih jelasnya perhatikan dengan berpedoman kepada tabel sebagai berikut.

Tabel 4.19

Angka Indeks Korelasi “r” Product Moment

Besarnya “r”

Product Moment

(ƒxy)

Interpretasi
0,00 – 0,20

0,20 – 0,40

0,40 – 0,70

0,70 – 0,90

0,90 – 1,00

Antara  Variabel x dan Variabel y memang terdapat korelasi, akan tetapi korelasi itu:

Sangat lemah atau sanga rendah sehingga korelasi ini diabaikan (dianggap tidak ada korelasi antara variabel x dan variabel y)

Antara variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang lemah

Antara variabel x dan variabel y terdapat terdapat korelasi yang sedang atau cukup

Antara variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang kaut atau tinggi.

Antara variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang sangat kuat atau sangat tinggi.

Selanjutnya yang dilakukan penulis adalah menentukan skor variabel x dan skor variabel y, untuk memperoleh skor kedua variabel tersebut, penulis mendapatkannya dari nilai yang didapat responden dari nilai prestasi belajar siswa dan nilai terhadap akhlaq (sikap) siswa dalam bidang studi pendidikan aqidah akhlaq, dengan uraian sebagai berikut:

Tabel 4.20

PRESTASI BELAJAR DAN AKHLAQ (SIKAP) SISWA

No. Prestasi Belajar Siswa Akhlaq (Sikap) Siswa
1. 7 7
2. 7 8
3. 8 8
4. 8 8
5. 6 7
6. 7 7
7. 7 8
8. 6 6
9. 8 8
10. 7 7
11. 7 8
12. 6 7
13. 7 7
14. 7 8
15. 8 8
16. 6 6
17. 8 8
18. 7 7
19. 8 8
20. 6 7
21. 7 8
22. 6 7
23. 8 8
24. 6 6
25. 7 7
26. 8 8
27. 8 8
28. 6 7
29. 7 8
30. 7 7
31. 6 6
32. 7 7
33. 7 7
34. 8 8
35. 6 7
36. 8 8
37. 7 7
38. 7 7
39. 6 6
40. 7 8
41. 7 7
42. 8 8
43. 6 6
44. 8 8
45. 7 7
46. 7 8
47. 6 7
48. 7 7
49. 8 8
50. 6 6
51. 7 7
52. 7 8
53. 6 7
54. 8 8
55. 7 7
56. 6 6
57. 7 7
58. 8 8
59. 6 7
60. 7 8
61. 8 8
62. 6 6
63. 7 7
64. 8 8
65. 6 7
66. 7 7
67. 8 8
68. 6 6
69. 7 7
70. 8 8

Berdasarkan rumus korelasi product moment yang digunakan, maka dibutuhkan nilai atau skor dari variabel x dan variabel y, dari uraian  data yang terdapat dalam tabel 4.20 tersebut di atas tentang skor prestasi belajar siswa yang dijadikan acuan sebagai skor dari variabel x dan skor akhlaq (sikap) siswa, yang kemudian dijadikan acuan sebagai skor variabel y. Kemudian skor variabel x dan variabel y diolah lagi untuk memperoleh sebuah kesimpulan apakah ada korelasinya, apakah korelasi itu lemah, sedang, kuat (tinggi) atau kuat sekali (sangat tinggi ) hal ini dapat diperhatikan dengan uraian sebagaimana yang terdapat dalam tabel 4.21 di bawah ini:

No. X Y XY X² Y²
1. 7 7 49 49 49
2. 7 8 56 56 64
3. 8 8 64 64 64
4. 8 8 64 64 64
5. 6 7 42 36 49
6. 7 7 49 49 49
7. 7 8 56 49 64
8. 6 6 36 36 36
9. 8 8 64 64 64
10. 7 7 49 49 49
11. 7 8 56 49 64
12. 6 7 42 36 49
13 7 7 49 49 49
14. 7 8 56 49 64
15. 8 8 64 64 64
16. 6 6 36 36 36
17. 8 8 64 64 64
18 7 7 49 49 49
19. 8 8 64 64 64
20. 6 7 42 36 49
21. 7 8 56 49 64
22. 6 7 42 36 49
23. 8 8 64 64 64
24. 6 6 36 36 36
25. 7 7 49 49 49
26. 8 8 64 64 64
27. 8 8 64 64 64
28. 6 7 42 36 49
29. 7 8 56 49 64
30. 7 7 49 49 49
31. 6 6 36 36 36
32. 7 7 49 49 49
33. 7 7 49 49 49
34. 8 8 64 64 64
35. 6 7 42 36 49
36. 8 8 64 64 64
37. 7 7 49 49 49
38. 7 7 49 49 49
39. 6 6 36 36 36
40. 7 8 56 40 64
41. 7 7 49 49 49
42. 8 8 64 64 64
43. 6 6 36 36 36
44. 8 8 64 64 63
45. 7 7 49 49 49
46. 7 8 56 49 64
47. 6 7 42 36 49
48. 7 7 49 49 49
49. 8 8 64 64 64
50. 6 6 36 36 36
51. 7 7 49 49 49
52. 7 8 56 49 64
53. 6 7 42 36 49
54. 8 8 64 64 64
55. 7 7 49 49 49
56. 6 6 36 36 36
57. 7 7 49 49 49
58. 8 8 64 64 64
59. 6 7 42 36 49
60. 7 8 56 49 64
61. 8 8 64 64 64
62. 6 6 36 36 36
63. 7 7 49 49 49
64. 8 8 64 64 64
65. 6 7 42 36 49
66. 7 7 49 49 49
67. 8 8 64 64 64
68. 6 6 36 36 36
69. 7 7 49 49 49
70. 8 8 64 64 64
70=N 517=ΣX 533=ΣY 3947=ΣXY 3850=ΣX² 4060=ΣY²

Adapun perolehan data berdasarkan tabel 4.21 tersebut di atas, kemudian dimasukkan ke dalam rumus “Product Moment” sebagai berikut:

rxy  =  NΣXY – (ΣX)(ΣY) _______

√ {NΣX² – (ΣX)² }{NΣY² – (NΣY)²}

Sementara itu berdasarkan tabel 4.21 diketahui bahwa nilai atau skor dari masing-masing variabel tersebut adalah sebagai berikut:

N     :    70

X     :    517

Y     :    533

XY   :    3947

X²    :    3850

Y²     :    4060

Kemudian variabel-variabel yang terdapat dalam rumus “Product Moment” tersebut keseluruhannya dimasukan ke dalam skor atau angka-angka yang sudah ada dan sudah dihitung masing-masing menjadi:

rxy      =       70 X 3947  –  517 X 533

√ ( 70 X 3850 – 517² ) ( 70 X 4060 – 533² )

276290 – 27556

=   √ (269500 – 268324 )

6       5      9

=       √ 729 X 1176

=         6   5   9

√ 857304

=       0768

=       0,768 atau 0,77 (dalam dua desimal)

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus       “Product Moment” tersebut, diperoleh nilai koefisien korelasi antara variabel X dengan variabel Y sebesar 0,77. Maka berdasarakan perhitungan ini  dapat dikatakan bahwa hubungan Pendidikan Aqidah Akhlaq dengan Akhlaq (sikap, tingkah laku) Siswa terdapat hubungan kausalitas (ada hubungan sebab akibat) dengan tingkat hubungan yang sedang atau cukup baik.

Sebab apabila angka ini dikorelasikan dengan tabel 4.19 yang menjelaskan Angka Indeks Korelasi “r” terletak di antara rentang nilai  0,40 – 0,70. Artinya  adalah bahwa antara variabel “x” dan variabel “y” terdapat korelasi yang sedang (cukup). Dengan demikian, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa antara variabel “x” dengan variaebl “y” memang terdapat korelasi dengan interpretasi yang sedang (cukup).

Berdasarkan hasil perhitungan dan pengujian serta pengamatan terhadap hipotesis-hipotesis yang diajukan dalam proses penelitian, maka diperoleh kejelasan-kejelasan sebagai berikut:

  1. Terdapat  Kontribusi yang cukup signifikan dari mata pelajaran Pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap Akhlaq dan tingkah laku Siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah terutama dalam memberikan landasan yang kuat, acuan yang kokoh, arahan yang sistimatis serta pembinaan yang komprehenshif dalam rangka membentuk akhlaq dan kepribadian siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah yang berbudi pekerti yang luhur. Hal ini bisa dilihat dan dirasakan dari akhlaq dan prilaku mereka, yang selalu mereka tampilkan baik ketika berada di lingkungan sekolah, di tengah-tengah keluarga maupun ketika mereka terjun ke dalam kehidupan masyarkat, mereka bisa diterima dan beradaptasi dengan lingkungannya. Dan keradaannya selalu didambakan oleh orang banyak.
  2. Demikian juga signifikasi kontribusi Pendidikan Aqidah Akhlaq berdampak besar terhadap akhlaq dan sikap serta tingkah laku yang mereka tampilkna, hal ini di dapat dari hasil angket yang disebarkan kepada responden, yang meliputi akhlaq (sikap) siswa kepada mata pelajaran pendidikan Aqidah Akhlaq itu sendiri, sikap kepada guru, kepada teman sesama siswa, kepada lingkungan yang kesemuanya merupakan gambaran nyata dari akhlaq dan sikap siswa tersebut.
  3. Di luar jangkauan hubungan sebab akibat, secara personal masih ada sebagian kecil siswa yang belajar pendidikan aqidah akhlaq tetapi dampaknya belum bisa direalisasikan dan dirasakan oleh diri sendiri, keluarga dan masyarakat dalam bentuk akhlaq terpuji, proses pembinaan tetap dilakukan secara berkala dan terencana dan tentunya melalui kerja sama dengan berbagai pihak.
  4. Terdapat beberapa faktor pendukung dalam rangka proses pembelajaran Pendidkan Aqidah Akhlaq di Madrasah Aliyah Al-Ishlah yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pembentukan kepribadian siswa yang berakhlaq terpuji, adanya kesepahaman dan kebersamaan berbagai pihak, baik pihak sekolah, pihak yayasan terutama sesepuh pondok pesantren Al-Ishlah yang kharismatik Bapak KH. Ushfuri Anshor, orang tua dilingkungan keluarga dan tokoh masyarakat, serta didukung berbagai fasilitas yang walaupun sangat sederhana, tetapi kesemuanya itu mempunyai kontribusi yang besar dalam membentuk kepribadian siswa yang berakhlaq mulia. Dengan harapan yang besar, siswa sebagai generasi muda harapan masa depan yang mempelajari Pendidikan Aqidah Akhlaq akan mengetahui, mengerti, memahami sekaligus merealisasikan Aqidah dan Akhlaq yang Islami, sehingga masa depan dunia ini akan berada ditangan manusia-manusia yang agung akhlaqnya. Langgengnya suatu bangsa sangat tergantung kepada akhlaqnya, maka apabila akhlqanya rusak, maka hancurlah bangsa itu. Sejarah membuktikan hampir sebagian besar bangsa zaman dulu hancur lenyap di muka bumi ini adalah karena rusak akhlaqnya. Demikian hal nya dengan Madrasah Aliyah Al-Ishlah, walaupun ada kesan sebagai lembaga yang berfungsi sebagai bengkel akhlaq, karena ada di antara siswanya yang disekolah lain sudah tidak sanggup lagi memberikan pembinaan kemudian dimasukan ke Madrasah Aliyah Al Ishlah, semata-mata menyelamatkan umat, dengan kesabaran dibarengi dengan berusaha perlahan namun pasti kesan itu dijawab dengan usaha nyata, terbukti dengan banyaknya orang tua yang menitipkan anaknya untuk dididik dan dibina di Madrasah Aliyah ini

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Berdasarkan keseluruhan pembahasan dan analisis terhadap hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran Pendidikan Aqidah Akhlaq di Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja Kabupaten Subang berjalan dengan baik dalam suasana yang kondusif, hal ini dikarenakan terdapat beberapa faktor pendukung diantaranya, lokasinya sangat strategis karena berada di lingkungan pondok pesantren yang jauh dari keramaian hal ini sangat baik untuk kegiatan belajar. Dilengkapi oleh sarana dan prasarana walaupun masih sangat sederhana, didukung buku-buku penunjang dan peralatan belajar serta fasilitas lain yang kesemuanya bisa dijadikan sebagai sarana pendukung untuk memperlancar kegiatan pembelajaran siswa dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan.
  2. Kondisi Akhlaq siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja kabupaten Subang secara umum cukup baik, hal ini bisa disaksikan secara langsung ketika siswa tersebut berkomunikasi dan bergaul, baik dengan sesama siswa, guru, pengurus yayasan, staf tata usaha atau yang lainnya. Namun diakui, karena masih banyak kendala yang dihadapi baik secara intern (dari dalam) seperti dari dalam diri siswa itu sendiri yang mendapatkan kesulitan dalam merealisasikan apa yang mereka pelajari dari materi pelajaran Aqidah Akhlaq  karena latar belakangnya dari sekolah umum, minat belajar yang kurang, kekurangan buku penunjang, sarana yang kurang memadai, ataupun faktor ekstern (dari luar), lingkungan pergaulan yang tidak kondusif, atau dampak negatif dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan adanya media elektronik, media komunikasi, dan transfortasi yang tidak terkendali belum lagi dampak dari arus globalisasi yang sedang melanda dunia. Untuk mengantisipasi kendala tersebut diperlukan kerja sama yang solid dan konkrit antara guru disekolah, orang tua di rumah serta tokoh masyarakat dan tokoh agama di masyarakat untuk menyamakan persepsi dalam rangka pembinaan kepribadian siswa agar berbudi pekerti yang luhur, yang tangguh dan kokoh aqidahnya dan mulia akhlaqnya, terbentuknya pribadi siswa yang berilmu amaliyah dan beramal ilmiah, artinya siswa yang belajar mendapatkan ilmu dan mengamalkannya serta amalnya itu bisa dipertanggungjawabkan secara moral kepada Allah SWT. dan secara sosial kepada masyarakat dimana dia berkarya.
  3. Berdasarkan temuan di lapangan sebagai hasil observasi, dan juga hasil perhitungan statistik didapatkan bahwa terdapat korelasi yang cukup signifikan dari Pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap Akhlaq (sikap, tingkah laku, etika kebiasaan) siswa di Madrasah Aliya Al-Ishlah Jatireja Subang. Hal ini dapat dilihat dengan jelas baik ketika siswa berada di lingkungan sekolah, di keluarga ataupun ketika mereka terjun dalam kehidupan masyarakat yang kompleks. Kehadiran mereka walupun belum optimal tetapi memberikan kontribusi yang penting dalam masyarakat. Bahkan kehadiran siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah terasa sekali ketika di masyarakat ada kegiatan keagamaan, banyak di antara siswa yang mendapat tugas mengisi pos acara tertentu, dan mereka memang berhasil dengan baik. Secara sederhana memang eksistensi mereka diakui oleh masyarakat.

B. Rekomendasi

Permasalahan utama yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah mengenai signifikasi  Kontribusi Pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap Akhlaq Siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah Jatireja Subang, sehingga dari pendeskripsian ini akan kelihatan apakah mata pelajaran atau bidang studi Pendidikan Aqidah Akhlaq itu akan memberikan nilai manfaat baik kepada siswa yang belajar, madrasah sebagai tempat belajar, keluarga yang mendambakan kehadiran anak yang sholeh dan masyarakat tempat mengabdi. Atau justru keberadaan bidang studi ini hanya namanya saja yang walaupun dipelajarai tetapi tidak memberikan nilai manfaat yang berarti bagi kesemuanya.

Adapun hasil yang dicapai dalam penelitian ini hanya sebatas menemukan gambaran-gambaran yang dinilai cukup representatif mengenai suatu Kontribusi dari Pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap Akhlaq  Siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah yang realisasinya akan dirasakan oleh masyarakat banyak.

Adapun sebagai akhir dari hasil penelitian ini, maka penulis mencoba untuk memberikan beberapa rekomendasi, sebagai berikut:

  1. Dalam penelitian lapangan, peneliti harus memilki kemampuan, kecermatan dan ketepatan dalam mengambil langkah-langkah terpadu guna mempermudah dalam menganalisis suatu permasalahan.
  2. Kontribusi Pendidikan Aqidah Akhlaq terhadap Akhlaq Siswa Madrasah Aliyah Al-Ishlah akan lebih efektif dan efisien serta mempunyai nilai manfaat yang tinggi apabila dalam prosesnya terjalin kerjasama yang harmonis antara tiga pranata sosial yaitu, pihak sekolah, keluarga dan masyarakat.
  3. Siswa sebagai peserta didik harus mempunyai minat dan motivasi yang tinggi untuk mengikuti dengan seksama, mengerti, memahami dan mendalami serta mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang terkandung dalam Pendidikan Aqidah Akhlaq, agar menjadi muslim yang berbudi pekerti  luhur.
  4. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi Madrasah Aliyah Al-Ishlah untuk menentukan langkah-langkah strategis ke depan dalam perbaikan proses pembelajaran agar lebih baik dan efektif.
  5. Penelitian ini juga, diharapkan mampu memberikan solusi dalam upaya membantu pemerintah dalam hal ini Departemen Agama sebagai lembaga yang menaungi Madrasah Aliyah dalam mengoptimalkan peranannya, terutama dalam mengembangkan kepribadian siswa agar berakhlaq mulia dalam rangka ikut serta membangun bangsa khususnya dalam bidang pendidikan agama.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Qasem, Muhammad. 1988. Ethika al-Ghazali. (terj.)

Mahyudin. Bandung: Pustaka.

Al-Abrasy, Atthiyah. 1993. Dasar-dasar Pelaksanaan Pendidikan Islam. (terj.) Bustami A. Ghani. Jakarta: Bulan Bintang.

Al-Alim, Mustofa. 1982. Aqidah Islam Ibnu Taimiyah. (terj.) Muslih Shabir. Bandung: Ma’arif.

Al-Bana, Hasan. t.t. Majmu’ ar-Rasaail. Beirut: Muassar Risalah

Al-Ghulayani, Syaikh Musthopa. 1949. Izhat Nasyi’in. Beirut: Maktabah Al-Haliyah.

Al-Ghazali, t.t. Ihya ‘Ulum al-Din. Beirut: Daar al-Fikr.

Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir. 1978. Aqidah al-Mu’min. Cairo: Maktabah al-Kuliyah.

Al-Nahlawi, Abdurrahman. 1998. Pendidikan Islam di Rumah, di Sekolah  dan Masyarakat. Jakarta : Gema Insan Press

Al Syaibany,Omar Mohammad Al Toumy. 1979. filsafat pendidikan Islam. Jakarta : Bulan Bintang

Amin, Ahmad. 1977. Ethika. (terj.) Farid Ma’ruf. Jakarta: Bulan

Bintang.

Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-Dasar Evalusai Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

——————–, 1993. Prosedur Suatu Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta,

Arifin, M. 1992. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung : Remaja Rosdakarya

Ash-Shabuny, Muhammad Ali. 1983. Pengantar Ilmu-ilmu Al-Qur’an. (terj.) Saeful Islam. Surabaya: Al-Ikhlas.

Ash-Shidiqi, Muhammad Hasbi. 1999. Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Ilmu Kalam. Semarang: Pustaka Rizki Putra.

Asrar, Mustaghfirah. 1992. Contoh-contoh Pembawa Acara, pidato dan do’a. Semarang : Aneka Ilmu

As-Syuyuthi, Jalaluddin. t.t. Al-Jami’ush Shagier. Cairo.

Azwar, Saefuddin. 1998. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Baraja, Umar. 1992. Bimbingan Akhlaq. Jakarta : YPI Umar Baraja.

Darajat, Zakiah. 1979. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta : Bulan Bintang

——————-. 1982. Pendidikan Agama Dalam Pembinaan Mental. Jakarta, Bulan Bintang.

Depag RI. 1978. Al Quar’an dan Terjemahnya. Jakarta : Yayasan Penyelenggara Penterjemahan Al Qur’an

——————–,   2005. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Madrasah Aliyah. Jakarta: DIRJEN Kelembagaan Islam.

———————,      1999. Manajemen Madrasah. Jakarta: BINBAGA Islam.

Dimyati, Sholeh. 2006. Tinjauan Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan tentang Manusia. Jakarta: Inti Media.

Faisal, Sanapiah. 1990. Penelitian Kualitatif, Dasar-dasar dan Aplikasinya. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh.

Hadi, Sutrino. 1989. Metodologi Research. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM.

Imam Bukhori. t.t. Shahih Bukhori. Beirut: Daar al-Fikr.

Imam Muslim. t.t. Shahih Muslim. Beirut; Daar al Fikr.

Isngadi. 1984. Islamologi Populer. Surabaya: Bina Ilmu.

Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Masa sebuah analisis Media Televisi. Jakarta : Rineka Cipta

Ma’arif, Syafi’i M. 1989. Membumikan Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Majid, Abdul. 2005.Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: Rosdakarya.

Makarim, M. 1992. Perkelahian Remaja. Bandung : Remaja Rosdakarya

Marimba, Ahmad D. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung : al Ma’arif.

Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Muhaimin. 1993. Pemikiran Pendidikan Kajian filsafat dan Kerangka Dasar Operasionalnya. Bandung: Trigenda Karya

Munawwir, A.W. 1994. Kamus Al-Munawwir. Yogyakarta: Pustaka Progreshif.

Musthafa Azami, Muhammad. 1992. Metodologi Kritik Hadits. Jakarta: Pustaka Hidayah.

Nata, Abuddin. 2006. Akhlaq Tasawuf. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Naser, Sayyed Hosen. 1990. Tasawuf dari dulu dan sekarang. Bandung : Mizan

Nasution, Harun. 1982. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Press.

Nasution, S. 1995. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Naufal, Abdurrazak. 1987. Al-Qur’an dan Sain Modern. (terj.) Heri Nur Ali. Bandung: Husaini.

Nawawi, Hadari. 1995. Metode Penelitian Bidang Sosial.Yogyakarta: Gajah Mada Universuty Press.

Priatna, Tedy. 2004. Re-aktualisasi Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Poerwadarminta, W.J.S. 1985. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Rahman, Fazlur. 1983. Tema Pokok Al-Qur’an. (terj.) Anas Mahyudin. Bandung: Pustaka.

Rama Yulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Rifa’i, A. Bachrun. 2005. Manajemen Mesjid Optimalisasi Fungsi Sosial Ekonomi Mesjid. Bandung: Benang Merah Press.

Rifa’I, Muhammad. 1990. Ushul Fiqh.Bandung: Ma’arif.

Shihab, Quraisy M. 1992. Membumikan Al Qur’an. Bandung: Mizan.

Solihin, M. 2005. Akhlaq Tasawuf Ethika dan Ma’na Hidup. Bandung: Nuansa.

Soetari, Endang. 2005. Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Diroyah. Bandung: Mimbar Pustaka

Subaiti, Musa. 2000. Akhlak Keluarga Muhammad, (terj.) Afif Muhammad. Jakarta : Lentera.

Sudijono, Anas. 2003. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Suryadi, Ace. 1994. Analisis Kebijakan Pendidikan sebuah Pengantar. Bandung: Rosdakarya.

Suryadi, Jhon. 1983. Kamus Lengkap Populer Inggris-Indonesia. Surabaya: CV. Indah.

Supriatman, Maman, dkk. 1997. Metode Penelitian Bidang Pendidikan. Cirebon: Pusat penelitian dan Pengembangan Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN SGD.

Surakhmad, Winarno. 1998. Pengantar Penelitian Ilmiah:Dasar-dasar, Metode dan Tehnik. Bandung: Tarsito.

Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Rosda karya.

Tafsir, Ahmad. 1990. Metode Khusus pendidikan Agama Islam. Bandung: Rosda karya.

——————–.  2005. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Rosdakarya.

——————–. 2006. Filsafat Islam Intregarasi Jasmani, Rohani dan Kalbu Memanusiakan Manusia. Bandung: Rosda karya.

Ya’qub, Hamzah. 1996. Ethika Islam. Bandung: Diponegoro.

Yusuf LN., Syamsu. 2005. Psikologi Belajar Agama Perspektif Agama Islam. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

——————–. 2003. Metodologi Penelitian. Bandung : UPI.

Zahrah, Abu. 1994. Ushul Fiqh. Jakarta: Pustaka Firdaus.



[1] Redaksi Sinar Grafika, UU Sisdiknas 2003, (Jakarta : Sinar Grafika), hlm. 7

[2] Marimba A D, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : Al-Maarif,

1989), hlm. 19

[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu

Memanusiakan  Manusia, (Bandung : Rosdakarya, 2006), hlm. 32

[4] Rama Yulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalama Mulia, 2002), hlm. 14

[5] Umar Baradja, Bimbingan Akhlak, (Jakarta : YPI Al-Ustadz Umar Baradja, 1992), hlm. 7

[6] Syaikh Mustofa Al-Ghulayani, ‘Izhat al-Nasyi’in, (Bairut : Maktabah Al-Ahliyah, 1949), hlm. 7

[7] Umar Baradja, loc.cit.

[8] M Solihin, dkk., Akhlaq Tasawuf, Manusia, Etika dan Makna Hidup,(Bandung :

Nuansa, 2005), hlm. 16

[9] Hamzah Ya’qub, Etika Islam, Pembinaan Akhlaqul Karimah suatu Pengantar

(Bandung :  Diponegoro, 1996), hlm. 31

[10] Sayyeed Hosen Naser, Tasawuf dari Dulu dan Sekarang, (Bandung  : Mizan,

1990), hlm. 39

[11] Wawan Kuswandi, Komunikasi Masa, Sebuah Analisis Media Televisi,

(Jakarta : Rineka Cipta, 1996), hlm. 7

[12] N Makarim, Perkelahian Remaja, (Bandung : Rosdakarya, 1992), hlm. 15

[13] M  Arifin, Kapita Selecta Pendidikan Islam, (Bandung : Rosda Karya, 1992),

hlm. 50

[14] Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta : Yayasan Penyelenggara

Penterjemah Al-Qur’an , 1978), hlm. 94

[15] Musa Subaiti, Akhlaq Keluarga Muhammad, Penerjemah, Afif Muhammad,

(Jakarta : Lentera,  2000) hlm. 25

[16] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibani, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta :

Bulan Bintang,   1979) hlm. 312

[17] Depag RI, op. cit. hlm. 444

[18]Mustaghfir Asror, Contoh-contoh PembawaAcara Pidato, (Semarang : Aneka Ilmu, 1992), hlm. 120

[19]Abdurrahman Al-Nahlawy, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta : Gema Insan Pers. 1998), hlm. 18

[20]Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta : Bulan Bintang, 1979), hlm. 48

[21] Depag RI, loc. cit.

[22] Depag RI, Petunjuk Teknis Mata Pelajaran Aqidah Akhlaq (Jakarta : Direktorat

Jendral Kelembagaan Islam, 1997), hlm.  21

[23] Lihat W J S  Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai

Pustaka, 1985),  hlm. 702

[24] Ace Suryadi dan H A R  Tilaar, Analisis Kebijakan Pendidikan sebuah

Pengantar, (Bandung :  Remaja Rosdakarya, 1994), hlm.v

[25] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu

Memanusiakan  Manusia, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 33

[26] Ahamd Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, (Bandung : Remaja

Rosdakarya, 2005),hlm. 28

[27] S Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), hlm. 10

[28] A Bachrun Rifa’i, Manajemen Mesjid Optimalisasi Fungsi Sosial  Ekonomi

Mesjid, (Bandung : Benang Merah Press, 2005), hlm. 59

[29] Tedi Priatna, Reaktualisasi Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung : Pustaka

Bani Quraisy,2004), hlm. 26

[30] A W Munawwir, Kamus Al Munawwir, (Yogyakarta : Pustaka Progresif. 1994),

hlm. 1024

[31] Isngadi, Islamologi Populer, (Surabaya : PT Bina Ilmu. 1984), cet. ke-3, hlm.99

[32] Mustafa Al-Alim, alih bahasa Mushlih Shabir, Aqidah Islam Ibnu Taimiyah

(Bandung : PT Al  Ma’arif. 1982) cet. ke-1, hlm. 6

[33] Hasan Al-Bana, Majmu’ah ar-Rasail (Beirut : Muassahar-Risalah, t.th)hlm.465

[34] Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Aqidah al-Mukmin (Cairo : Maktabah al-Kulliyah

al-Azhariyyah, 1978), cet. ke-2, hlm.21

[35] Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqie,Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam,

(Semarang : Pustaka Rizki Putra,1999), hlm. 37

[36] Abuddin Nata, Akhlaq Tasawuf, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006),

hlm. 1

[37] Depag RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta : Yayasan Penyelenggara

Penerjemah Al  Qur’an, 1990), hlm. 960

[38] Abuddin Nata, op. cit. hlm. 3

[39] Al Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, (Beirut : Dar al-Fikr, t.t), hlm. 56

[40] Ahmad Amin, Etika, Alih Bahasa; Farid Ma’ruf, (Jakarta : Bulan Bintang,

1977), hlm. 15

[41] Abuddin Nata, op. cit. hlm. 5-6

[42] Departemen Agama RI, Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Madrasah

Aliyah, (Jakarta : Direktorat Jendral Kelembagaan Islam, 2005), hlm.21-22

[43] Ibid., hlm.. 22

[44] Tedi Priatna, op. cit. hlm. 31

[45] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta : Yayasan

Penyelenggara Penerjemah Al-Quran,1971), hlm. 15

[46] Fazlur Rahman, alih bahasa Anas Mahyuddin, Tema Pokok Al Qur’an

(Bandung : Pustaka, 1983), hlm. 1

[47] M Qurash Shihab, Wawasan Al Qur’an (Bandung : Mizan Media Utama,

2000), hlm. 3

[48] Muhammad Ali Ash-Shabuni, alih bahasa Saiful Islam, Pengantar Ilmu-ilmu Al

Qur’an, (Surabaya : Al Ikhlas, 1983), hlm. 17

[49] Mohammad Rifa’i, Ushul Fiqh, (Bandung : Al Ma’arif, 1990), cet. ke-5, hlm. 96

[50] Abdur Razak Naufal, alih bahasa Heri Nur Ali, Al-Qur’an dan Sains Modern,

(Bandung :  Husaini, 1987), hlm. 17

[51] M Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an Fungsi dan Peran  Wahyu dalam

Kehidupan   Masyarakat, (Bandung : Mizan, 1994), hlm. 33

[52] Lihat Muhammad Rifa’i, op. cit. hlm. 97

[53] Endang Soetari AD, Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Dirayah, (Bandung :

Mimbar Pustaka, 2005), hlm. 1

[54] Muhammad Mustafa Azami, alih bahasa A. Yamin, Metodologi Kritik Hadits,

(Jakarta : Pustaka Hidayah, 1992), 17

[55] Endang Soetari AD, op. cit. hlm. 4

[56] Muhammad Mustafa Azmi, op. cit. hlm. 19

[57] Ibid., hlm.. 21

[58] Abu Zahrah, Ushul Fiqh, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1994), cet. ke 1, hlm. 154

[59] Tedi Priatna, op.cit., hlm. 33.

[60] Jalaluddin Al-Suyuti, Al-Jami’Al- Shaghir, (Mesir, tt.) hlm. 130

[61] Departemen Agama RI, Al Qura’an dan Terjemahnya, (Surabaya: Jaya Setia,

1989), hlm.132

[62] Hamzah Ya’kub, Ethika Islam, Pembinaan Akhlaq Kaimah suatu Pengantar,

(Bandung :  Diponegoro, 1996), hlm. 51

[63] Jalaluddin Al-Suyuthi, op. cit., hlm. 48

[64] Depag RI, op. cit., hlm. 496

[65] M Quraish Shihab, op. cit. hlm. 246

[66] Ibid., hlm.. 248-249

[67] Sholeh Dimyati, Tinjauan Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan tentang Manusia

(Jakarta : Inti Media, 2006), hlm. 26-27

[68] Syamsu Yusuf, Psikologi Belajar Agama Perpsfektif Agama Islam, (Bandung:

Pustaka Bani  Quraisy, 2005), hlm. 29

[69] Ibid., hlm. 21-22

[70] Hamzah Ya’kub, op. cit. hlm.53

[71] Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany, op. cit. hlm. 346

[72] Abuddin Nata, op. cit., hlm. 102

[73] Ibid., hlm. 103

[74] Departemen Agama RI, op. cit. hlm. 66

[75] Ibid.,  hlm. 862

[76] Al-Bukhari, Shahih Bukhari, (Beirut : Daar Al-Fikr, t.t), hlm. 12

[77] Syamsu Yusup, op. cit. hlm.72

[78] Departemen Agama RI, op. cit. hlm. 1084

[79] Ibid., hlm.. 97

[80] Bukhari, op. cit. hlm. 12

[81] Muslim, Shahih Muslim, (Beirut : Daar al Fikr,  t.t) hlm. 131

[82] Depag RI, op. cit., hlm. 427

[83] Ibid.,  hlm.  654

[84] Ibid., hlm. 123

[85] Jalaluddin Al-Suyuti, op. cit. hlm. 654

[86] Bukhari, op. cit. hlm. 54

[87] Ibi., hlm. 54

[88] Bukhari, op. cit. hlm.. 55

[89] Depag RI, op. cit.  hlm. 157

[90] Ibid., hlm. 1071

[91] Ibid., hlm. 1108

[92] Ibid., hlm. 336

[93] Bukhari, op. cit.  hlm. 53

[94] Depag RI. op. cit.  hlm. 230

[95] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Saibany, op. cit. hlm. 312

[96] Ibid., hlm. 346

[97] Ahmad Amin,  op. cit. hlm. 18

[98] Hamzah Ya’qub, op. cit. hlm. 24

[99] Abuddin Nata, op. cit. hlm.174-175

[100] Syamsu Yusuf, op. cit. hlm. 31

[101]Muhammad Abdul Quasem, ethika Al-Ghazali, terj. J  Mahyuddin, (Bandung :

Pustaka, 1988), hlm. 42

[102] Hamzah Ya’qub, op. cit. hlm. 57.

[103] Ahmad Amin,op cit. hlm. 31.

[104] Zakiah Daradjat, ilmu pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 2002),

hlm. 17

[105]M  Sholihin, dkk., op. cit. hlm.100

[106] Ramayulis, op. cit. hlm. 281.

[107] Depag RI, op. cit. hlm.. 370.

[108] Ahmad Amin, op. cit. hlm. 29.

[109] Ibid. hlm.. 33

[110] Hamzah Ya’qub, op. cit. hlm. 63-64.

[111] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, op. cit. hlm. 138

[112] Abuddin Nata, op. cit., hlm. 167

[113] Ibid., hlm. 53

[114] Syamsu Yusuf, op. cit., hlm. 34-35

[115] Jhon Suryadi, dkk., Kamus Lengkap Populer Inggris-Indonesia, (Surabaya : CV

Indah, 1983), hlm. 72.

[116] Ibid., hlm. .66-67.

[117] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar Metode dan Tehnik,

(Bandung : Tarsito, 2004), hlm. 131

[118] Lexy J Moloeng, Metodologi Penelitian kualitatif (Bandung : Remaja

Rosdakarya, 2000) cet.  ke-13 hlm.27

[119] Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial ( Yogyakarta : Gajah Mada

University Press,  1995) cet. ke-7, hlm. 63

[120] Winarno Surakhmad, op. cit. hlm. 139.

[121] Saefuddin Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1998) cet.

ke-1 hlm. 36

[122] Sanapiah Faisal, Penelitian Kualitatif, Dasar-dasar dan Aplikasinya (Malang : Yayasan Asih Asah Asuh, 1990) cet. ke-1 hlm. 57

[123] Saefuddin Azwar, loc.cit.

[124] Syamsu Yusuf, Metode Penelitian (Bandung : UPI, 2003) hlm.14

[125] Ibid., hlm.12

[126] Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogyakarta : Yayasan Penerbit Fakultas

Psikologi UGM,   1984) hlm.136

[127] Suharsimi Arikunto, loc. cit. hlm. 202

[128] Syamsu Yusuf, op. cit. hlm. 15

[129] Lexy J Moleong, op.cit. hlm.103

[130] Maman Supriatman, dkk., Metode Penelitian Bidang Pendidikan (Cirebon :

Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah

IAIN SGD, 1997) hlm. 69

[131] Atthiyah Al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam,terj. Bustami

A Ghani (Jakarta : Bulan Bintang, 1993), hlm. 135

[132] Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan, Kajian filosofis dan

Kerangka Dasar Oprasionalnya, (Bandung : Trigenda Karya, 1993), hlm. 169

[133] Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi

Guru, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 92-93

[134] Departemen Agama RI, Manajemen Madrasah, (Jakarta : BINBAGA Islam,

1999), hlm. 27-28

[135] Ahmad Tafsir, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam, (Bandung :

Rosdakarya, 1990), hlm. 93

[136] Ramayulis, op. cit., hlm. 205

[137] Suharsimi Arikunto, op. cit. hlm. 36

[138] Ibid., hlm.. 206

[139] Ibid., hlm.39

[140] Ibid., hlm. 43

[141] Anas Sudijono, pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo

Persada, 2003), hlm. 193


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.